Utang Luar Negeri Indonesia Melambat, Rasio terhadap PDB Turun
Bank Indonesia mencatat pertumbuhan utang luar negeri Indonesia triwulan I 2026 melambat, dengan rasio ULN terhadap PDB turun menjadi 29,5 persen.
Foto ilustrasi campak. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Munculnya kembali kasus campak di Indonesia menjadi perhatian serius kalangan medis. Kondisi ini dinilai sebagai tanda melemahnya cakupan imunisasi, sehingga berpotensi memicu penyebaran penyakit menular yang sebelumnya telah terkendali.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa pengendalian campak dan polio sangat bergantung pada imunisasi yang merata dan konsisten.
Penurunan Imunisasi Jadi Pemicu
Piprim menjelaskan campak termasuk re-emerging disease, yakni penyakit yang pernah berhasil dikendalikan namun kini kembali meningkat.
Menurutnya, keberhasilan pengendalian penyakit menular pada masa lalu tidak lepas dari vaksinasi massal. Contohnya, polio yang mulai terkendali sejak 1960-an berkat pengembangan vaksin dan distribusi luas.
Namun, kondisi saat ini menunjukkan adanya peningkatan kasus yang signifikan, sehingga diperlukan upaya lebih masif dalam pelaksanaan imunisasi serta pengawasan pelaporan kasus.
Campak Sangat Mudah Menular
Selain itu, cakupan imunisasi campak yang menurun juga menjadi perhatian. Padahal, penyakit ini memiliki tingkat penularan sangat tinggi.
Piprim menyebut angka reproduksi dasar atau R0 campak dapat mencapai 12 hingga 18. Artinya, cakupan imunisasi harus berada di atas 95 persen agar terbentuk kekebalan kelompok.
“Ketika Kejadian Luar Biasa itu muncul, artinya cakupan imunisasi jeblok,” ujarnya.
Hoaks dan Edukasi Jadi Tantangan
Tantangan lain yang dihadapi adalah maraknya informasi menyesatkan terkait vaksin di media sosial.
Menurut Piprim, munculnya kelompok anti-vaksin berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi, sehingga berdampak pada rendahnya cakupan vaksinasi.
Layanan Kesehatan Dasar Perlu Diperkuat
Ia juga menyoroti pentingnya memperkuat layanan kesehatan primer seperti posyandu dan puskesmas.
Menurutnya, saat ini layanan kesehatan cenderung fokus pada penanganan penyakit (kuratif), sementara upaya pencegahan (promotif dan preventif) belum optimal.
Piprim mendorong peningkatan fasilitas dan insentif bagi kader posyandu agar deteksi dini dapat berjalan lebih baik.
Perlu Dukungan Semua Pihak
Piprim menegaskan pengendalian penyakit menular membutuhkan kolaborasi semua pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat.
“Ayo sama-sama kita fokuskan ke promotif-preventif. Supaya jangan lagi ada anak yang mati karena campak,” ujarnya.
Dengan penguatan imunisasi dan edukasi yang tepat, diharapkan kasus campak dan polio dapat kembali ditekan serta tidak berkembang menjadi ancaman kesehatan yang lebih luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Bank Indonesia mencatat pertumbuhan utang luar negeri Indonesia triwulan I 2026 melambat, dengan rasio ULN terhadap PDB turun menjadi 29,5 persen.
Xiaomi membatalkan proyek ponsel ultra-tipis Xiaomi 17 Air karena tak ingin mengorbankan performa, baterai, dan kualitas pengguna.
Komnas HAM mendorong pengusutan tuntas kasus kekerasan anak di Daycare Little Aresha Jogja. Polisi buka peluang tersangka bertambah.
Kemkomdigi memblokir 3,45 juta situs judi online sejak Oktober 2024. Perputaran dana judol 2025 tercatat Rp286 triliun.
Pratama Arhan memperkenalkan Inka Andestha sebagai kekasih barunya lewat unggahan romantis di Instagram usai resmi bercerai dari Azizah Salsha.
Sony resmi membawa PS5 Pro ke Indonesia mulai 20 Mei 2026 dengan harga Rp15,499 juta. Ini spesifikasi, fitur AI, dan peningkatannya.