Ribuan Orang Ikuti Meditasi di UGM, Upaya Perkuat Kesehatan Mental

Sunartono
Sunartono Minggu, 11 Oktober 2026 06:27 WIB
Ribuan Orang Ikuti Meditasi di UGM, Upaya Perkuat Kesehatan Mental

Sebanyak 5.000 peserta mengikuti meditasi Tata Hati Indonesia yang digelar YCCK di UGM, secara langsung maupun daring, tanpa dipungut biaya. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Menjaga kesehatan mental di tengah ritme hidup yang kian cepat kini menjadi tantangan tersendiri bagi kalangan pelajar dan mahasiswa.

Yayasan Cahaya Cinta Kasih (YCCK) melalui kegiatan Tata Hati Indonesia mencoba membuka akses ruang pemulihan batin di Gedung Graha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, sebagai solusi mengatasi kesehatan mental melalui pendekatan meditatif.

Sedikitnya 5.000 orang mengikuti rangkaian meditasi baik secara luring maupun daring yang digelar di UGM, Sabtu (10/10/2026). Kota Jogja dipilih karena merupakan kota pelajar dengan ritme hidup yang kian cepat, tekanan itu dirasakan banyak warganya, terutama pelajar dan mahasiswa.

"Selain dari DIY, peserta datang dari kota lain di Indonesia. Sebanyak 3.000 peserta terdaftar hadir langsung, sementara 2.000 lainnya mengikuti secara daring" kata Bunda Arsaningsih yang juga pengembang meditasi Spirit of Universal Life (SOUL) Reflection ini.

Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya untuk memperkuat mental di era saat ini. Pasalnya banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam masalah mentah. Pencegahan menjadi hal penting dalam proses penanganan kesehatan mental ini.

"Diskusi tentang kesehatan mental sudah banyak dilakukan di berbagai tempat, tetapi masih sedikit yang menawarkan solusi untuk mengatasinya. Karena itu, kami hadirkan pendekatan meditatif sebagai tawaran solusi," ujarnya.

Ia menambahkan meditasi merupakan salah satu proses penting bagi seseorang ketika mencari solusi atas persoalan yang dialami orang tersebut. "Meditasi dipandang sebagai proses yang penting bagi semua orang, terutama ketika seseorang sedang mencari solusi atas persoalanannya," katanya.

Menurut dia, proses tersebut dikenal dengan istilah ngelerem ati atau menenangkan hati, dan mengoreksi batin, karena itu melalui meditasi SOUL (spirit of universal life), peserta diajak menggunakan energi atau daya batin untuk mengenali diri.

"Pengenalan diri itu dijalani melalui laku eling (sadar dan ingat), nerimo (menerima), dan waspodo (waspada). Dengan hati yang bersih, peserta diajak selalu eling dan melibatkan kekuatan Tuhan, apa pun agamanya. Proses ini disebut ngolah roso atau mengolah rasa," katanya.

Menurut dia, diskusi tentang kesehatan mental sudah banyak dilakukan di berbagai tempat, tetapi masih sedikit yang menawarkan solusi untuk mengatasinya, karena itu, YCCK menghadirkan pendekatan meditatif sebagai tawaran solusi.

"Melalui kegiatan meditasi ini, kami mencoba membuka akses ruang pemulihan, yang dapat diikuti masyarakat secara langsung maupun mengikuti secara daring melalui zoom, tanpa dipungut biaya," katanya.

Menurut dia, metode yang diajarkan dan dipandu secara langsung oleh guru meditasi berpengalaman tersebut tidak menuntut biaya atau perlengkapan khusus, sehingga bisa dilanjutkan peserta di rumah masing-masing oleh masing masing peserta.

"Kegiatan ini gratis karena diniatkan sebagai bentuk pelayanan. Setiap tahun, kami berupaya menggelar kegiatan berskala besar dengan jumlah peserta yang banyak agar dapat melayani masyarakat secara lebih luas," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online