IHSG Anjlok 1,72 Persen, Tertekan Bursa Global dan Saham Teknologi
IHSG melemah 1,72% ke 5.896,13 dipicu tekanan bursa global dan saham teknologi, investor tunggu data ekonomi domestik.
Foto ilustrasi campak. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Munculnya kembali kasus campak di Indonesia menjadi perhatian serius kalangan medis. Kondisi ini dinilai sebagai tanda melemahnya cakupan imunisasi, sehingga berpotensi memicu penyebaran penyakit menular yang sebelumnya telah terkendali.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa pengendalian campak dan polio sangat bergantung pada imunisasi yang merata dan konsisten.
Penurunan Imunisasi Jadi Pemicu
Piprim menjelaskan campak termasuk re-emerging disease, yakni penyakit yang pernah berhasil dikendalikan namun kini kembali meningkat.
Menurutnya, keberhasilan pengendalian penyakit menular pada masa lalu tidak lepas dari vaksinasi massal. Contohnya, polio yang mulai terkendali sejak 1960-an berkat pengembangan vaksin dan distribusi luas.
Namun, kondisi saat ini menunjukkan adanya peningkatan kasus yang signifikan, sehingga diperlukan upaya lebih masif dalam pelaksanaan imunisasi serta pengawasan pelaporan kasus.
Campak Sangat Mudah Menular
Selain itu, cakupan imunisasi campak yang menurun juga menjadi perhatian. Padahal, penyakit ini memiliki tingkat penularan sangat tinggi.
Piprim menyebut angka reproduksi dasar atau R0 campak dapat mencapai 12 hingga 18. Artinya, cakupan imunisasi harus berada di atas 95 persen agar terbentuk kekebalan kelompok.
“Ketika Kejadian Luar Biasa itu muncul, artinya cakupan imunisasi jeblok,” ujarnya.
Hoaks dan Edukasi Jadi Tantangan
Tantangan lain yang dihadapi adalah maraknya informasi menyesatkan terkait vaksin di media sosial.
Menurut Piprim, munculnya kelompok anti-vaksin berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi, sehingga berdampak pada rendahnya cakupan vaksinasi.
Layanan Kesehatan Dasar Perlu Diperkuat
Ia juga menyoroti pentingnya memperkuat layanan kesehatan primer seperti posyandu dan puskesmas.
Menurutnya, saat ini layanan kesehatan cenderung fokus pada penanganan penyakit (kuratif), sementara upaya pencegahan (promotif dan preventif) belum optimal.
Piprim mendorong peningkatan fasilitas dan insentif bagi kader posyandu agar deteksi dini dapat berjalan lebih baik.
Perlu Dukungan Semua Pihak
Piprim menegaskan pengendalian penyakit menular membutuhkan kolaborasi semua pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat.
“Ayo sama-sama kita fokuskan ke promotif-preventif. Supaya jangan lagi ada anak yang mati karena campak,” ujarnya.
Dengan penguatan imunisasi dan edukasi yang tepat, diharapkan kasus campak dan polio dapat kembali ditekan serta tidak berkembang menjadi ancaman kesehatan yang lebih luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
IHSG melemah 1,72% ke 5.896,13 dipicu tekanan bursa global dan saham teknologi, investor tunggu data ekonomi domestik.
Rute Trans Jogja 2026 makin luas hingga pinggiran. Tarif tetap murah, jadi solusi transportasi hemat dan bebas macet di Jogja.
Jadwal SIM keliling Kulonprogo Juni 2026 lengkap. Cek lokasi, jam layanan, biaya, dan syarat terbaru perpanjangan SIM.
Top Ten News Jogja 27 Juni 2026: MBG, kemarau Sleman, korupsi, hingga top skor Piala Dunia. Baca ringkasan lengkapnya di sini.
DPRD DIY bersama Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY terus menularkan semangat literasi kepada masyarakat.
Prancis kalahkan Norwegia 4-1 di Piala Dunia 2026. Dembele cetak hattrick, Les Bleus lolos sebagai juara grup.