Pikiran Negatif Sering Datang sebelum Tidur, Kenali Faktor yang Memengaruhinya

Jumali
Jumali Sabtu, 19 September 2026 20:27 WIB
Pikiran Negatif Sering Datang sebelum Tidur, Kenali Faktor yang Memengaruhinya

Foto ilustrasi. /Ist-Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Pernah merasa baik-baik saja sepanjang siang, tetapi justru dipenuhi kekhawatiran ketika malam tiba? Pesan yang belum dibalas mendadak terasa mengganggu. Percakapan canggung beberapa hari lalu kembali teringat, bahkan kejadian bertahun-tahun silam bisa muncul lagi dalam pikiran.

Padahal, belum tentu ada masalah baru yang sedang dihadapi. Suasana malam yang lebih sepi justru dapat membuat pikiran terasa semakin ramai.

Fenomena tersebut dibahas oleh Anna Katharina Schaffner, Ph.D., dalam artikel Why Our Brain Tells Us Horror Stories at Night yang diterbitkan Psychology Today. Schaffner merupakan pelatih burnout dan eksekutif serta penulis buku Exhausted: An A-Z for the Weary.

Menurut pembahasannya, kelelahan, perubahan ritme biologis, dan berkurangnya distraksi dapat membuat seseorang lebih mudah terjebak dalam pikiran negatif pada malam hari.

Kelelahan Memengaruhi Pengendalian Pikiran

Salah satu faktor yang berperan adalah kelelahan. Ketika tubuh mulai lelah, prefrontal cortex—bagian otak yang terlibat dalam pengendalian kognitif, pengaturan emosi, dan penilaian rasional—dapat bekerja kurang optimal.

Akibatnya, seseorang mungkin lebih sulit mengendalikan tafsir negatif terhadap suatu kejadian. Masalah kecil atau situasi yang belum pasti bisa terasa lebih serius, sementara kemungkinan penyelesaian justru lebih sulit terlihat.

Ritme sirkadian atau jam biologis tubuh juga ikut memengaruhi suasana hati. Pada malam hingga dini hari, suasana hati cenderung lebih rendah. Dalam kondisi tersebut, pikiran negatif dapat terasa lebih menonjol dibandingkan saat seseorang beraktivitas pada siang hari.

Hal yang sebelumnya dianggap bisa dipikirkan nanti pun dapat berubah menjadi kekhawatiran besar ketika malam semakin larut.

Saat Suasana Sepi, Pikiran Kembali Berputar

Pada siang hari, perhatian biasanya terbagi ke berbagai aktivitas, seperti pekerjaan, percakapan, notifikasi, perjalanan, dan kegiatan sehari-hari. Beragam rangsangan tersebut dapat mengalihkan perhatian dari kekhawatiran pribadi.

Ketika malam tiba, distraksi itu berkurang. Pikiran yang sebelumnya tertutup kesibukan pun berpeluang muncul kembali.

Seseorang mungkin mulai mengulang percakapan, mengingat kejadian lama, atau membayangkan berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi. Pola berpikir berulang seperti ini dikenal sebagai rumination atau ruminasi.

Ruminasi membuat seseorang terus memikirkan persoalan yang sama tanpa benar-benar bergerak menuju penyelesaian. Karena itu, masalah yang terasa membesar pada malam hari belum tentu berubah secara nyata. Bisa jadi, cara memandangnya sedang dipengaruhi kelelahan dan suasana saat itu.

Mengapa Masalah Terasa Lebih Ringan pada Pagi Hari?

Sebagian orang mungkin pernah terbangun pada pagi hari dan bertanya-tanya mengapa kekhawatiran semalam terasa begitu besar.

Setelah tidur, otak mendapat kesempatan untuk beristirahat. Pengendalian emosi dan kemampuan menilai situasi dapat kembali lebih seimbang. Dengan kondisi tersebut, persoalan yang terasa sangat mengkhawatirkan pada dini hari bisa terlihat lebih masuk akal ketika pagi tiba.

Fakta yang dihadapi mungkin tidak berubah, tetapi cara seseorang menafsirkannya dapat berbeda.

Jangan Langsung Memercayai Semua Skenario

Ketika pikiran mulai menyusun berbagai kemungkinan buruk pada malam hari, penting untuk menyadari bahwa pikiran tersebut belum tentu menggambarkan keadaan secara objektif.

Mengenali pola ruminasi dapat membantu seseorang mengambil jarak dari pikirannya. Alih-alih langsung menganggap setiap kekhawatiran sebagai kenyataan, seseorang dapat mencoba menyadari bahwa dirinya sedang mengulang pikiran atau membayangkan skenario terburuk.

Dengan memahami pengaruh kelelahan dan suasana malam, pikiran negatif dapat dihadapi secara lebih bijak. Tidak semua hal yang terasa mendesak pada pukul 02.00 harus langsung diselesaikan saat itu juga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online