Abu Vulkanis Mengancam Penderita Asma dan PPOK, Ini Risikonya

Newswire
Newswire Selasa, 08 September 2026 10:17 WIB
Abu Vulkanis Mengancam Penderita Asma dan PPOK, Ini Risikonya

Warga mengenakan masker di Tempat Pelelangan Ikan Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Minggu (6/9/2026). Pembagian masker secara swadaya tersebut bertujuan untuk melindungi pernapasan warga dan nelayan setempat dari paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau sekaligus mengantisipasi risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Antara/Muhammad Bagus Khoirunas/wsj.\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Paparan abu vulkanis akibat erupsi gunung api dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Risiko tersebut perlu diwaspadai seiring erupsi sejumlah gunung api di Indonesia yang terjadi dalam waktu berdekatan. Gunung yang mengalami erupsi antara lain Gunung Anak Krakatau, Gunung Ibu, Gunung Semeru, Gunung Lewotobi Laki-laki, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Sinabung.

Guru Besar Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. Faisal Yunus, Ph.D., Sp.P(K) mengatakan abu vulkanis lebih berbahaya bagi orang yang sebelumnya sudah memiliki gangguan paru.

"Berbahayanya apa? Sering timbul serangan-serangan nafas, yang disebut namanya eksaserbasi. Jadi pada debu vulkanik ini yang ditakutkan begitu, orang-orang asma, PPOK, itu timbul eksaserbasi dengan segala konsekuensinya," ungkap Faisal seperti dilansir Antara, Senin (7/9/2026).

Ukuran Partikel Abu Vulkanis Jadi Perhatian

Menurut Faisal, risiko gangguan pernapasan akibat abu vulkanik berkaitan dengan ukuran partikel yang terkandung di dalamnya.

Partikel berukuran 5–10 mikron dapat mencapai saluran napas bagian atas. Sementara partikel dengan ukuran 3–5 mikron dapat masuk hingga saluran napas bagian tengah.

Adapun partikel yang lebih halus, yakni berukuran 1–3 mikron, dapat membahayakan kesehatan, terutama bagi penderita asma, PPOK, dan tuberkulosis.

Bahkan, debu respirabel dengan ukuran lebih kecil dapat mencapai alveolus. Bagian paru-paru tersebut merupakan tempat terjadinya pertukaran gas.

Masuknya partikel ke alveolus dapat mengganggu distribusi oksigen sekaligus aktivitas pernapasan.

"Sehingga dengan sendirinya akan mengganggu orang untuk bernapas, melakukan aktivitas. Itu kalau orang normal. Bayangkan kalau orangnya enggak normal, sudah ada kelainan paru," ujar Faisal.

Ia kembali mengingatkan bahwa penderita asma dan PPOK menghadapi risiko serangan akibat paparan abu vulkanik.

Penderita Penyakit Pernapasan Disarankan Kurangi Aktivitas

Untuk menekan dampak paparan abu vulkanik terhadap kesehatan, Prof. Faisal menyarankan penderita penyakit pernapasan mengurangi aktivitas di luar rumah.

Jika harus beraktivitas di luar rumah, penderita penyakit pernapasan disarankan menggunakan masker N95.

Selain perlindungan pernapasan, Faisal juga menyarankan penderita penyakit pernapasan menyiapkan stok obat yang dapat digunakan sewaktu-waktu ketika muncul gejala gangguan pernapasan.

"Begitu ada gejala, cepat dipakai obatnya, baik untuk asma maupun PPOK, untuk mengurangi kemungkinan timbulnya serangan," katanya.

"Yang kita takutkan itu serangan. Kadang-kadang itu bisa berakibat fatal serangan itu," ia menambahkan.

Abu Anak Krakatau Terdeteksi Menyebar

Sejumlah gunung berapi di Indonesia mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan, yakni Gunung Anak Krakatau, Gunung Ibu, Gunung Semeru, Gunung Lewotobi Laki-laki, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Sinabung.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang dibagikan melalui akun media sosial Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda pada 7 September 2026 pukul 15.00 WIB terdeteksi menyebar ke arah Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.

Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi masyarakat, khususnya mereka yang memiliki gangguan pernapasan, karena paparan abu vulkanik dapat meningkatkan risiko munculnya serangan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online