PSEL Bogor Raya Target 30 MW, Ini Faktor Penentunya
PSEL Bogor Raya menargetkan listrik 20 MW–30 MW dari 1.500 ton sampah per hari, sekaligus menangani timbunan lama TPAS Galuga.
Indonesian Copenhagen Festival/Antara
Harianjogja.com, JAKARTA—Kopenhagen di Denmark dinobatkan sebagai kota paling layak huni di dunia pada 2026 berdasarkan Indeks Kelayakan Hidup Global yang dirilis The Economist Intelligence Unit (EIU). Kota-kota di Eropa dan Australia masih mendominasi daftar peringkat teratas berkat kualitas layanan kesehatan, transportasi publik, infrastruktur, dan tingkat keamanan yang tinggi.
Di sisi lain, ketimpangan kualitas hidup antarwilayah dunia masih menjadi tantangan. Konflik berkepanjangan, ketidakstabilan politik, hingga keterbatasan layanan publik membuat sejumlah kota di Timur Tengah, Afrika, dan sebagian Asia masih berada di posisi terbawah dalam indeks tersebut.
Swiss menjadi salah satu negara dengan capaian terbaik pada tahun ini melalui Zurich dan Jenewa yang berhasil masuk dalam enam besar kota paling layak huni di dunia. Australia juga mempertahankan posisinya melalui Melbourne, Sydney, dan Adelaide yang kembali menembus 10 besar dunia.
Sementara itu, Jepang menunjukkan performa yang tak kalah impresif. Osaka dan Tokyo masing-masing memperoleh skor 96 yang mencerminkan tingginya kualitas layanan publik, mulai dari transportasi massal, fasilitas kesehatan, pendidikan, hingga infrastruktur perkotaan yang mendukung aktivitas masyarakat.
Vancouver menjadi satu-satunya kota di Amerika Utara yang berhasil masuk ke dalam 10 besar. Capaian tersebut memperkuat posisi Kanada sebagai salah satu negara dengan kualitas hidup perkotaan terbaik di dunia.
Secara umum, kota-kota yang berada di posisi teratas memiliki karakteristik yang hampir serupa. Stabilitas sosial dan ekonomi, sistem kesehatan yang baik, transportasi publik yang efisien, infrastruktur modern, serta tingkat keamanan yang tinggi menjadi faktor utama yang mendukung kenyamanan hidup masyarakat.
Berikut daftar 10 kota paling layak huni di dunia pada 2026 berdasarkan Indeks Kelayakan Hidup Global EIU:
Kopenhagen, Denmark (98)
Wina, Austria (97)
Melbourne, Australia (97)
Sydney, Australia (97)
Zurich, Swiss (96)
Jenewa, Swiss (96)
Osaka, Jepang (96)
Adelaide, Australia (96)
Vancouver, Kanada (96)
Tokyo, Jepang (96)
Dominasi Eropa dan Australia dalam daftar tersebut menunjukkan pentingnya investasi jangka panjang dalam layanan publik dan pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Kota-kota tersebut tidak hanya menawarkan kenyamanan hidup, tetapi juga mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Sebaliknya, sejumlah kota dengan peringkat terbawah masih menghadapi tantangan struktural yang cukup berat. Konflik bersenjata, tekanan ekonomi, dan ketidakstabilan politik menjadi faktor utama yang menghambat peningkatan kualitas hidup penduduknya.
Damaskus di Suriah kembali menempati posisi terakhir dalam indeks dengan skor 32. Kota tersebut diikuti Tripoli di Libya dan Dhaka di Bangladesh yang masih menghadapi berbagai persoalan keamanan, ekonomi, serta pelayanan publik.
Selain itu, Kyiv di Ukraina, Teheran di Iran, Karachi di Pakistan, dan Lagos di Nigeria juga masuk dalam kelompok kota dengan tingkat kelayakan hidup terendah pada 2026.
Kondisi keamanan yang belum sepenuhnya pulih, keterbatasan infrastruktur, dan tekanan ekonomi masih menjadi tantangan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat di kota-kota tersebut.
Berikut daftar 10 kota dengan tingkat kelayakan hidup terendah di dunia pada 2026 berdasarkan Indeks Kelayakan Hidup Global EIU:
Teheran, Iran (45)
Harare, Zimbabwe (45)
Kyiv, Ukraina (45)
Port Moresby, Papua Nugini (44)
Lagos, Nigeria (44)
Aljir, Aljazair (43)
Karachi, Pakistan (43)
Dhaka, Bangladesh (42)
Tripoli, Libya (41)
Damaskus, Suriah (32)
Peringkat tersebut menunjukkan bahwa kualitas hidup masyarakat sangat dipengaruhi oleh stabilitas keamanan, kualitas layanan publik, dan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan. Ketika berbagai aspek tersebut dapat dipenuhi secara merata, kota tidak hanya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mampu menghadirkan lingkungan yang aman dan nyaman untuk ditinggali masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
PSEL Bogor Raya menargetkan listrik 20 MW–30 MW dari 1.500 ton sampah per hari, sekaligus menangani timbunan lama TPAS Galuga.
Kebakaran Pegunungan Argopuro masih terpantau hingga Minggu pagi. Petugas memadamkan api di area terjangkau dan menghindari lokasi berisiko.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai mengembangkan konsep aglomerasi wisata Borobudur-Kopeng-Rawa Pening (Bokor) untuk memperluas daya tarik pariwisata
KH Syukron Ma’mun, pendiri Ponpes Daarul Rahman, wafat di Jakarta Selatan setelah menjalani perawatan akibat gangguan jantung.
Dua remaja tewas di jurang Plaosan-Poncol, Magetan. Polisi menduga kecelakaan tunggal setelah motor menabrak pohon jati.
Sri Sultan menunggu keputusan pusat soal wacana gaji PNS lewat Kopdes Merah Putih. DPRD DIY mengingatkan risiko keamanan data.