Kulkas Manusia Rp167 Juta Jadi Andalan Pekerja Jepang Lawan Gelombang Panas

Jumali
Jumali Selasa, 25 Agustus 2026 22:37 WIB
Kulkas Manusia Rp167 Juta Jadi Andalan Pekerja Jepang Lawan Gelombang Panas

Ilustrasi cuaca panas/Magnific

Harianjogja.com, JOGJA— Gelombang panas ekstrem yang melanda Jepang mendorong perusahaan mencari cara baru untuk menjaga pekerja tetap aman saat beraktivitas di tengah suhu tinggi. Salah satu solusi yang mulai digunakan adalah Do Hiemon Box, perangkat berbentuk bilik yang dapat mendinginkan tubuh dalam waktu singkat.

Perangkat yang dijuluki sebagai "kulkas manusia" itu bekerja dengan menyemburkan udara dingin ke tubuh pengguna. Alat seukuran bilik telepon tersebut dirancang agar pekerja dapat memulihkan kondisi tubuh setelah menjalankan aktivitas di tengah cuaca panas.

Do Hiemon Box baru diluncurkan pada 2026. Namun, produk ini langsung mendapat perhatian dari sejumlah sektor usaha di Jepang yang menghadapi tantangan akibat suhu ekstrem.

Kulkas Manusia Dibanderol Rp167 Juta

Distributor perlengkapan industri Trusco Nakayama menyebut telah menjual lebih dari 300 unit Do Hiemon Box sejak April 2026. Harga satu unit perangkat tersebut mencapai 1,5 juta yen atau sekitar Rp167 juta.

Sejumlah pembeli berasal dari lokasi konstruksi, pabrik, dan gudang. Perangkat itu juga dinilai memiliki potensi untuk digunakan di lapangan golf hingga stadion baseball.

Salah satu pengguna adalah pekerja gudang Isao Tabuchi. Ia mengaku sempat mengalami pusing dan merasa tidak enak badan setelah bersepeda menuju tempat kerja di tengah suhu panas.

Tabuchi kemudian mencoba Do Hiemon Box yang dibeli oleh perusahaannya. Menurut dia, perangkat itu membuat kondisi tubuhnya cepat membaik.

"Saya benar-benar bisa pulih berkat alat itu. Begitu menggunakannya, rasanya sangat, sangat dingin," kata Tabuchi, dikutip dari AFP, Selasa (25/8).

Jepang Hadapi Panas yang Makin Ekstrem

Penggunaan perangkat pendingin tubuh tersebut muncul ketika Jepang menghadapi musim panas dengan suhu yang semakin tinggi. Para ilmuwan menyebut perubahan iklim akibat aktivitas manusia meningkatkan frekuensi dan intensitas panas ekstrem di berbagai wilayah dunia.

Jepang bahkan mencatat musim panas terpanas sepanjang sejarah pencatatan pada 2025. Kondisi tersebut membuat perlindungan terhadap pekerja menjadi perhatian penting bagi perusahaan.

Badan cuaca Jepang tahun ini mulai menggunakan istilah "kokushobi", yang menggambarkan hari dengan kondisi panas yang sangat ekstrem ketika suhu mencapai 40 derajat Celsius. Masyarakat diminta memperlakukan panas ekstrem dengan kewaspadaan seperti menghadapi bencana alam.

Dampaknya juga terlihat dari jumlah korban dan orang yang membutuhkan pertolongan medis. Di Tokyo, hampir 120 kematian terkait panas tercatat dalam periode satu bulan hingga pertengahan Agustus.

Sementara itu, hampir 63 ribu orang di seluruh Jepang membutuhkan penanganan darurat selama musim panas tahun ini.

Perusahaan Tingkatkan Perlindungan Pekerja

Cuaca panas ekstrem tidak hanya berdampak terhadap kesehatan pekerja, tetapi juga aktivitas perusahaan. Survei Teikoku Databank pada Juli menunjukkan 50 persen perusahaan mengaku operasional mereka terganggu akibat panas ekstrem.

Sebanyak hampir 88 persen perusahaan juga menyatakan telah meningkatkan upaya untuk membantu pekerja menghadapi kondisi cuaca panas.

Sejak 2025, perusahaan di Jepang menghadapi kewajiban hukum yang lebih ketat dalam melindungi pekerja yang menjalankan aktivitas di tengah suhu tinggi. Ketentuan itu mendorong perusahaan menyediakan berbagai fasilitas untuk mengurangi risiko akibat panas.

Di lokasi konstruksi, misalnya, pekerja dapat memperoleh pakaian khusus seperti jaket dengan kipas bawaan. Perusahaan juga diwajibkan menyediakan ruang istirahat berpendingin udara dan kanopi sebagai tempat berteduh.

Pemerintah Tokyo bahkan mulai memperbolehkan pegawai birokrasi datang ke kantor menggunakan celana pendek pada tahun ini. Kebijakan itu menjadi perubahan menarik di Jepang yang selama ini dikenal memiliki budaya berpakaian kerja formal.

Bisa Dipakai 20 Menit Sebelum Mati Otomatis

Produsen Do Hiemon Box menyebut perangkat tersebut dapat digunakan dengan mencolokkannya ke sumber listrik biasa. Unitnya juga dilengkapi roda sehingga relatif mudah dipindahkan sesuai kebutuhan di area kerja.

Perangkat itu diklaim tidak membutuhkan konsumsi listrik yang besar. Untuk mencegah penggunaan secara berlebihan, sistem akan mematikan perangkat secara otomatis setelah digunakan selama 20 menit.

Yutaka Kono dari Konoe, perusahaan tempat Tabuchi bekerja, mengatakan investasi untuk menghadapi suhu panas kini menjadi kebutuhan penting. Menurutnya, upaya tersebut tidak hanya berkaitan dengan keselamatan, tetapi juga membantu perusahaan mempertahankan tenaga kerja dan menarik pekerja baru.

Perusahaan sebenarnya telah menyediakan pendingin udara dan spot cooler. Namun, sejumlah area kerja tetap terbuka karena harus memungkinkan truk dan alat berat keluar masuk.

"Saya benar-benar terkejut dengan konsep baru memasukkan orang ke semacam kulkas," kata Kono.

Menurut Kono, keunggulan utama Do Hiemon Box terletak pada kemampuannya mendinginkan tubuh pekerja dengan cepat setelah mereka menyelesaikan aktivitas berat.

Pekerja lainnya, Taichi Konishi, mengaku menggunakan perangkat tersebut sekitar tiga kali dalam sehari. Ia biasanya masuk ke dalam bilik setelah memindahkan kotak berisi peralatan logam dan suku cadang.

"Rasanya benar-benar enak," kata Konishi.

"Saya baru berada di dalam sekitar dua menit, tapi itu sudah cukup membuat semua keringat saya mengering," imbuhnya.

Kehadiran Do Hiemon Box menunjukkan bagaimana kondisi panas ekstrem mulai mendorong perubahan dalam cara perusahaan Jepang melindungi pekerja. Perangkat pendingin tubuh menjadi salah satu pilihan ketika aktivitas kerja harus tetap berlangsung di tengah suhu yang semakin tinggi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online