Terlalu Sering Cek Smartwatch Bisa Memicu Kecemasan

Jumali
Jumali Rabu, 01 Juli 2026 14:37 WIB
Terlalu Sering Cek Smartwatch Bisa Memicu Kecemasan

Smartwatch/istimewa

Harianjogja.com, JOGJA—Perangkat kesehatan digital seperti smartwatch, gelang kebugaran, hingga aplikasi pemantau kesehatan semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Beragam teknologi tersebut memungkinkan pengguna memantau detak jantung, kualitas tidur, aktivitas fisik, hingga sejumlah indikator kesehatan lain secara real-time.

Namun di balik kemudahan tersebut, para ahli kesehatan mulai mengingatkan adanya risiko baru yang muncul ketika seseorang terlalu sering memantau data tubuhnya sendiri. Bukan sekadar rasa penasaran, kebiasaan memeriksa angka kesehatan secara berulang dapat berkembang menjadi kecemasan yang mengganggu keseharian.

Fenomena ini dikenal dengan istilah cyberchondria, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami kekhawatiran berlebihan terhadap kesehatan akibat paparan informasi medis yang terus-menerus tanpa pendampingan tenaga profesional.

Dalam praktiknya, seseorang bisa menjadi terlalu fokus pada perubahan kecil yang sebenarnya masih tergolong normal. Misalnya, peningkatan sementara detak jantung, berkurangnya durasi tidur nyenyak dalam satu malam, atau penurunan aktivitas fisik pada hari tertentu.

Bagi sebagian orang, perubahan kecil tersebut dapat memicu kekhawatiran yang berlebihan. Mereka kemudian terus memeriksa perangkat kesehatan, mencari informasi tambahan di internet, atau menghubungkan data tersebut dengan berbagai penyakit serius meski belum ada indikasi medis yang jelas.

Para ahli menjelaskan bahwa tubuh manusia tidak bekerja seperti mesin dengan angka yang selalu stabil setiap saat. Variasi harian dalam detak jantung, pola tidur, maupun tingkat aktivitas merupakan hal yang wajar dan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari stres, pola makan, cuaca, hingga tingkat kelelahan.

Eating Well mengungkapkan, masalah muncul ketika perhatian terhadap data kesehatan mulai mengubah perilaku seseorang. Tanda-tandanya dapat berupa kebiasaan memeriksa perangkat secara berlebihan, munculnya rasa cemas setiap melihat perubahan angka tertentu, atau kecenderungan mengabaikan kondisi tubuh yang sebenarnya hanya karena terpaku pada hasil pemantauan digital.

Ironisnya, kecemasan yang muncul akibat data kesehatan justru dapat memengaruhi kondisi fisik. Stres berkepanjangan diketahui dapat meningkatkan tekanan darah, mengganggu kualitas tidur, menurunkan konsentrasi, hingga memicu keluhan pada sistem pencernaan.

Karena itu, para pakar menyarankan agar teknologi kesehatan digunakan sebagai alat bantu untuk melihat tren kesehatan dalam jangka panjang, bukan sebagai alat diagnosis harian.

Pengguna juga dianjurkan memahami bahwa satu kali perubahan data belum tentu menunjukkan adanya masalah kesehatan yang serius. Yang lebih penting adalah memperhatikan pola secara keseluruhan dalam periode yang lebih panjang.

Jika mulai merasa cemas setiap kali melihat data kesehatan, para ahli menyarankan untuk mengambil jeda dari perangkat tersebut. Melepas smartwatch selama beberapa jam, saat akhir pekan, atau dalam periode tertentu dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap pemantauan angka secara terus-menerus.

Langkah lain yang disarankan adalah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan ketika menemukan hasil yang dianggap tidak biasa atau menimbulkan kekhawatiran.

Alih-alih mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi dari internet atau media sosial, dokter dapat membantu menjelaskan konteks medis dari data yang muncul serta menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan.

Perkembangan teknologi kesehatan tetap membawa banyak manfaat bagi masyarakat. Namun, para ahli mengingatkan bahwa angka yang muncul di layar perangkat hanyalah salah satu bagian dari gambaran kesehatan secara keseluruhan. Mendengarkan sinyal tubuh, menjaga pola hidup sehat, serta berkonsultasi dengan tenaga medis tetap menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan secara menyeluruh.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online