Diet 30-30-30 Ramai di Medsos, Ini Fakta dari Ahli Gizi

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Selasa, 02 Juni 2026 14:47 WIB
Diet 30-30-30 Ramai di Medsos, Ini Fakta dari Ahli Gizi

Foto ilustrasi menu diet berupa salad sayur. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Metode 30-30-30 tengah ramai diperbincangkan di media sosial sebagai cara praktis membangun gaya hidup sehat. Namun di balik popularitasnya, para ahli mengingatkan bahwa metode ini belum terbukti secara ilmiah efektif untuk menurunkan berat badan secara signifikan.

Metode 30-30-30 mengusung konsep sederhana, yakni mengonsumsi 30 gram protein dalam 30 menit setelah bangun tidur, kemudian dilanjutkan dengan aktivitas kardio ringan selama 30 menit, seperti berjalan kaki. Pola ini dinilai menarik karena mudah diterapkan tanpa harus menghitung kalori atau menghindari jenis makanan tertentu.

Ahli gizi Whitney Stuart menyebut kesederhanaan metode ini menjadi alasan utama banyak orang tertarik mencobanya.

"Metode ini tidak mengharuskan menghitung kalori atau menghindari makanan tertentu, sehingga lebih mudah diterapkan banyak orang," katanya dikutip dari Antara, Selasa (2/6/2026).

Meski demikian, sejumlah pakar kesehatan menilai manfaat metode ini lebih pada pembentukan rutinitas sehat, bukan sebagai strategi instan menurunkan berat badan. Sarapan tinggi protein memang diketahui memiliki banyak manfaat, seperti membantu menjaga energi, meningkatkan fokus, dan mengontrol nafsu makan sepanjang hari.

Protein berperan dalam produksi neurotransmiter seperti dopamin dan norepinefrin yang mendukung konsentrasi dan motivasi. Ketika dikombinasikan dengan aktivitas fisik ringan di pagi hari, seperti berjalan kaki, aliran darah ke otak menjadi lebih lancar sehingga meningkatkan kinerja mental.

Selain itu, konsumsi protein di pagi hari juga berkontribusi terhadap stabilitas gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin. Hal ini penting dalam mencegah lonjakan energi yang cepat turun. Bahkan, peningkatan massa otot akibat asupan protein yang cukup dapat membantu mempercepat metabolisme tubuh.

Manfaat lain yang dirasakan banyak orang adalah rasa kenyang yang lebih lama, sehingga keinginan mengonsumsi makanan manis di pagi hingga siang hari dapat berkurang. Sementara kebiasaan berjalan kaki selama 30 menit membantu memenuhi kebutuhan aktivitas fisik harian yang direkomendasikan.

Namun, para ahli menegaskan bahwa klaim metode 30-30-30 mampu “melebur lemak” secara cepat belum memiliki dasar penelitian yang kuat. Hingga kini belum ada studi klinis yang menunjukkan bahwa aturan waktu dalam metode ini memberikan keunggulan khusus dibanding pola hidup sehat secara umum.

Ahli gizi Karen Grecea juga menilai bahwa meskipun beberapa komponen metode ini didukung sains, keseluruhan konsepnya tidak bisa dianggap sebagai solusi tunggal untuk menurunkan berat badan.

Kritik lainnya adalah metode ini tidak memberikan panduan terkait pola makan dan aktivitas selama sisa hari. Padahal, hasil optimal hanya bisa dicapai jika seseorang konsisten menjaga pola makan seimbang dan tetap aktif sepanjang hari.

Karena itu, metode 30-30-30 lebih tepat dijadikan sebagai langkah awal untuk membangun kebiasaan pagi yang sehat. Masyarakat pun disarankan untuk tidak terpaku secara kaku pada aturan tersebut, melainkan menjadikannya bagian dari gaya hidup sehat yang lebih luas dan berkelanjutan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online