Platform 1Lisensi Buka Akses Legal Master Rekaman untuk Pelaku Usaha
Satu Lisensi hadir sebagai platform B2B yang menyediakan akses legal master rekaman untuk kebutuhan komersial dengan lebih dari 7,7 juta metadata lagu.
Film Memburu Pemangsa menghadirkan kisah empat jurnalis membongkar kasus pembunuhan anak dan pentingnya verifikasi berita. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA—Film horror crime action Memburu Pemangsa tidak hanya menghadirkan ketegangan melalui kasus pembunuhan anak dan sosok penjahat yang bekerja sama dengan iblis. Film karya sutradara Umay Shahab ini juga membawa penonton masuk ke dalam persoalan jurnalistik ketika empat jurnalis harus memburu fakta sekaligus berhadapan dengan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi.
Film tersebut diputar perdana di tujuh kota, salah satunya di CGV Sahid Jwalk, Sabtu (19/9/2026). Empat jurnalis dalam film diperankan Laura Basuki sebagai Agnes, Prilly Latuconsina sebagai Cia, Taskya Namya sebagai Brina, dan Yasamin Jasem sebagai Anya.
Ketegangan terasa sejak sejumlah adegan mulai membawa penonton masuk ke dalam situasi yang penuh teror. Beberapa momen mengejutkan membuat penonton spontan terkejut, sementara suara dan kemunculan adegan tak terduga membuat jantung berdegup lebih kencang.
Sesekali suasana bioskop terdengar riuh oleh reaksi penonton yang ikut terbawa ketegangan, terutama ketika karakter dalam film berada dalam situasi yang mengancam.
Namun, ketegangan tersebut tidak berlangsung sepanjang film. Di sela-sela adegan horor dan aksi yang membuat penonton menahan napas, muncul pula momen yang mengundang tersenyum dan tawa. Perpaduan antara rasa kaget, tegang, penasaran, hingga tertawa membuat pengalaman menonton terasa lebih berwarna.
Penonton tidak hanya diajak mengikuti perburuan fakta dan teror yang dihadapi para tokoh, tetapi juga menikmati keseruan cerita yang berganti dari suasana mencekam ke momen yang lebih ringan.
Pada awal cerita, keempat jurnalis tersebut menjalankan tugas sebagai pewarta yang berusaha memberikan informasi secara mendalam. Namun, pekerjaan jurnalistik itu kemudian membawa mereka masuk lebih jauh hingga menjadi bagian penting dalam pengungkapan kasus pembunuhan dengan korban anak-anak yang sedang ditangani kepolisian.
Ketika Informasi Harus Diverifikasi
Salah satu adegan yang menarik jika dilihat dari perspektif media adalah ketika film menyinggung pentingnya klarifikasi atau konfirmasi sebelum sebuah informasi diberitakan.
Dalam adegan tersebut, Cia memberitakan kasus kematian anak-anak yang diduga menjadi korban pembunuhan. Berita itu kemudian menimbulkan reaksi dari kepolisian karena dianggap tidak melalui proses verifikasi dan konfirmasi.
Keputusan Cia tersebut juga mendapat reaksi keras dari sesama jurnalis, khususnya Brina yang memiliki kakak seorang anggota polisi. Brina menyoroti pentingnya verifikasi dan klarifikasi agar informasi yang disampaikan kepada publik tetap berimbang.
Adegan tersebut terasa dekat dengan realitas kerja jurnalistik. Persoalannya bukan semata-mata bagaimana seorang jurnalis mendapatkan informasi, tetapi juga bagaimana informasi tersebut diuji sebelum menjadi konsumsi publik.
Kasus Kekerasan Anak
Di luar persoalan jurnalistik, Memburu Pemangsa menghadirkan banyak adegan yang dikemas dengan nuansa horor sehingga membuat jantung penonton berdegup kencang.
Isu yang dibawa film tersebut juga berkaitan dengan keresahan masyarakat mengenai kasus penculikan dan kekerasan terhadap anak yang masih terjadi hingga saat ini di Indonesia.
Sutradara Umay Shahab mengatakan kekerasan terhadap anak merupakan tindakan yang sangat rendah karena dilakukan terhadap korban yang tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk melawan.
“Orang yang melakukan tindakan kekerasan pada anak adalah serendah-rendahnya manusia, karena melakukan kekerasan terhadap anak, yang tidak memiliki kemampuan kekuatan untuk melawan,” ujar sutradara Umay Shahab.
Taskya Namya menilai gambaran empat jurnalis perempuan dalam film tersebut memiliki peran penting untuk membela dan menjaga anak-anak.
Isu mengenai anak-anak juga menjadi salah satu alasan Taskya bersedia bergabung dalam film tersebut. Ia membayangkan kondisi yang dialami anak-anak dalam cerita melalui pengalaman memiliki tiga keponakan.
“Aku punya tiga keponakan dan membayangkan kalau mereka ada di posisi terburuk seperti yang ada di film ini, aku juga akan melakukan apapun seperti Brina dan teman-teman jurnalisnya, mengejar dan tidak membiarkan pemangsa ini untuk lolos,” tambah Taskya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Satu Lisensi hadir sebagai platform B2B yang menyediakan akses legal master rekaman untuk kebutuhan komersial dengan lebih dari 7,7 juta metadata lagu.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 20 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap tiap stasiun dan tarif KRL Rp8.000.
MilkLife Soccer Challenge Yogyakarta 2026 diikuti 1.294 atlet. Satoru Mochizuki melihat peluang lahirnya bibit timnas dari turnamen usia dini.
Veda Ega Pratama gagal lolos ke Q2 dan akan start dari posisi ke-19 Moto3 Austria 2026. Brian Uriarte merebut pole position dari David Almansa.
Etomidate merupakan obat anestesi yang disalahgunakan dalam vape. Kenali fungsi medis, status hukumnya di Indonesia, dan risiko kesehatannya.
DPRD DIY menyepakati Raperda Perlindungan Konsumen. Transaksi digital, penguatan lembaga, dan mekanisme pengaduan menjadi perhatian.