SIM Keliling Sleman Hari Ini, Ada di Satpas, MPP dan Mitra 10
Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Sleman kembali membuka layanan SIM Keliling.
Ilustrasi perempuan tidak bahagia - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Gangguan kejiwaan tidak hanya dialami kelompok tertentu. Anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lansia sama-sama berisiko mengalami masalah kesehatan mental. Kondisi ini pun tidak selalu muncul secara mendadak, melainkan berkembang secara bertahap melalui berbagai perubahan yang sering kali luput dari perhatian.
Karena itu, mengenali gejala sejak awal menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi berkembang lebih serius. Penanganan yang cepat dapat meningkatkan peluang pemulihan sekaligus membantu seseorang mempertahankan kualitas hidupnya.
Meski demikian, berbagai tanda yang muncul tidak dapat dijadikan dasar diagnosis. Gejala gangguan kejiwaan dapat menyerupai masalah kesehatan lain. Namun apabila berlangsung dalam waktu lama, semakin berat, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan dokter, psikolog, maupun psikiater sangat dianjurkan.
Berikut tanda dari gejala gangguan mental yang perlu diwaspadai, sebagaimana disarikan dari berbagai sumber:
Salah satu tanda yang paling sering muncul adalah kecemasan berlebihan yang sulit dikendalikan. Rasa cemas memang merupakan respons normal ketika menghadapi tekanan. Namun jika kecemasan hadir hampir setiap hari, berlangsung terus-menerus, dan mengganggu aktivitas, kondisi tersebut patut diwaspadai. Gejalanya dapat berupa jantung berdebar, napas terasa pendek, tubuh gemetar, sulit berkonsentrasi, mudah panik, hingga mengalami gangguan tidur.
Selain itu, kesedihan berkepanjangan juga menjadi sinyal yang perlu mendapat perhatian. Perasaan sedih yang berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, disertai hilangnya minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, dapat menjadi indikasi adanya masalah kesehatan mental. Kondisi ini sering dibarengi rasa lelah berlebihan, kehilangan semangat, mudah menangis, mudah tersinggung, hingga muncul perasaan putus asa.
Perubahan emosi yang sangat drastis tanpa penyebab jelas juga tidak boleh dianggap biasa. Seseorang bisa merasa sangat bahagia dalam satu waktu, lalu berubah menjadi marah, sedih, atau tersinggung dalam waktu singkat. Jika kondisi tersebut terus berulang dan memengaruhi hubungan sosial maupun pekerjaan, evaluasi profesional diperlukan.
Gangguan pola tidur menjadi tanda lain yang cukup umum. Sebagian orang mengalami kesulitan tidur atau insomnia, sementara yang lain justru tidur terlalu lama tetapi tetap merasa lelah. Ketika kualitas tidur terganggu dalam jangka panjang, dampaknya dapat dirasakan pada konsentrasi, produktivitas, suasana hati, hingga kesehatan fisik secara keseluruhan.
Perubahan nafsu makan dan berat badan juga sering menyertai gangguan kejiwaan. Ada yang kehilangan selera makan hingga berat badan turun drastis, namun ada pula yang makan secara berlebihan sebagai respons terhadap tekanan emosional. Jika perubahan tersebut terjadi tanpa penyebab medis yang jelas, pemeriksaan lebih lanjut sebaiknya dilakukan.
Tanda berikutnya adalah kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial. Seseorang yang mulai menghindari keluarga, teman, atau rekan kerja dan tidak lagi menikmati aktivitas sosial yang sebelumnya disukai dapat mengalami perubahan kondisi mental. Biasanya kondisi ini disertai keinginan menyendiri dan berkurangnya komunikasi dengan orang sekitar.
Penggunaan alkohol, narkotika, atau zat adiktif lain sebagai pelarian dari tekanan emosional juga perlu diwaspadai. Selain meningkatkan risiko ketergantungan, kebiasaan tersebut dapat memperparah kondisi mental dan menghambat proses pemulihan.
Gejala lain yang sering muncul adalah perasaan bersalah dan tidak berharga secara berlebihan. Jika seseorang terus-menerus merasa gagal, tidak berguna, tidak layak dicintai, atau menganggap dirinya menjadi beban bagi orang lain, kondisi tersebut dapat menjadi bagian dari gangguan kesehatan mental yang membutuhkan perhatian.
Yang paling penting untuk dikenali adalah munculnya pikiran menyakiti diri sendiri atau bunuh diri. Ketika seseorang mulai sering memikirkan kematian, ingin melukai diri sendiri, atau memiliki keinginan mengakhiri hidup, situasi tersebut merupakan kondisi darurat yang membutuhkan bantuan profesional secepat mungkin.
Pada beberapa kasus, gangguan kejiwaan juga dapat ditandai dengan pikiran dan perilaku yang tidak sesuai dengan realitas. Gejalanya dapat berupa keyakinan yang tidak sesuai kenyataan, merasa diawasi atau dikendalikan pihak lain, mendengar suara yang tidak didengar orang lain, melihat sesuatu yang tidak nyata, hingga melakukan tindakan berisiko tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Halusinasi dan waham termasuk gejala serius yang memerlukan evaluasi medis.
Secara umum, gangguan kejiwaan tidak ditentukan oleh satu gejala saja, melainkan kombinasi berbagai tanda yang muncul dalam periode tertentu. Semakin cepat perubahan tersebut dikenali, semakin besar peluang seseorang mendapatkan bantuan yang tepat. Jika gejala berlangsung selama beberapa minggu, semakin berat, atau mulai mengganggu pekerjaan, sekolah, hubungan sosial, dan aktivitas sehari-hari, segera konsultasikan dengan dokter, psikolog, atau psikiater untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Sleman kembali membuka layanan SIM Keliling.
Jadwal wakil Indonesia di hari pertama Japan Open 2026. Jonatan Christie, Alwi Farhan, serta Febriana/Meilysa menghadapi tantangan berat di Tokyo.
DJ mengalahkan dokter sebagai pekerjaan impian warga AS. Data Remitly: DJ 97.930 pencarian, dokter 79.860. Tantangan industri EDM & media sosial.
WhatsApp stop dukung iPhone 5s, Samsung Galaxy S4, dan 10 ponsel lawas lainnya. Syarat minimum naik September & November 2026. Cek daftar lengkapnya.
Semifinal Spanyol vs Prancis di Piala Dunia 2026 memanas. Rodri minta Yamal tenang, Konate ogah terpancing provokasi. Laga diprediksi taktis & ketat.
Kenali 10 tanda gangguan kejiwaan yang sering diabaikan, mulai dari kecemasan berlebihan hingga pikiran bunuh diri. Deteksi dini penting untuk mencegah kondisi