Suadesa Festival 2026, PGN Dorong UMKM Desa Naik Kelas
Suadesa Festival 2026 digelar di Sleman pada 22–23 Agustus, menghadirkan UMKM, seni budaya, Jikustik, The Rain, dan kegiatan lingkungan.
Foto ilustrasi bayi kembar. - ist
Harianjogja.com, JAKARTA—Penelitian terbaru mengungkap fakta yang tidak banyak diketahui tentang tubuh manusia. Energi yang menggerakkan sel-sel tubuh ternyata hanya diwariskan dari ibu, bukan dari kedua orang tua seperti yang selama ini dipahami secara umum.
Temuan yang dipublikasikan di Science Advances dan dikutip oleh Medical Daily menjelaskan bahwa DNA dalam mitokondria—bagian sel yang berfungsi menghasilkan energi—hanya diturunkan dari ibu karena materi genetik dari ayah dihancurkan setelah pembuahan.
Dalam proses pembuahan, sperma dan sel telur sama-sama menyumbang materi genetik. Namun, hanya mitokondria dari sel telur yang bertahan dan diwariskan ke embrio.
Mitokondria sendiri berperan penting sebagai penghasil adenosin trifosfat (ATP), yaitu molekul utama yang digunakan tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi seluler. Karena itu, sumber energi tubuh sepenuhnya bergantung pada garis keturunan ibu.
Risiko Jika Mitokondria Ayah Tidak Hilang
Penelitian ini juga menemukan bahwa jika mitokondria dari ayah tidak hancur sebagaimana mestinya, hal tersebut dapat menimbulkan gangguan serius.
Masuknya mitokondria paternal ke dalam embrio dikaitkan dengan masalah neurologis, gangguan perilaku, hingga kesulitan reproduksi. Kondisi ini berkaitan dengan kelainan mitokondria yang memengaruhi kemampuan tubuh menghasilkan energi dan terjadi pada sekitar satu dari lima ribu orang.
Penulis senior penelitian, Ding Xue, menyebut bahwa proses eliminasi mitokondria paternal merupakan tahap penting dalam perkembangan awal manusia.
Percobaan pada Organisme Sederhana
Untuk memahami mekanisme tersebut, peneliti menggunakan C. elegans, organisme kecil transparan yang sering digunakan dalam riset biologi.
Meski hanya memiliki sekitar 1.000 sel, organisme ini memiliki sistem tubuh yang mirip manusia seperti saraf, otot, dan usus, sehingga menjadi model yang efektif untuk penelitian.
Dalam percobaan, peneliti menunda penghancuran mitokondria dari ayah selama beberapa jam untuk melihat dampaknya.
Energi Menurun Fungsi Tubuh Terganggu
Hasilnya, penundaan tersebut menyebabkan penurunan signifikan kadar ATP dalam tubuh organisme uji. Dampaknya terlihat pada menurunnya aktivitas, gangguan kognitif, hingga masalah reproduksi.
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa keberadaan mitokondria paternal dapat mengganggu sistem energi sel dan berdampak luas pada fungsi tubuh.
Vitamin K2 Buka Harapan Baru
Peneliti kemudian mencoba memberikan MK-4, salah satu bentuk vitamin K2, untuk melihat kemungkinan pemulihan kondisi tersebut.
Hasilnya cukup menjanjikan. Kadar ATP pada embrio kembali normal, dan fungsi tubuh seperti aktivitas, daya ingat, serta reproduksi menunjukkan perbaikan.
Peluang Terapi di Masa Depan
Meski masih memerlukan penelitian lanjutan, temuan ini membuka peluang baru dalam penanganan kelainan mitokondria.
Para peneliti berharap di masa depan, intervensi sederhana seperti pemberian vitamin K2 sebelum kelahiran dapat membantu mencegah gangguan energi sel.
Dengan temuan ini, pemahaman tentang warisan genetik manusia menjadi lebih dalam. Tidak hanya soal sifat fisik, tetapi juga bagaimana tubuh mendapatkan sumber energi sejak awal kehidupan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Suadesa Festival 2026 digelar di Sleman pada 22–23 Agustus, menghadirkan UMKM, seni budaya, Jikustik, The Rain, dan kegiatan lingkungan.
MW Passato karya modifikator Indonesia akan tampil di SEMA Show 2026, Las Vegas, membawa karya aftermarket Tanah Air ke panggung global.
Hyundai Tucson 2027 resmi diperkenalkan dengan desain Art of Steel, dimensi lebih besar, kabin Pleos, dan varian XRT.
Perubahan status sejumlah jalan di Kulonprogo menjadi jalan lingkungan membuat sumber pembiayaan lebih fleksibel, dari APBD hingga APBKal.
Kesbangpol Sleman mengasesmen enam anak yang terpapar radikalisme hingga 14 hari untuk mengetahui tingkat keterpaparan dan menentukan penanganan yang tepat.
Basarnas mencatat 601 kecelakaan kapal hingga 15 Agustus 2026 dengan 3.607 korban. Sebanyak 239 orang meninggal dan 203 hilang.