Studi Temukan Hubungan Serangan Jantung dan Risiko Depresi

Jumali
Jumali Minggu, 24 Mei 2026 15:27 WIB
Studi Temukan Hubungan Serangan Jantung dan Risiko Depresi

Ilustrasi serangan jantung (Freepik)

Harianjogja.com, JOGJA—Penelitian terbaru dari University of Ottawa yang dikutip oleh Neuroscience News mengungkap bahwa serangan jantung ternyata tidak hanya merusak organ jantung, tetapi juga dapat memicu gangguan pada otak yang berkaitan dengan depresi, kecemasan, hingga penurunan fungsi kognitif.

Temuan ini memperkuat konsep heart-brain axis atau hubungan timbal balik antara kesehatan jantung dan otak. Peneliti menemukan bahwa setelah serangan jantung terjadi, tubuh melepaskan zat beracun bernama methylglyoxal (MG) yang dapat masuk ke otak dan memengaruhi fungsi saraf.

Dalam penelitian tersebut, kadar methylglyoxal ditemukan meningkat dalam darah pasien pascaserangan jantung. Zat ini kemudian disebut dapat menumpuk di area otak yang berperan dalam pengaturan emosi dan kemampuan berpikir.

Risiko Depresi dan Gangguan Kognitif Meningkat

Para peneliti menyebut pasien yang selamat dari serangan jantung memiliki risiko sekitar dua hingga tiga kali lebih tinggi mengalami depresi maupun kecemasan dibanding orang tanpa riwayat serangan jantung.

Kondisi ini dinilai tidak bisa dianggap sekadar gangguan psikologis biasa. Sebab, pasien yang mengalami depresi pascaserangan jantung juga disebut memiliki risiko hingga 2,7 kali lebih besar mengalami serangan jantung kedua atau kematian.

Penelitian tersebut menyoroti bagaimana methylglyoxal memengaruhi sistem limbik dan korteks prefrontal, yakni bagian otak yang berkaitan dengan suasana hati, emosi, dan fungsi kognitif.

Dikaitkan dengan Risiko Penyakit Neurodegeneratif

Selain berdampak pada kesehatan mental, paparan methylglyoxal juga disebut berpotensi meningkatkan risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.

Kerusakan sel otak akibat zat tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Advanced Science tersebut.

Temuan ini sekaligus menjadi bukti tambahan bahwa gangguan jantung dapat memicu dampak sistemik yang luas terhadap kesehatan tubuh, termasuk fungsi otak dan saraf.

Peneliti Kembangkan Terapi Baru

Sebagai tindak lanjut, tim peneliti kini tengah mengembangkan terapi berbasis peptida yang dirancang untuk menurunkan kadar methylglyoxal dalam darah setelah serangan jantung terjadi.

Pendekatan ini bertujuan “menangkap” molekul beracun sebelum mencapai otak sehingga diharapkan dapat mengurangi risiko gangguan suasana hati, kerusakan saraf, maupun serangan jantung berulang.

Meski masih dalam tahap pengembangan, terapi tersebut dinilai membuka peluang baru dalam penanganan pasien pascaserangan jantung yang selama ini lebih banyak difokuskan pada pemulihan organ jantung saja.

Pentingnya Pemantauan Kesehatan Mental

Hasil penelitian ini juga menjadi pengingat penting bahwa rehabilitasi pascaserangan jantung perlu mencakup pemantauan kondisi mental pasien.

Para ahli menilai deteksi dini depresi dan kecemasan pada pasien jantung dapat membantu menurunkan risiko komplikasi lanjutan sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien dalam jangka panjang.

Selain menjalani pengobatan medis, pencegahan tetap menjadi langkah utama dengan menjaga pola hidup sehat, mengontrol tekanan darah, rutin berolahraga, serta mengurangi faktor risiko penyakit jantung lainnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online