Ghost in the Cell Disebut Mirip Isu Karhutla Kalimantan

Jumali
Jumali Selasa, 25 Agustus 2026 21:27 WIB
Ghost in the Cell Disebut Mirip Isu Karhutla Kalimantan

Salah satu adegan di Film Ghost in the Cell/ IMDB

Harianjogja.com, JOGJA—Film Ghost in the Cell karya sutradara dan penulis Joko Anwar kembali menjadi perhatian setelah sejumlah warganet mengaitkan cerita film tersebut dengan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan. Padahal, film bergenre horor komedi itu telah tayang di bioskop sejak 16 April 2026.

Perbincangan muncul ketika karhutla di Kalimantan meluas pada Agustus 2026. Kondisi tersebut kemudian membuat sejumlah warganet menghubungkan isu kerusakan hutan dalam film Ghost in the Cell dengan kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan.

Kaitan itu bukan karena film tersebut baru dirilis ketika karhutla terjadi, melainkan karena terdapat kemiripan isu mengenai kerusakan lingkungan dan Kalimantan yang muncul dalam cerita. Percakapan mengenai hal itu kemudian ramai di media sosial X pada 24 Agustus 2026.

Karhutla Kalimantan Capai 750 Hotspot

Perhatian terhadap film Ghost in the Cell muncul di tengah perkembangan karhutla di Kalimantan yang mencapai puncaknya pada Agustus 2026. Minimnya curah hujan serta kondisi lahan yang kering membuat kebakaran berlangsung cukup lama.

Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Kehutanan, pemantauan Satelit NASA-MODIS/Terra-Aqua menunjukkan perkembangan hotspot yang dinamis selama 17–19 Agustus 2026. Data yang digunakan merupakan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence.

Pada periode tersebut, terdapat 367 hotspot berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat. Sementara itu, Kalimantan Tengah mencatat 343 hotspot dan Kalimantan Selatan sebanyak 40 hotspot.

Jika digabungkan, tiga provinsi itu mencatat 750 hotspot berkepercayaan tinggi selama periode 17–19 Agustus 2026. Data tersebut menjadi bagian dari perkembangan karhutla di Kalimantan yang kemudian turut mendapat perhatian masyarakat di luar wilayah tersebut.

Warganet Hubungkan Karhutla dengan Film Joko Anwar

Di tengah perhatian terhadap karhutla, sejumlah warganet melihat adanya kemiripan antara persoalan lingkungan yang menjadi bagian cerita Ghost in the Cell dengan kondisi yang sedang terjadi di Kalimantan. Percakapan tersebut salah satunya dimulai dari unggahan akun X @asministratur pada 24 Agustus 2026.

“Guys. Plis. Siapapun, atau Joko Anwar. Jadi barusan nonton film ghost in the cell, lha kok mikir... Kalimantan? Eksploitasi hutan? Koruptor?!” tulis akun X @asministratur pada 24 Agustus 2026.

Unggahan itu juga menyinggung waktu penayangan film di Netflix yang dianggap bertepatan dengan ramainya pemberitaan mengenai kondisi di Kalimantan.

“Ini sebenernya nayangin di netflix kok pas banget, apa cuman kebetulan??” lanjutnya.

Sejumlah warganet kemudian memberikan tanggapan yang sependapat dengan unggahan tersebut. Mereka melihat hubungan antara cerita film, isu kerusakan lingkungan, serta kejadian karhutla yang sedang menjadi perhatian.

“iyaa lagi nyambung banget,” tulis seorang warganet.

“Setannya dr kalimantan krn dendam.” tambah warganet lain.

“gue barusan banget nonton, timing nya mantap,” tulis warganet lainnya.

Perbincangan itu pada dasarnya merupakan respons warganet terhadap kemiripan isu yang mereka lihat antara cerita film dan kondisi aktual. Film Ghost in the Cell sendiri sudah lebih dulu diputar di bioskop sejak 16 April 2026.

Cerita Ghost in the Cell Berlatar Penjara

Dalam film Ghost in the Cell, cerita berpusat pada sebuah penjara yang dikenal brutal dan penuh sesak. Kehidupan para narapidana di dalamnya diwarnai penindasan oleh pejabat lapas yang korup, konflik fisik, serta permusuhan antargeng.

Dua kubu besar yang bertikai di dalam penjara masing-masing dipimpin Anggoro yang diperankan Abimana Aryasatya dan Bimo yang diperankan Morgan Oey. Perseteruan yang sudah berlangsung kemudian semakin mencekam setelah seorang tahanan baru masuk ke penjara tersebut.

Tahanan baru itu bernama Dimas dan diperankan Endy Arfian. Dimas merupakan seorang jurnalis yang dijebloskan ke penjara tersebut.

Tidak lama setelah kedatangannya, para narapidana dan penghuni penjara mulai tewas satu per satu. Kematian itu berlangsung secara mengenaskan dan misterius sehingga memunculkan pertanyaan mengenai sosok yang berada di balik rangkaian pembunuhan tersebut.

Penyelidikan kemudian mengungkap bahwa pembunuhan dilakukan oleh kekuatan gaib atau hantu yang tidak kasatmata. Entitas tersebut memiliki sasaran khusus, yakni orang-orang yang memancarkan aura atau energi paling negatif.

Hantu dalam Film Berasal dari Kalimantan

Hubungan antara Ghost in the Cell dan isu Kalimantan semakin mudah dipahami melalui latar belakang entitas gaib dalam cerita. Hantu dalam film tersebut disebut berasal dari Kalimantan dan memiliki motif yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan.

Entitas itu digambarkan marah setelah tempat tinggalnya mengalami kerusakan akibat deforestasi. Kehilangan tempat tinggal kemudian menjadi bagian dari alasan yang mendorong entitas tersebut datang ke penjara.

Di dalam cerita, kedatangan entitas gaib itu bertujuan mencari orang yang dianggap menjadi dalang di balik kerusakan lingkungan yang membuatnya kehilangan tempat tinggal. Perburuan tersebut kemudian berkembang menjadi misi balas dendam berdarah di dalam penjara.

Kemiripan unsur Kalimantan, eksploitasi hutan, dan kerusakan lingkungan dalam cerita itulah yang kemudian menjadi perhatian warganet ketika karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan sedang menjadi sorotan. Sementara di luar cerita film, data hotspot berkepercayaan tinggi pada 17–19 Agustus 2026 mencatat 750 titik di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.


 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online