Anggaran Transfer ke Daerah Turun, Ekonom Soroti Resentralisasi
Anggaran Transfer ke Daerah turun dari Rp848,52 triliun pada 2025 menjadi Rp727,2 triliun pada 2026. Ekonom menyoroti risiko resentralisasi.
Sandyakala Ratu Malang/Harian Jogja-Hengki Irawan
Dinar tidak melanjutkan ucapannya. Ia kembali memandang Damar dengan tatapan aneh.
“Apa?”
“Siapa di antara kita yang dipilih Latri. Inilah yang penting.”
“Sudah, sudah Dinar, jangan berkelakar. Tugas kita belum selesai.”
Dinar mengangguk.
“Mungkin aku berkelakar. Tapi benar?”
Saat itu seorang pemuda berlari dengan napas terengah-engah. Dengan suara patah-patah ia menuturkan bahwa sepasukan prajurit dari Tembayat mendatangi dusun Anjali. Damar dan Dinar melompat lalu keduanya memberi aba-aba sehingga seluruh kawan yang sedang suntuk berlatih pedang segera kembali ke dusun. Persidangan dibuka, dan mereka mengatur kiat untuk menghadapi lawan.
“Menurut laporan Badrun, musuh berjumlah seratus prajurit bahkan mungkin lebih. Kita hanya empat puluh orang. Menjelang surup mereka akan tiba di mulut hutan. Seharusnya mereka tidak menyerang malam sebab medannya sulit. Mereka tentu membuat kemah untuk bermalam. Kita kepung mereka dan menyalakan api sambil melepas anak panah,” Damar memberi perintah.
Semua berpencar, dan mengumpulkan dahan, ranting serta daun kering. Laki perempuan, tua muda, sibuk bekerja sungguh-sungguh karena mereka paham pekerjaan ini demi kepentingan bersama. Bahkan Latri tidak mau ketinggalan. Bersama gadis-gadis sepantaran, mereka ikut pula memilah-milah dahan yang besar dan potongan ranting. Di tengah kesibukan itulah, Dinar datang menghampiri sambil tersenyum-senyum.
“Ehm,” Dinar berdehem, lalu dengan isyarat mata, pemuda itu “mengusir” tiga gadis lain, sehingga ia berhadapan (hanya) dengan Latri yang masih menggendong daun-daun kering. Tahu yang berdiri di depannya adalah Dinar, satu dari dua orang pahlawan penolongnya, Latri senyum dengan menundukkan mukanya yang kemerahan.
“Jeng Latri, engkau bersusah payah membantu kami di sini. Tahukah engkau untuk apa dahan, ranting dan daun kering kita kumpulkan?”
Latri mengangguk.
“Jadi, engkau tahu, bahan ini akan dipakai menjebak pasukan ayahmu sendiri?”
Latri mengangguk tegas.
“Engkau paham …”
“Aku dan iyung berada di sini dan sudah menjadi keluarga besar di kampung Anjali. Aku tidak peduli pasukan siapa yang akan kita hadapi. Yang aku tahu, rombongan prajurit itu musuh, tentu kedatangan mereka tanpa maksud baik. Jadi, kenapa aku enak-enakan berpangku tangan?”
Leher Dinar serasa tercekik. Ia terbengong memandangi Latri yang bersikap tenang.
“Jeng Latri, engkau …” Dinar gagap untuk meneruskan ucapannya.
“Aku mengapa?” Latri memandang dengan sepasang matanya yang jernih.
“Engkau sungguh gadis hebat,” Dinar akhirnya mampu juga memuji.
“Hebat bagaimana?”
“Pokoknya engkau seorang wanita pinilih yang benar-benar hebat. Aku semakin percaya” Kerongkongan Dinar lagi-lagi tercekat.
“Percaya apa?”
“Percaya kepada suara hatiku yang paling dalam,” Dinar memandang Latri dengan sayu.
“Ohh,” Latri berdesah lirih. “Bagaimana suara hatimu, kakang?”
Kakang! Berseri-seri wajah Dinar dipanggil kakang. Maka dengan suara tegas ia berkata.
“Jeng Latri. Maafkan jika aku lancang. Bisikan hatiku mengatakan bahwa engkaulah dara yang aku cintai sepenuh hati. Aku, Dinar Saka, siap berkorban apa saja untukmu!”
“Kakang, engkau ….?”
BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 037
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggaran Transfer ke Daerah turun dari Rp848,52 triliun pada 2025 menjadi Rp727,2 triliun pada 2026. Ekonom menyoroti risiko resentralisasi.
Sebanyak 283.270 kasus ISPA tercatat hingga 13 Oktober 2026. Simak lima kota dengan kualitas udara terburuk dan cara melindungi kesehatan.
Kebakaran Pegunungan Argopuro masih terpantau hingga Minggu pagi. Petugas memadamkan api di area terjangkau dan menghindari lokasi berisiko.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai mengembangkan konsep aglomerasi wisata Borobudur-Kopeng-Rawa Pening (Bokor) untuk memperluas daya tarik pariwisata
KH Syukron Ma’mun, pendiri Ponpes Daarul Rahman, wafat di Jakarta Selatan setelah menjalani perawatan akibat gangguan jantung.
Dua remaja tewas di jurang Plaosan-Poncol, Magetan. Polisi menduga kecelakaan tunggal setelah motor menabrak pohon jati.