Suadesa Festival 2026, PGN Dorong UMKM Desa Naik Kelas
Suadesa Festival 2026 digelar di Sleman pada 22–23 Agustus, menghadirkan UMKM, seni budaya, Jikustik, The Rain, dan kegiatan lingkungan.
Foto ilustrasi campak. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Munculnya kembali kasus campak di Indonesia menjadi perhatian serius kalangan medis. Kondisi ini dinilai sebagai tanda melemahnya cakupan imunisasi, sehingga berpotensi memicu penyebaran penyakit menular yang sebelumnya telah terkendali.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa pengendalian campak dan polio sangat bergantung pada imunisasi yang merata dan konsisten.
Penurunan Imunisasi Jadi Pemicu
Piprim menjelaskan campak termasuk re-emerging disease, yakni penyakit yang pernah berhasil dikendalikan namun kini kembali meningkat.
Menurutnya, keberhasilan pengendalian penyakit menular pada masa lalu tidak lepas dari vaksinasi massal. Contohnya, polio yang mulai terkendali sejak 1960-an berkat pengembangan vaksin dan distribusi luas.
Namun, kondisi saat ini menunjukkan adanya peningkatan kasus yang signifikan, sehingga diperlukan upaya lebih masif dalam pelaksanaan imunisasi serta pengawasan pelaporan kasus.
Campak Sangat Mudah Menular
Selain itu, cakupan imunisasi campak yang menurun juga menjadi perhatian. Padahal, penyakit ini memiliki tingkat penularan sangat tinggi.
Piprim menyebut angka reproduksi dasar atau R0 campak dapat mencapai 12 hingga 18. Artinya, cakupan imunisasi harus berada di atas 95 persen agar terbentuk kekebalan kelompok.
“Ketika Kejadian Luar Biasa itu muncul, artinya cakupan imunisasi jeblok,” ujarnya.
Hoaks dan Edukasi Jadi Tantangan
Tantangan lain yang dihadapi adalah maraknya informasi menyesatkan terkait vaksin di media sosial.
Menurut Piprim, munculnya kelompok anti-vaksin berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi, sehingga berdampak pada rendahnya cakupan vaksinasi.
Layanan Kesehatan Dasar Perlu Diperkuat
Ia juga menyoroti pentingnya memperkuat layanan kesehatan primer seperti posyandu dan puskesmas.
Menurutnya, saat ini layanan kesehatan cenderung fokus pada penanganan penyakit (kuratif), sementara upaya pencegahan (promotif dan preventif) belum optimal.
Piprim mendorong peningkatan fasilitas dan insentif bagi kader posyandu agar deteksi dini dapat berjalan lebih baik.
Perlu Dukungan Semua Pihak
Piprim menegaskan pengendalian penyakit menular membutuhkan kolaborasi semua pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat.
“Ayo sama-sama kita fokuskan ke promotif-preventif. Supaya jangan lagi ada anak yang mati karena campak,” ujarnya.
Dengan penguatan imunisasi dan edukasi yang tepat, diharapkan kasus campak dan polio dapat kembali ditekan serta tidak berkembang menjadi ancaman kesehatan yang lebih luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Suadesa Festival 2026 digelar di Sleman pada 22–23 Agustus, menghadirkan UMKM, seni budaya, Jikustik, The Rain, dan kegiatan lingkungan.
Pendaftaran CPNS 2026 sekolah kedinasan dibuka Agustus. Simak 5 channel YouTube gratis untuk belajar TIU, TWK, TKP, SKD hingga SKB.
Persoalan peredaran rokok ilegal menarik perhatian kalangan mahasiswa di Kota Magelang. Hal itu terlihat dalam Sosialisasi di Bidang Cukai Dana Bagi Hasil Cukai
Jadwal DAMRI Bandara YIA Jumat 21 Agustus 2026 tersedia lima rute dengan tarif Rp80.000. Cek rute, jam operasional, dan frekuensinya.
Jadwal Kereta Bandara YIA Jumat 21 Agustus 2026 tersedia untuk layanan Reguler dan Xpress. Cek jam keberangkatan menuju dan dari YIA.
Jadwal Prameks Jogja-Kutoarjo Jumat 21 Agustus 2026 tersedia lima perjalanan dari masing-masing stasiun. Cek jam keberangkatannya.