Jokowi: Saya Yakin Elon Musk Buka Pabrik Kendaraan Listrik di Indonesia
Meski masih dalam proses negosiasi, Presiden Jokowi meyakini Bos Tesla, Elon Musk, pada akhirnya akan memutuskan menggelontorkan investasi di Indonesia.
Ilustrasi/Babypost
Harianjogja.com, Jakarta--Bermain adalah dunia anak. Tanpa memahami itu, hampir mustahil bagi orang tua bisa mendorong anak belajar dengan cara yang menyenangkan.
Psikolog anak Vera Itabiliana mengatakan, penting bagi anak untuk dilingkupi suasana yang nyaman dan menyenangkan saat sedang belajar. Mengapa demikian? Sebab jika anak belajar dalam kondisi yang terpaksa, maka emosi dan urat-urat otaknya berada pada ketegangan yang menyebabkan informasi tidak mudah diterima.
Vera juga mengatakan, adalah sesuatu yang wajar ketika anak sesekali malas atau tidak semangat belajar. Menurutnya ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu.
Pertama, gaya belajar yang tidak sesuai. Ada tiga tipe pembelajar yang harus diketahui oleh orang tua, yakni visual, audio dan kinestetik. Untuk menciptakan suasana yang nyaman, penting menyelaraskan antara cara belajar dan tipe pembelajar masing-masing anak. Misalnya, anak dengan tipe kinestetik butuh untuk diajak banyak bergerak, bukan hanya duduk dan membaca buku saja.
Kedua, waktu belajar yang tidak tepat. "Misalnya mamahnya bilang harus belajar jam 4 sore, padahal anak-anak jam 4 sore itu ada film kartun favorit dia, jadi tidak semangat belajarnya," kata Vera.
Ketiga, metode belajar yang kurang menyenangkan. Vera mengatakan, penting bagi orang tua untuk tidak mengulangi cara belajar yang diterapkan di sekolah, dengan hanya duduk, membaca dan menulis atau mendengarkan penjelasan semata. Orang tua harus berkreasi sedemikian rupa menciptakan cara belajar yang menyenangkan yang berbeda dari yang diterapkan di sekolah.
Dengan demikian, yang perlu dilakukan orang tua untuk menciptakan suasana yang nyaman bagi anak untuk belajar adalah, menyesuaikan cara belajar dengan tipe pembelajar, memperhatikan waktu yang tepat bagi anak untuk belajar dan memilih metode yang menyenangkan. Selain itu Vera juga menegaskan bahwa anak usia 7-12 tahun adala masa dimana pembelajaran yang dia terima harus konkrit. Artinya, tidak bisa hanya dengan teori dan penjelasan semata.
"Jadi harus ada praktiknya, unsur fun-nya, karena mereka masih dalam usia bermain," katanya.
Selain itu dia menambahkan, seringkali kegiatan belajar menjadi sesuatu yang memicu stress bagi anak karena orang tua berpedoman pada nilai sebagai hasil belajar. Vera mengatakan, orang tua juga harus memahami bahwa hasil berupa nilai bukanlah yang terpenting dalam proses belajar anak, melainkan proses belajar itu sendiri.
“Belajar saja yang maksimal, hasil itu urusan nanti, Toh usaha tidak akan mengkhianati hasil,” kata Vera.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Meski masih dalam proses negosiasi, Presiden Jokowi meyakini Bos Tesla, Elon Musk, pada akhirnya akan memutuskan menggelontorkan investasi di Indonesia.
Inter Milan gagal menang setelah ditahan Hellas Verona 1-1 pada pekan ke-37 Liga Italia 2025/2026 di Giuseppe Meazza.
Dinas Kesehatan Gunungkidul memastikan belum ada kasus hantavirus, namun warga diminta menjaga kebersihan dan waspada penularan.
DisperinkopUKM Kulonprogo mempercepat pendampingan sertifikasi halal gratis bagi UMKM sebelum kuota Sehati DIY ditutup akhir Mei 2026.
PBB mendesak investigasi independen atas dugaan penyiksaan dan kematian tahanan Palestina di pusat penahanan Israel.
Persib Bandung semakin dekat dengan gelar juara Super League 2025/2026 usai menang dramatis 2-1 atas PSM Makassar di Parepare.