Razia Gabungan di Lapas Narkotika Jogja, 50 Warga Binaan Langsung Jalani Tes Urine
Razia gabungan di Lapas Narkotika Kelas IIA Yogyakarta menyasar narkotika, HP dan senjata tajam. Tes urine 50 warga binaan negatif.
Ilustrasi pneumonia pada anak. - Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Metode Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) kembali disorot sebagai salah satu protokol paling efektif untuk mendeteksi penyakit serius pada balita, termasuk pneumonia yang masih menjadi penyebab kematian anak tertinggi. Upaya digitalisasi MTBS bahkan dinilai mampu memangkas waktu pelayanan signifikan, dari sekitar 25 menit menjadi hanya 10 menit.
Efektivitas tersebut terungkap dalam studi analisis kebijakan yang dilakukan Mahasiswa Magister Kebidanan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA), Izza Fitrotun Nisa dan Alya Nursyifa Perwata, pada salah satu puskesmas di DIY. Penelitian menemukan bahwa konsistensi tenaga kesehatan dalam menerapkan MTBS berdampak langsung pada peningkatan deteksi dini pneumonia.
“Penerapan MTBS yang disiplin tidak hanya meningkatkan temuan kasus lebih awal, tetapi juga mengantarkan puskesmas itu meraih Juara Provinsi Inovasi Tumbuh Kembang Balita,” ujar Izza, Rabu (14/1/2026).
Namun demikian, Alya menjelaskan bahwa pelaksanaan MTBS di lapangan tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah mekanisme deteksi pasif, yang membuat tenaga kesehatan cenderung menunggu pasien datang. Kondisi ini membuka celah terjadinya missing cases, terutama ketika orang tua tidak memahami gejala awal pneumonia.
“Meski terbukti efektif, risiko kasus tidak terpantau tetap tinggi jika deteksi hanya bergantung pada kunjungan pasien,” kata Alya.
Dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Sulistyaningsih, menilai bahwa digitalisasi MTBS menjadi langkah krusial untuk menjawab persoalan tersebut. Dengan dukungan sistem digital, proses asesmen balita dapat berlangsung lebih cepat dan akurat.
“Digitalisasi MTBS terbukti memangkas waktu pelayanan menjadi hanya sekitar 10 menit. Integrasi dengan kecerdasan buatan juga memungkinkan pemantauan data secara real-time, sehingga balita tidak lagi luput dari pengawasan,” jelasnya.
Sulistyaningsih menegaskan bahwa upaya memerangi pneumonia tidak bisa hanya mengandalkan tenaga medis. Keterlibatan berbagai elemen masyarakat menjadi kunci keberhasilan.
“Kolaborasi teknologi, kader posyandu terlatih, dan orang tua yang waspada adalah pertahanan terbaik untuk melindungi masa depan anak-anak Indonesia,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Razia gabungan di Lapas Narkotika Kelas IIA Yogyakarta menyasar narkotika, HP dan senjata tajam. Tes urine 50 warga binaan negatif.
BPKH mengajak generasi muda mulai merencanakan keuangan haji sejak dini sekaligus memanfaatkan platform digital untuk dakwah.
Zulhas memastikan manajer Kopdes yang ditempatkan jauh dari domisili akan disesuaikan ke koperasi terdekat setelah titik tersedia.
Kejagung menyebut kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi tata kelola MBG mencapai sekitar Rp10 triliun berdasarkan penghitungan BPKP.
Sebanyak 40 KDMP di Sleman sudah beroperasi hingga September 2026, sedangkan 46 lainnya masih berproses menjalankan unit usaha.
Bansos beras 30 kg kembali disalurkan Oktober-Desember 2026 untuk 33,24 juta penerima. Cek status penerima menggunakan NIK.