Libur Sekolah, Penumpang KA di Jogja Melonjak 40 Persen
Penumpang kereta api di wilayah Daop 6 Jogja melonjak 40 persen saat libur sekolah, capai 63 ribu orang.
Foto ilustrasi nasi putih, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, JAKARTA—Cara menyimpan nasi yang salah dapat menimbulkan risiko kesehatan meski makanan terlihat masih layak konsumsi. Hal ini diingatkan pakar kesehatan yang menekankan pentingnya pengaturan waktu dan suhu penyimpanan nasi matang agar aman dikonsumsi.
Peringatan tersebut disampaikan dokter spesialis anestesiologi dan pengobatan nyeri intervensional berbasis di Maryland, dr. Kunal Sood, yang menyoroti potensi kontaminasi bakteri pada nasi yang tidak disimpan dengan benar setelah dimasak. Menurutnya, kebiasaan membiarkan nasi pada suhu ruangan terlalu lama menjadi salah satu penyebab utama risiko keracunan makanan.
“Jika nasi yang sudah dimasak dibiarkan pada suhu ruangan, spora dapat berkecambah, dan bakteri tersebut menghasilkan racun langsung di dalam makanan,” kata Sood, yang dikutip melalui laman Hindustan Times, Senin (16/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa banyak orang beranggapan memasak dan memanaskan kembali nasi sudah cukup untuk membuatnya aman. Namun nasi sering mengandung spora Bacillus cereus yang mampu bertahan dalam suhu panas, berbeda dengan sebagian besar bakteri lain.
Pemanasan ulang memang dapat membunuh bakteri, tetapi racun yang telah terbentuk kemungkinan tetap ada. Akibatnya, nasi tetap berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan meskipun tampak normal dan tidak berbau.
Gejala keracunan makanan akibat bakteri tersebut umumnya muncul cepat, sekitar 30 menit hingga enam jam setelah konsumsi, dengan keluhan paling umum berupa mual dan muntah.
Sood menyebut beberapa kondisi yang meningkatkan risiko kontaminasi bakteri pada nasi matang, antara lain proses pendinginan yang terlalu lambat atau terlambat dimasukkan ke lemari es, nasi berada di luar pendingin lebih dari dua jam, penyimpanan berhari-hari, serta kebiasaan memanaskan ulang berulang kali.
Di sisi lain, nasi yang disimpan dalam lemari es dapat mengalami perubahan pati menjadi pati resisten yang termasuk jenis serat. Proses pemanasan ulang juga dapat membantu menurunkan kandungan kalori serta menjaga kadar gula darah tetap stabil. “Pencegahan itu semua tentang waktu dan suhu,” ujar Dr. Sood.
Ia menekankan bahwa mengikuti langkah penyimpanan yang benar dapat menurunkan risiko nasi menjadi berbahaya bagi kesehatan. Waktu paling aman untuk mengonsumsi nasi matang adalah dalam rentang 24 hingga 48 jam setelah dimasak, dengan pemanasan ulang hanya sekali hingga benar-benar panas dan beruap.
Selain itu, nasi sebaiknya segera didinginkan setelah dimasak dengan memindahkannya ke wadah lain, lalu disimpan di lemari es sekitar satu jam pada suhu 4 derajat Celsius untuk menjaga keamanan pangan serta kualitas nutrisi tetap terjaga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Penumpang kereta api di wilayah Daop 6 Jogja melonjak 40 persen saat libur sekolah, capai 63 ribu orang.
India minta WhatsApp tunda fitur username karena khawatir dipakai penjahat siber. WhatsApp membela diri dengan perlindungan berlapis. Fitur ini masih opsional.
Beta Mom, gaya asuh santai yang viral di TikTok dan Wall Street Journal. Lawan helicopter parenting, fokus pada fleksibilitas dan kebahagiaan ibu-anak.
Animaccord membantah tuduhan bahwa Masha and the Bear menjadi alat propaganda Rusia. Studio menegaskan serial itu hanya mengusung nilai persahabatan dan imajina
Maroko lebih diunggulkan menghadapi Kanada pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 berkat pengalaman, organisasi permainan, dan performa konsisten.
Pelaku usaha pigura di Sleman tertekan akibat kenaikan harga kaca dan kayu hingga 40 persen. Di saat yang sama, penjualan dilaporkan turun hingga 50 persen.