Roy Suryo-Dokter Tifa Ditangkap, Kuasa Hukum Protes Keras Polda Metro
Roy Suryo dan Dokter Tifa ditangkap Polda Metro Jaya. Kuasa hukum Refly Harun protes dan soroti prosedur hukum.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA — Kurang tidur dan stres berkepanjangan ternyata bukan sekadar membuat tubuh lelah, tetapi juga dapat mengacaukan keseimbangan hormon kortisol yang berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Kortisol dikenal sebagai “hormon stres” yang memiliki fungsi vital, mulai dari mengatur metabolisme, menjaga tekanan darah, hingga membantu tubuh merespons tekanan fisik maupun emosional. Dalam kondisi normal, kadar kortisol akan mencapai puncaknya pada pagi hari untuk membantu tubuh bangun, lalu menurun pada malam hari agar tubuh bisa beristirahat.
Dokter spesialis endokrin Maram Khalifa menjelaskan bahwa kortisol bukan hormon yang harus dihindari. Justru, hormon ini dibutuhkan tubuh selama berada dalam kadar dan ritme yang seimbang.
“Kortisol adalah sistem alarm alami tubuh. Kadar tertinggi terjadi di pagi hari dan menurun di malam hari agar tubuh dapat beristirahat dengan optimal,” ujarnya dikutip dari Antara, Sabtu (20/6/2026)
Namun, pola hidup modern yang dipenuhi stres dan kebiasaan kurang tidur membuat ritme alami tersebut terganggu. Stres kronis, misalnya, dapat memicu tubuh mempertahankan kadar kortisol tetap tinggi dalam jangka waktu lama, bahkan hingga malam hari.
Kondisi ini membuat tubuh sulit memasuki fase relaksasi yang dibutuhkan untuk pemulihan. Dalam jangka panjang, gangguan ini dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti resistensi insulin, penyakit jantung, gangguan kecemasan, hingga depresi.
Hal senada disampaikan dokter Simran Malhotra yang menyoroti dampak buruk kebiasaan begadang. Ia menyebut orang yang tidur terlalu larut atau kurang dari kebutuhan ideal cenderung memiliki kadar kortisol yang tetap tinggi menjelang waktu tidur.
“Kebiasaan bermain gawai, menonton berlebihan, atau bekerja hingga larut malam membuat kualitas tidur menurun dan kadar kortisol tidak turun sebagaimana mestinya,” jelasnya.
Gangguan ritme kortisol ini juga berdampak pada metabolisme tubuh. Sensitivitas insulin bisa menurun, toleransi glukosa terganggu, hingga meningkatkan risiko penumpukan lemak di area perut yang berujung pada sindrom metabolik.
Untuk menjaga keseimbangan hormon kortisol, para ahli menyarankan langkah sederhana namun konsisten. Mengelola stres menjadi kunci utama, misalnya melalui meditasi, latihan pernapasan, yoga, atau terapi perilaku kognitif.
Selain itu, menjaga kualitas tidur selama tujuh hingga sembilan jam per malam dengan jadwal yang teratur juga sangat penting. Aktivitas fisik secara rutin serta pola hidup sehat turut membantu menjaga ritme hormon tetap stabil.
Para ahli menegaskan bahwa penggunaan suplemen penurun kortisol bukanlah solusi utama. Pendekatan yang paling efektif tetap berasal dari perubahan gaya hidup, terutama tidur yang cukup dan manajemen stres yang baik.
Dengan menjaga keseimbangan kortisol, tubuh tidak hanya terhindar dari stres berlebihan, tetapi juga lebih siap menjalani aktivitas sehari-hari dengan kondisi fisik dan mental yang optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Roy Suryo dan Dokter Tifa ditangkap Polda Metro Jaya. Kuasa hukum Refly Harun protes dan soroti prosedur hukum.
Wabah Ebola di Kongo makin meluas. Sebanyak 75 tenaga kesehatan terinfeksi dan 17 meninggal. WHO sebut risiko penyebaran tinggi.
Daftar wisata hits Jogja lengkap dengan lokasi, dari Malioboro hingga pantai Gunungkidul, favorit saat libur sekolah.
Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional Tahap 3 dibuka hingga 9 Juli 2026. Kuota 20 ribu peserta, cek syarat dan jadwal lengkapnya.
Program beasiswa Jepang dinilai memperkuat hubungan Indonesia. Alumni berperan besar dalam pembangunan dan kerja sama bilateral.
Spanyol wajib menang lawan Arab Saudi di Piala Dunia 2026. Simak prediksi, jadwal, dan susunan pemain lengkapnya.