Olah Sampah Jadi Energi, Pekerja GO-SARI Kini Dilindungi BPJamsostek
Program GO-SARI mengolah sampah menjadi energi sekaligus membuka manfaat ekonomi bagi masyarakat. Kini para pekerjanya mendapat perlindungan BPJS Ketenagakerjaa
Foto ilustrasi sate. - Pixabay
Harianjogja.com, JAKARTA—Perayaan Iduladha identik dengan konsumsi daging kurban, baik sapi maupun kambing. Namun, bagi penderita hipertensi, konsumsi daging kerap menimbulkan kekhawatiran. Dokter spesialis gizi klinik lulusan Universitas Indonesia, dr. Pande Putu Agus Mahendra, M.Gizi, Sp.GK, menegaskan bahwa daging kurban tetap aman dikonsumsi selama dalam batas wajar dan diolah dengan cara yang tepat.
Menurut Pande, setiap individu memiliki toleransi yang berbeda terhadap asupan protein hewani. Meski demikian, secara umum porsi aman konsumsi daging berkisar antara 75 hingga 100 gram per sekali makan. Batas ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan protein tanpa meningkatkan risiko kesehatan, khususnya bagi penderita hipertensi.
“Yang terpenting adalah mengontrol porsi dan tidak berlebihan,” ujarnya, dikutip dari Antara, Selasa (26/5/2026).
Selain memperhatikan jumlah, cara mengombinasikan makanan juga menjadi kunci penting. Pande menyarankan agar konsumsi daging disertai dengan makanan kaya antioksidan seperti tomat, wortel, lobak, serta berbagai jenis bawang. Kandungan antioksidan ini dapat membantu menyeimbangkan efek lemak dari daging serta menjaga kesehatan metabolisme tubuh.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga asupan cairan dengan minum air putih yang cukup. Hal ini bertujuan untuk membantu proses metabolisme sekaligus mencegah lonjakan kadar kolesterol dalam darah.
Dalam hal pengolahan, masyarakat diimbau untuk menghindari bagian lemak dan jeroan karena berpotensi meningkatkan kadar kolesterol. Selain itu, metode memasak juga perlu diperhatikan. Mengolah daging dengan cara dibakar langsung di atas api sebaiknya dihindari karena dapat merusak kandungan protein dan menghasilkan zat yang berpotensi berbahaya bagi tubuh.
“Pengolahan yang sehat akan sangat berpengaruh terhadap kualitas gizi yang kita konsumsi,” jelasnya.
Tak hanya daging, hidangan khas Iduladha lainnya seperti makanan bersantan juga perlu dikontrol. Pande mengingatkan bahwa konsumsi santan secara berlebihan, apalagi dalam beberapa hari berturut-turut, dapat meningkatkan asupan lemak dan berdampak pada keseimbangan kolesterol tubuh.
Ia juga menyoroti penggunaan santan instan yang umumnya mengandung natrium lebih tinggi dibandingkan santan segar. Selain itu, kebiasaan memanaskan ulang makanan bersantan berulang kali dinilai kurang baik karena dapat merusak komponen lemak nabati di dalamnya.
Dengan pengaturan pola makan yang tepat, penderita hipertensi tetap dapat menikmati hidangan Iduladha tanpa harus khawatir. Kunci utamanya adalah menjaga porsi, memilih bahan makanan dengan bijak, serta menerapkan cara memasak yang lebih sehat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Program GO-SARI mengolah sampah menjadi energi sekaligus membuka manfaat ekonomi bagi masyarakat. Kini para pekerjanya mendapat perlindungan BPJS Ketenagakerjaa
Menhub Dudy Purwagandhi menyebut kabut asap karhutla mulai mereda. Transportasi darat, laut, dan udara di Kalimantan tetap beroperasi.
Rencana regrouping SDN Hargomulyo dengan SDN Banjaran ditolak warga. Disdikpora Kulonprogo akan meninjau ulang kebijakan tersebut.
GAIA Cosmo Hotel Yogyakarta berharap aksi solidaritas tersebut dapat menginspirasi lebih banyak pihak, baik dari sektor swasta maupun masyarakat luas
Apindo dan buruh menyebut sebagian besar substansi RUU Ketenagakerjaan telah selaras dan mendorong aturan yang menciptakan lapangan kerja.
KPK memanggil tujuh saksi kasus dugaan suap pengadaan barang dan jasa Pemkab Muara Enim untuk diperiksa di Polres Ngawi.