Tren Baju Sekali Pakai di China Tuai Sorotan Lingkungan

Jumali
Jumali Senin, 07 September 2026 21:37 WIB
Tren Baju Sekali Pakai di China Tuai Sorotan Lingkungan

Ilustrasi baju bekas - StockCake

Harianjogja.com, JOGJA—Tren baju sekali pakai untuk kebutuhan liburan tengah menarik perhatian pengguna internet di China. Pakaian berharga murah yang sengaja dibeli untuk dikenakan sekali atau beberapa kali saat bepergian itu populer karena dianggap praktis dan ekonomis, tetapi sekaligus memicu kekhawatiran terkait peningkatan sampah tekstil.

Fenomena tersebut berkembang di media sosial sepanjang musim panas 2026. Istilah “pakaian sekali pakai” bahkan menjadi perbincangan luas di salah satu platform media sosial China.

Laporan South China Morning Post (SCMP) yang terbit 3 September 2026 menyebut tagar terkait pakaian sekali pakai telah mengumpulkan sekitar 6,8 juta penayangan dan 135.000 diskusi di salah satu platform.

Bagi sebagian pengguna, konsep tersebut menawarkan solusi sederhana untuk kebutuhan pakaian selama perjalanan. Mereka dapat mengenakan busana berbeda untuk berbagai lokasi wisata tanpa harus membawa pakaian dalam jumlah banyak untuk kemudian disimpan setelah perjalanan.

Salah satu pengguna media sosial menceritakan dirinya membeli lima set pakaian untuk perjalanan selama tujuh hari. Total uang yang dikeluarkan tidak lebih dari 200 yuan.

Pakaian tersebut sejak awal memang tidak direncanakan untuk disimpan setelah liburan selesai.

Pakaian dibuat untuk kebutuhan foto

Popularitas tren ini tidak terlepas dari budaya berbagi foto perjalanan di media sosial. Busana yang masuk kategori “pakaian sekali pakai” umumnya memiliki desain mencolok dan dianggap kurang sesuai untuk digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

Jenisnya antara lain rok panjang berwarna cerah, jubah, hingga jaket luar ruangan. Pakaian tersebut dipilih karena dianggap mampu memberikan tampilan berbeda ketika digunakan untuk berfoto di destinasi wisata.

Seorang pemilik toko pakaian wanita yang dikutip media China, City Express, mengatakan tokonya menyediakan beragam model yang disesuaikan dengan lokasi dan kesempatan tertentu.

Untuk perjalanan ke kawasan pantai pada Mei, misalnya, toko tersebut menyediakan rok yang dirancang agar menarik ketika difoto. Ada pula hanfu untuk digunakan selama Festival Perahu Naga serta rok dengan desain khas bagi wisatawan yang bepergian ke Xinjiang.

Bisnis tersebut juga menyasar konsumen muda. Pemilik toko mengatakan sekitar 15.000 barang terjual setiap bulan, dengan mayoritas pembelinya berusia 18 hingga 30 tahun.

Harga produk yang paling banyak diminati berada pada kisaran 10 yuan hingga 50 yuan. Nilai tersebut relatif murah jika dibandingkan dengan harga pakaian pada umumnya dan kurang lebih setara dengan biaya makan hemat.

Model bisnis itu menunjukkan bagaimana kebutuhan membuat konten perjalanan ikut memengaruhi keputusan konsumen dalam memilih pakaian. Busana yang sebelumnya hanya dipakai untuk acara tertentu kini dapat dibeli khusus untuk satu perjalanan dan kemudian tidak lagi digunakan.

Tidak semua pakaian berakhir di tempat sampah. Sebagian konsumen menjual kembali pakaian tersebut melalui platform belanja daring setelah perjalanan selesai.

Namun, ada pula pengguna yang memilih langsung membuangnya karena sejak awal tidak berniat menggunakan pakaian tersebut kembali.

Murah bagi konsumen, mahal bagi lingkungan

Perdebatan muncul karena siklus penggunaan pakaian yang sangat singkat tersebut menambah persoalan limbah tekstil.

Seorang pengguna media sosial mengkritik kebiasaan tersebut dengan menyoroti bahwa harga pakaian yang murah tidak menghapus proses panjang yang diperlukan untuk membuat sebuah produk.

"Pakaian sekali pakai memang murah, tapi tetap saja harus melalui semua tahapan produksi, transportasi, dan penjualan. Semakin banyak yang dibuang, semakin banyak sampah yang dihasilkan," tutur seorang pengguna.

Data Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menunjukkan skala persoalan limbah tekstil memang sangat besar. Secara global, sekitar 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan setiap tahun. UNEP juga mencatat produksi tekstil berlipat ganda antara 2000 dan 2015, sedangkan masa penggunaan pakaian turun 36 persen.

Masalahnya bukan hanya jumlah pakaian yang dibuang. UNEP mencatat hanya 8 persen serat tekstil pada 2023 yang berasal dari sumber daur ulang. Sementara itu, pakaian dan tekstil menyumbang sekitar 11 persen dari limbah plastik.

Kondisi tersebut membuat tren pakaian sekali pakai mendapat sorotan lebih besar. Produk yang sengaja dirancang untuk penggunaan sangat singkat berpotensi memperpendek kembali masa pakai pakaian dalam pola konsumsi yang sudah menghadapi persoalan limbah.

Kekhawatiran terhadap kualitas dan kebersihan

Selain lingkungan, perhatian juga diarahkan pada aspek kualitas dan kebersihan pakaian berharga sangat murah.

Seorang profesor sekaligus direktur Pusat Penelitian Industri Budaya di Universitas Sichuan mengatakan pakaian sekali pakai yang kemudian dijual melalui situs barang bekas juga dapat menimbulkan persoalan kebersihan.

Kekhawatiran tersebut menjadi relevan ketika pakaian yang awalnya dibeli untuk sekali pakai kemudian berpindah tangan melalui pasar barang bekas. Kondisi dan riwayat penggunaan pakaian menjadi faktor yang perlu diperhatikan pembeli berikutnya.

Di sisi lain, tren tersebut memperlihatkan perubahan perilaku konsumsi di kalangan wisatawan muda. Pakaian tidak lagi semata-mata dipandang sebagai barang untuk digunakan dalam jangka panjang, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman visual saat bepergian.

Kebutuhan menghasilkan foto yang berbeda di setiap destinasi membuat pakaian murah dan mudah dibuang menjadi pilihan bagi sebagian konsumen.

Fenomena ini kemudian memunculkan pertanyaan lebih luas mengenai hubungan antara tren media sosial, konsumsi fesyen murah, dan jumlah limbah yang dihasilkan.

Seorang pengamat di media sosial bahkan mempertanyakan alasan wisatawan harus terlalu berfokus pada pakaian ketika berada di sebuah destinasi.

"Yang penting itu bagus saat difoto. Baju sekali pakai itu hanya ada untuk difoto. Kenapa orang-orang tidak bisa hanya menikmati pemandangan selama perjalanan?" tulis seorang pengamat di media sosial.

Bagi industri fesyen, meningkatnya permintaan tersebut tentu membuka pasar baru. Namun, dari perspektif lingkungan, semakin pendek masa penggunaan sebuah pakaian, semakin besar tantangan untuk memastikan produk tersebut tidak berakhir sebagai limbah setelah hanya digunakan dalam waktu singkat.

UNEP sendiri mendorong pendekatan ekonomi sirkular yang menekankan produksi berkelanjutan, penggunaan kembali, perbaikan, dan pengurangan limbah.

Dengan demikian, tren baju sekali pakai di China tidak hanya menjadi fenomena gaya berpakaian saat liburan. Popularitasnya juga menjadi gambaran bagaimana budaya foto di media sosial dan harga fesyen yang sangat murah dapat membentuk pola konsumsi baru sekaligus menambah perhatian terhadap persoalan limbah tekstil global.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online