Veda Ega Start ke-19 di Moto3 Austria, Brian Uriarte Rebut Pole Position
Veda Ega Pratama gagal lolos ke Q2 dan akan start dari posisi ke-19 Moto3 Austria 2026. Brian Uriarte merebut pole position dari David Almansa.
Cinta Laura/ Instagram
Harianjogja.com, JOGJA— Kasus meninggalnya Yurizal Tri Chaerawan menyisakan duka sekaligus memunculkan sorotan tajam terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia. Kisah yang bermula dari curhatan seorang pasien di media sosial itu kemudian berkembang menjadi perbincangan publik yang melibatkan berbagai pihak, termasuk publik figur Cinta Laura.
Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (22/7/2026). Saat tengah menjalani kondisi sakit, Yurizal disebut harus menunggu berjam-jam di rumah sakit tanpa kepastian mendapatkan kamar perawatan. Dalam keadaan lemas dan menahan nyeri, Yurizal akhirnya mencurahkan pengalamannya melalui akun Threads @yurizaltrich.
"8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake BPJS," tulis Yurizal.
Curhatan Viral, Respons Tenaga Kesehatan Jadi Sorotan
Curhatan itu kemudian mendapat perhatian luas. Namun, persoalan menjadi semakin ramai setelah kolom komentar justru diwarnai respons bernada sinis yang diduga berasal dari tenaga kesehatan. Mereka dinilai tidak menunjukkan empati terhadap kondisi pasien. Setelah komentar mereka menuai kecaman, sejumlah tenaga kesehatan yang bersangkutan kemudian menyampaikan permintaan maaf.
Kasus ini menjadi pengingat akan masih adanya stigma terhadap pengguna BPJS di fasilitas kesehatan. Perlakuan berbeda terhadap pasien berdasarkan jenis jaminan kesehatan yang dimiliki menjadi isu yang terus berulang dan kini kembali mencuat ke permukaan.
Cinta Laura Soroti Perlakuan terhadap Pasien BPJS
Persoalan itu turut mendapat perhatian dari sejumlah publik figur, termasuk aktris dan aktivis Cinta Laura. Melalui akun Instagram pribadinya @claurakiehl, Cinta menyampaikan pandangannya mengenai polemik yang mencuat. Menurut Cinta, perdebatan mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah bukanlah satu-satunya hal yang perlu menjadi perhatian.
"Setiap kali kasus seperti ini viral, pembahasannya langsung berputar di satu pertanyaan: siapa yang salah dan siapa yang benar. Menurut aku, justru itu bukan pertanyaan yang paling penting," tulis Cinta.
Ia kemudian mempertanyakan mengapa masih ada anggapan bahwa pasien pengguna BPJS pantas mendapatkan perlakuan berbeda hanya karena menggunakan fasilitas jaminan kesehatan tersebut.
"Pertanyaan yang sebenarnya lebih penting adalah: kenapa begitu banyak orang Indonesia, termasuk tenaga kesehatan, sering merasa bahwa pasien BPJS layak ditelantarkan hanya karena menggunakan BPJS?" lanjutnya.
Ketidakpercayaan terhadap Sistem Kesehatan
Cinta menilai persoalan tersebut tidak bisa dilepaskan dari munculnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan. Menurutnya, berbagai cerita mengenai pasien dan keluarga yang merasa tidak mendapatkan pelayanan sebagaimana mestinya telah membentuk persepsi publik selama bertahun-tahun. Stigma negatif terhadap BPJS dan penggunanya masih mengakar di sebagian kalangan.
Ia juga menegaskan bahwa apabila tudingan dalam kasus Yurizal nantinya terbukti, pihak yang bertanggung jawab harus mendapatkan konsekuensi sesuai aturan.
"Kalau tuduhan dalam kasus ini terbukti benar, maka mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban. Apa pun hasil akhirnya, publik tetap berhak mendapatkan transparansi," tulisnya.
Seruan untuk Sistem Kesehatan yang Adil
Namun, bagi Cinta, persoalan Yurizal seharusnya menjadi momentum untuk melihat masalah yang lebih besar dalam sistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Layanan kesehatan bukanlah hak istimewa bagi mereka yang mampu membayar lebih. Martabat, empati, dan pelayanan medis yang tepat waktu seharusnya tidak pernah bergantung pada apakah seseorang membawa kartu BPJS atau asuransi swasta.
"Pasien ini, dan setiap keluarga di Indonesia, berhak mendapatkan jawaban, akuntabilitas, dan sistem kesehatan yang benar-benar bisa mereka percaya," pungkas Cinta dalam unggahannya.
Kasus Yurizal: Refleksi dan Pelajaran
Kasus Yurizal menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam sistem kesehatan Indonesia. Transparansi, akuntabilitas, dan pelayanan yang setara bagi semua pasien—tanpa memandang jenis jaminan kesehatan yang dimiliki—harus menjadi prioritas.
Peristiwa ini diharapkan menjadi momentum perbaikan, bukan sekadar menjadi viral lalu dilupakan. Setiap pasien berhak mendapatkan perlakuan yang manusiawi dan pelayanan medis yang tepat waktu, karena kesehatan adalah hak dasar setiap warga negara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Veda Ega Pratama gagal lolos ke Q2 dan akan start dari posisi ke-19 Moto3 Austria 2026. Brian Uriarte merebut pole position dari David Almansa.
Prakiraan cuaca Jogja hari ini, Senin 21 September 2026. Kota Jogja berudara kabur dengan suhu 22–34°C dan kelembapan 39–95%.
Jadwal Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Senin (21/9), tersebar di 15 cabang olahraga dan tiga cluster.
PSG menang 2-1 atas Marseille pada pekan kelima Liga Prancis 2026/27 lewat gol Ferran Torres dan Marquinhos.
Jadwal DAMRI YIA-Jogja hari ini 21 September 2026 lengkap dengan rute, jam keberangkatan, dan tarif promo Rp50.000.
Dinkes Gunungkidul mengakui jumlah dokter spesialis masih kurang. Dari 11 lowongan CPNS, hanya satu formasi yang terisi.