Hizbullah Klaim Luncurkan 20 Serangan ke Tentara Israel
Hizbullah mengklaim melakukan 20 operasi militer terhadap tentara Israel di Lebanon selatan sebagai respons pelanggaran gencatan senjata.
Ilustrasi obesitas./Daily Express
Harianjogja.com, JAKARTA–Masyarakat kini diminta lebih peka terhadap perubahan fisik yang tampak sederhana, karena ukuran celana ternyata bisa menjadi indikator paling praktis untuk mendeteksi risiko obesitas sentral.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan bahwa penumpukan lemak di area perut sering kali menjadi ancaman tersembunyi yang lebih berbahaya dibandingkan sekadar angka timbangan, mengingat kondisi ini berkaitan erat dengan distribusi lemak yang tidak sehat.
Lonjakan prevalensi obesitas sentral di Indonesia terlihat sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, di mana data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan kenaikan dari 31 persen pada 2018 menjadi 36,8 persen.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., menegaskan bahwa seseorang sudah masuk kategori risiko jika lingkar perutnya melebihi 90 sentimeter untuk laki-laki dan di atas 80 sentimeter bagi perempuan.
“Kalau kami bicara obesitas sentral, paling mudah dilihat dari ukuran celana. Kalau ukurannya makin naik, itu alarm untuk kita,” tegas Nadia dalam acara Nutrifood Media Briefing bertajuk Cermat Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas di Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026).
Ia menilai banyak orang merasa sehat hanya karena berat badan mereka terlihat normal, padahal lingkar perut yang melewati batas aman sudah cukup untuk memicu berbagai penyakit tidak menular yang mematikan.
Berdasarkan data program Cek Kesehatan Gratis 2025, tercatat sebanyak 23,85 persen peserta dewasa teridentifikasi mengalami obesitas sentral berdasarkan pengukuran lingkar perut secara akurat.
Dalam momentum Hari Obesitas Sedunia, Kemenkes memperingatkan bahwa lemak perut yang berlebih memiliki korelasi tinggi terhadap munculnya penyakit kronis seperti diabetes melitus, hipertensi, serangan jantung, hingga risiko stroke yang fatal.
“Kadang orang merasa tidak gemuk, tapi lingkar perutnya sudah di atas batas. Itu yang sering tidak disadari,” kata Nadia terkait fenomena obesitas sentral yang kerap terabaikan oleh masyarakat urban.
Oleh karena itu, pemeriksaan indeks massa tubuh serta pengukuran lingkar perut secara rutin minimal setahun sekali sangat dianjurkan sebagai langkah deteksi dini sebelum komplikasi kesehatan muncul akibat pola hidup yang menetap.
Mengingat obesitas tidak terjadi secara instan melainkan akibat akumulasi gaya hidup buruk dalam jangka panjang, masyarakat diimbau untuk mulai melakukan perubahan perilaku sejak dini. Langkah preventif yang paling efektif adalah dengan konsisten menjaga pola makan, membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL), serta aktif bergerak secara rutin agar risiko gangguan metabolik dapat ditekan dan kesehatan jangka panjang tetap terjaga melalui kontrol ukuran celana secara berkala.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Hizbullah mengklaim melakukan 20 operasi militer terhadap tentara Israel di Lebanon selatan sebagai respons pelanggaran gencatan senjata.
Kemnaker membuka sertifikasi kompetensi gratis bagi alumni magang nasional hingga 15 Mei 2026 dengan sertifikat resmi BNSP.
PDAB Tirtatama DIY mengusulkan kenaikan tarif air curah Rp500 per meter kubik untuk menekan subsidi Pemda DIY yang membengkak.
Anthony Ginting menghadapi Shi Yu Qi pada hari kedua Thailand Open 2026. Berikut jadwal lengkap 10 wakil Indonesia di Bangkok.
Lima weton diprediksi perlu ekstra waspada pada Rabu Kliwon 13 Mei 2026, mulai konflik hingga persoalan finansial.
Jadwal misa dan ibadah Kenaikan Yesus 2026 di Jogja lengkap dari Kotabaru, Ganjuran hingga GKJ Ambarrukmo.