Terdampak Corona, Waskita Karya Akan Jual Jalan Tol
PT Waskita Karya (Persero) Tbk. berencana menjual sebagian sahamnya di sejumlah proyek jalan tol untuk menyambung napas di tengah pandemi. Berapa potensi nilai transaksinya?
Ilustrasi kanker paru/Istimewa
Harianjogja.com, JAKARTA –Biaya pengobatan kanker di Indonesia sangat mahal.
Pengobatan penyakit kanker di Indonesia masih terbilang tinggi. Untuk satu kali terapi kemo misalnya, biasanya diperlukan biaya hingga Rp25 juta.
Internist Hermatology-Medical Oncology (consultant) MRCCC Siloam Hospitals Semanggi dr. Jeffy B. Tenggara mengatakan bahwa penyebab tingginya biaya pengobatan itu disebabkan oleh obatnya, bukan fasilitas ataupun metode pengobatan kanker.
Masalahnya, menurutnya penanganan kanker sudah memiliki guide line dan aturan yang baku dan berlaku di seluruh dunia. Artinya, pemberian obat untuk menangani suatu penyakit kanker tertentu tidak bisa disubstitusi oleh obat lainnya.
“Kemo ini sudah ada dalam guide line, dan itu berlaku di seluruh dunia sama. Jadi, let say kemo di Jakarta dengan di Surabaya, dengan Singapura, dengan di Australia, it will be the same,” tegasnya.
Contohnya adalah obat untuk kanker payudara yang bernama Trastuzumab pada obat Herceptin. Obat ini adalah obat wajib untuk beberapa jenis penyakit kanker payudara. Dia mengatakan, harga obat ini sangat mahal, sekitar Rp20-30 juta untuk satu kali kemo. “Sementara kemonya sendiri 17-18 kali,” tambahnya.
Kesulitan lainnya dari penanganan kanker di Indonesia adalah tidak tersedianya beberapa jenis obat yang diperlukan. Menurutnya, banyak obat-obatan yang banyak dipakai di luar negeri namun tidak boleh digunakan di Indonesia hanya karena masalah registrasi BPOM.
“Contohnya yang paling gampang adalah obat untuk kanker yang namanya multiple myeloma, nama obatnya Talidomid, obat ini di Indonesia sampai saat ini tidak diperbolehkan karena dia belum teregistrasi di BPOM. Selain itu, banyak lah obat-obatan yang seharusnya sudah ada tetapi nyangkut di bea cukai tidak boleh keluar.”
Namun dia mengatakan bahwa saat ini, sekitar 98% obat-obatan untuk penyembuhan kanker yang sangat dibutuhkan sudah ada di Indonesia. Hanya ada segelintir obat seperti Talidomid yang belum masuk ke Indonesia.
Dia berharap pemerintah bisa membuat kebijakan yang dapat menurunkan harga obat kanker di Indonesia. Dia juga berharap industri farmasi di Indonesia juga turut membantu dengan memproduksi obat-obat tersebut di dalam negeri.
“Harga obatnya diturunkan! Tergantung pemerintah itu bagaimana caranya, tetapi memang obat kanker ini amit-amit sekali harganya, kebangetan mahalnya. Yang penting tapi turunkan dulu harganya, supaya bisa menolong lebih banyak orang.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis Indonesia
PT Waskita Karya (Persero) Tbk. berencana menjual sebagian sahamnya di sejumlah proyek jalan tol untuk menyambung napas di tengah pandemi. Berapa potensi nilai transaksinya?
Sembilan provinsi memperbolehkan bayar pajak kendaraan 2026 tanpa KTP pemilik lama untuk STNK tahunan kendaraan bekas.
Dishub Bantul menertibkan PKU dengan tagihan listrik membengkak hingga Rp1 juta per bulan di ratusan titik penerangan kampung.
OJK mencatat pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,82% menjadi Rp716,40 triliun hingga Maret 2026.
Prabowo menyebut 1.061 Koperasi Merah Putih berhasil dioperasikan dalam tujuh bulan untuk memperkuat ekonomi desa.
BPBD Temanggung memetakan 12 kecamatan rawan kekeringan pada musim kemarau 2026 dan menyiapkan distribusi air bersih.