Gempa Flores NTT, 70 Meninggal dan 40.040 Orang Mengungsi
BNPB mencatat 70 orang meninggal, 1.182 luka-luka, dan 40.040 mengungsi akibat gempa M7,7 di Flores, NTT.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia, Semiarto Aji Purwanto, menilai keinginan masyarakat untuk tetap terlihat mapan meski sedang berhemat berkaitan erat dengan dorongan untuk diterima dalam kelompok sosial tertentu atau “join the club”.
Menurutnya, pola konsumsi masyarakat saat ini tidak lagi semata-mata didorong oleh kebutuhan, tetapi juga keinginan untuk menunjukkan identitas dan status sosial.
“Motivasi kita membeli itu bukan untuk memenuhi kebutuhan, tetapi agar kita bisa masuk ke dalam klub tertentu,” ujarnya.
Konsumsi Jadi Simbol Status Sosial
Semiarto menjelaskan konsumsi kini telah berkembang menjadi “bahasa sosial” yang menunjukkan posisi seseorang dalam lingkungan pergaulan.
Ia mencontohkan fenomena penggunaan produk tertentu secara konsisten, seperti ekosistem Apple—mulai dari iPhone hingga MacBook—yang kemudian membentuk identitas sosial tersendiri di masyarakat.
“Misalnya pengguna Apple. HP-nya iPhone, laptop-nya MacBook, semuanya serba Apple. Itu Apple boy, Apple girl,” katanya.
Menurutnya, simbol-simbol konsumsi tersebut menjadi cara untuk menyampaikan pesan bahwa seseorang berada dalam kondisi ekonomi yang baik.
Tetap Nongkrong Meski Dikurangi
Dalam praktiknya, banyak orang tetap mempertahankan gaya hidup tertentu meskipun mulai menekan pengeluaran di sisi lain.
Contohnya, aktivitas nongkrong di kafe tetap dilakukan, tetapi dengan frekuensi yang dikurangi atau memilih tempat yang lebih terjangkau.
“Misalnya tetap nongkrong, walaupun enggak tiap malam, mungkin seminggu sekali,” ujarnya.
Tekanan Lebih Terasa di Kota Besar
Semiarto menilai tekanan untuk terlihat mapan lebih kuat dirasakan di kota besar seperti Jakarta, di mana ruang konsumsi seperti mal, kafe, dan co-working space menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.
Namun demikian, pengaruh gaya hidup tersebut kini juga menyebar ke daerah melalui media sosial dan internet, sehingga mendorong masyarakat untuk mengikuti standar yang sama.
“Join the Club” Jadi Dorongan Utama
Ia menegaskan, dorongan untuk menjadi bagian dari kelompok tertentu membuat masyarakat berusaha mempertahankan simbol konsumsi agar tidak merasa tertinggal.
“Kita ingin menjadi seperti orang lain yang kita pandang lebih bagus. Kita ingin join the club,” katanya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa konsumsi tidak lagi sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga bagian dari identitas sosial yang membentuk cara seseorang dipandang di lingkungan sekitarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
BNPB mencatat 70 orang meninggal, 1.182 luka-luka, dan 40.040 mengungsi akibat gempa M7,7 di Flores, NTT.
Harga buyback emas Antam hari ini Rp2,505 juta per gram, naik 6,14% sejak awal 2026 namun masih di bawah rekor Januari.
Bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, pembangunan infrastruktur dalam beberapa tahun terakhir menjadi modal penting untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi
Pembangunan ruas Kretek-Girijati yang dikenal sebagai Kelok 23 ditargetkan selesai pada akhir Agustus 2026. Meski konstruksi segera rampung.
mpatkan kesejahteraan guru sebagai salah satu perhatian pemerintah. Salah satunya melalui pengangkatan guru menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja
Pegadaian bergerak cepat membantu pemulihan pascagempa di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL)