Dian Sastro Ungkap Sosok Perempuan di Balik Karakter Kinan di Film Laut Bercerita

Sunartono
Sunartono Jum'at, 23 Oktober 2026 23:07 WIB
Dian Sastro Ungkap Sosok Perempuan di Balik Karakter Kinan di Film Laut Bercerita

Dian Sastrowardoyo mendalami karakter Kinan di Laut Bercerita melalui riset sosok aktivis perempuan era 1990-an dan kisah perjuangan keadilan. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Karakter Kinan dalam karya Laut Bercerita yang diperankan Dian Sastrowardoyo bukanlah representasi satu sosok perempuan saja. Tokoh tersebut merupakan gabungan dari sejumlah perempuan penggerak gerakan mahasiswa pada era 1990-an, yang berperan dalam perjuangan keadilan menjelang krisis 1998.

Dian mengungkapkan, proses mendalami Kinan membawanya melakukan riset terhadap sejumlah sosok perempuan yang terlibat dalam gerakan mahasiswa pada masa itu. Ia juga mencoba menulis berdasarkan kisah dan pengalaman para perempuan yang pernah menjadi penyusun strategi pergerakan.

"Saya memang mencoba untuk menulis dari beberapa sosok perempuan yang di tahun 90-an sempat menjadi juru strategis dalam gerakan mahasiswa saat itu. Hal tersebut berkaitan dengan narasi yang cukup kuat selama krisis 1998," ujar Dian Sastro, Jumat (23/10/2026).

Menurut Dian, berbagai karakter nyata tersebut kemudian dirangkum menjadi satu tokoh yang utuh. Kinan menjadi gambaran dari sejumlah perempuan penggerak yang memiliki peran penting dalam pergerakan mahasiswa.

"Ternyata ada beberapa karakter lain yang disatukan dalam bentuk karakter Kinan. Jadi Kinan itu adalah ejawantah dari beberapa perempuan, tokoh-tokoh penggerak," tambahnya.

Riset Dian Sastro tentang Aktivis Perempuan

Pendalaman karakter Kinan tidak hanya dilakukan melalui riset tertulis. Dian juga bertemu langsung dengan sejumlah narasumber, salah satunya Leyla Arief, untuk memahami pola pikir dan kehidupan para aktivis perempuan pada era tersebut.

Dari pertemuan itu, Dian memperoleh gambaran mengenai kehidupan para perempuan yang mencurahkan perhatian pada perjuangan keadilan. Fokus terhadap gerakan membuat urusan pribadi, termasuk asmara, bukan menjadi prioritas mereka.

"Perempuan-perempuan itu punya cara hidup dan cara pikir yang berbeda. Mereka bahkan tidak sempat memikirkan urusan asmara karena fokusnya benar-benar memperjuangkan keadilan," jelas Dian.

Nilai-nilai tersebut berusaha ia hadirkan melalui peran Kinan. Tokoh ini digambarkan memiliki keseriusan dalam mengorganisasi anggota, menyusun strategi persembunyian, serta memperjuangkan kesetaraan tanpa membedakan gender.

Dalam gerakan yang dijalankan Kinan, setiap anggota memiliki kedudukan yang sama. Mereka menghadapi kesulitan bersama dan saling bekerja sama untuk mengorganisasi pergerakan demi menyuarakan keadilan.

Laut Bercerita Tak Berfokus pada Visual Kekerasan

Penggarapan Laut Bercerita juga menempatkan persoalan etika sebagai pertimbangan penting, mengingat cerita yang diangkat berkaitan dengan kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia.

Sutradara film tersebut, Yosef Anggi Noen, menjelaskan pendekatan penceritaan tidak berfokus secara eksklusif pada penggambaran kekerasan. Perhatian justru diarahkan pada dampak traumatis setelah peristiwa terjadi serta penghormatan kepada para korban dan keluarga yang ditinggalkan.

"Detail dan apapun itu sebenarnya bukan menjadi faktor yang ingin saya tunjukkan ke film sebagai penghormatan saya kepada keluarga korban yang mungkin saja melihat nanti suatu saat, atau juga kepada survivors," ungkap Yosef Anggi Noen.

Dengan pendekatan tersebut, film ini menempatkan pengalaman korban dan orang-orang yang bertahan setelah peristiwa sebagai bagian penting dari cerita. Penghormatan kepada keluarga korban dan para penyintas menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan cara kisah tersebut ditampilkan.

Mengangkat Ketahanan dan Harapan Keluarga Korban

Selain pengalaman para aktivis, narasi film juga menyoroti resiliensi atau kemampuan untuk bertahan menghadapi keadaan sulit. Keteguhan merawat harapan dan keyakinan di tengah situasi yang tidak pasti menjadi salah satu pesan yang ingin disampaikan.

Semangat tersebut dikaitkan dengan perjalanan para aktivis senior yang terus menyuarakan keadilan lintas generasi, sejak era 1970-an hingga sekarang.

"Orang yang masih berharap bahwa kita ini masih punya harapan untuk dunia dan negeri kita yang lebih baik, ya kita terus berusaha," jelasnya.

Perjuangan melawan ketidakadilan dalam narasi tersebut tidak berhenti pada satu periode sejarah. Upaya itu dipandang sebagai proses berkelanjutan untuk memperjuangkan masa depan bangsa yang lebih baik.

Melalui medium audio-visual, Laut Bercerita diharapkan dapat menjangkau penonton dari berbagai latar belakang, mulai dari masyarakat di dalam negeri hingga diaspora di luar negeri. Film ini sekaligus membuka ruang untuk mengingat kembali pengalaman masa lalu dan merefleksikan maknanya bagi kehidupan saat ini.

Reza Rahadian Bicara Kompleksitas Karakter Biru Laut

Reza Rahadian, pemeran Biru Laut, menggambarkan tokoh yang dimainkannya sebagai karakter dengan lapisan kepribadian yang kompleks. Laut bukan sosok yang selalu menyampaikan pendapat secara lantang, melainkan pribadi kontemplatif yang menyimpan keresahan dan keyakinan melalui cara pandang serta tindakannya.

"Menurut saya, cukup sulit untuk bisa diterjemahkan kembali," katanya.

Film ini juga dinilai relevan bagi generasi muda karena semangat menyampaikan keresahan dan memperjuangkan perubahan tetap memiliki makna. Jika pada masa lalu ruang untuk menyampaikan pendapat lebih terbatas, saat ini anak muda memiliki beragam platform, termasuk media sosial, untuk mengutarakan gagasan.

"Film ini relevan bagi generasi muda karena semangat menyuarakan keresahan dan memperjuangkan perubahan tidak pernah kehilangan makna," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online