Pelni Minta Semua Kapal Melintas di Laut Jawa Ikut Pantau Virgo Transport 8
Pelni meminta kapal yang melintas di Laut Jawa memantau Virgo Transport 8. Sinyal terakhir kapal tercatat pukul 22.33 WIB.
Sandyakala Ratu Malang/Harian Jogja-Hengki Irawan
Ki Demang langsung memerintahkan pengendang itu untuk melayani sebaik-baiknya. Penabuh bonang, gender, dan wiyaga lain beranjak turun ke pelataran, beberapa dari mereka bermuka murung tidak terpilih sebagai “mentor” sang pangeran.
Hari telah larut malam, wayah sepi bocah. Demang Suradipa masuk ke biliknya sesudah mengantar Ki Permana ke kamar tamu khusus. Pangeran Arumbinang masih di ruangan tengah bersama Ki Pardiman, dan terdengar kendang dipukul pelan ketika orang tua itu serius memberi petunjuk kepada Pangeran Arumbinang yang mendengarkan “pelajaran” setengah hati.
“Menurut hamba, ada beda belajar kendang secara kursus dengan alami. Kalau kursus, ada pakemnya, ada kuncinya. Hamba tidak memikirkan pakem. Itulah sebabnya karakter pemain kendang berbeda-beda. Di karawitan yang memegang kendali itu pengendang,” ujar Ki Pardiman bangga (pada zaman sekarang ia sekelas Dory Harsa, Cak Met, Nyi Epep atau Mutik Nida-pen)
“Sebaiknya kendang berapa set?” tanya Pangeran Arumbinang sambil lalu.
“Ada yang 7, ada yang 9 dengan tabla. Isinya 8 tak, 1 dem. Kendang bisa dipelajari siapapun. Yang tak dapat ditiru itu rasanya. Jadi, intinya pada rasa. Melakukan apapun, kuncinya pada rasa. Tanpa rasa akan cemplang,” jawab Ki Pardiman. “Rasa membuat eco!” sambungnya.
Rasa!
“Aku menginginkan Nimas Lembah juga pakai rasa, tentu eco,” bisik sang pangeran di hati. Ia senyum-senyum sendiri. Eco !
“Ki Pardiman berapa lama mengiringi kakang mbok Nimas Lembah?”
“Sejak roro Nimas masih belajar menari, hamba bahkan yang melatihnya,” ujar bangga Ki Pardiman. Pangeran Arumbinang mengangguk-angguk puas. Eco.
“Engkau sebenarnya sangat pantas memimpin para wiyaga di keraton Mataram. Engkau seniman hebat. Bagaimana menurutmu Ki Pardiman?”
Orang tua itu terhenyak dengan mata terbeliak. Memimpin karawitan di istana?! Eco.
“Apakah hamba patut, Gusti Pangeran? Hamba orang bodoh. Berasal dari desa pelosok, Srebegan selatan Kali Kebo, sama seperti roro Nimas,” pengendang itu menyembah, juga dengan “rasa” ke Pangeran Arumbinang.
“Jangan merendah, Ki. Manusia memang harus tawadlu, tapi selain itu juga dapat menilai kemampuan diri. Jika aku sendiri yang matur ke rama prabu, tentu beliau sarujuk,” kata tegas itu membuat tak kepalang girang Ki Pardiman. Siapa yang tidak merindukan kedudukan mulia?!
Demikianlah, dengan halus, dengan kamukten, Pangeran Arumbinang berhasil membujuk Ki Pardiman sebagai jembatan bertemu dengan Nimas Lembah. Tentu Ki Pardiman, dalam kapasitas sebagai “wot atau kreteg” menggunakan rasa, yakni rasa ingin mulia. Begitu pula, Pangeran Arumbinang dan Nimas Lembah Manah, bercengkerama di balik punggung Demang Suradipa, juga memakai rasa. Eco.
*******
DI TENGAH hutan Somawana yang masih perawan, dan tidak begitu jauh dengan hutan Anjali, tenggara Mojolaban, Damar bersama Dinar gigih melatih kawan-kawan mereka bermain pedang. Pada senja lembayung itu keduanya lesehan di bawah beringin tua besar, melepaskan lelah dan beberapa kali memandangi para pemuda yang sedang gladi itu dengan puas. Mereka rata-rata tangkas, dan cepat menerima pelajaran.
BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 035
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pelni meminta kapal yang melintas di Laut Jawa memantau Virgo Transport 8. Sinyal terakhir kapal tercatat pukul 22.33 WIB.
Monumen Paku Bumi mulai dibangun di Simpang Bayeman, Kota Magelang. Tingginya 15 meter dan ditargetkan rampung sebelum akhir 2026.
Sembilan bank sampah aktif tersebar di setiap RW Gunungketur, Pakualaman, untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
IHSG menguat 0,40 persen ke 6.462,43 saat pasar mencermati respons BI setelah The Fed menaikkan suku bunga 25 bps.
Polresta Sleman menyiapkan gelar perkara dugaan kekerasan seksual terhadap anak untuk menentukan peningkatan kasus ke tahap penyidikan.
Warga Kalibawang mendukung rencana RSUD di utara Kulonprogo dan siap melepas lahan dengan syarat UGR wajar serta tenaga kerja lokal dilibatkan.