Sisa Kuota Internet Tak Boleh Hangus, Operator Wajib Beri Pilihan
Menkomdigi Meutya Hafid menerbitkan SE Nomor 4/2026. Operator seluler wajib melindungi sisa kuota dan memberi pilihan layanan kepada pelanggan
Foto ilustrasi uang - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Psikolog klinis Olphi Disya Arinda menjelaskan bahwa uang kerap digunakan sebagai alat regulasi emosi, ketika seseorang menjadikan pengeluaran finansial sebagai cara meredakan tekanan psikologis.
Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia Olphi Disya Arinda, M.Psi., Psikolog mengungkapkan bahwa financial coping atau penggunaan uang sering digunakan sebagai alat untuk regulasi emosi.
“Banyak orang yang menggunakan financial coping. Jadi, uang itu bukan cuma alat tukar, bukan alat tukar antarbarang saja, tapi juga alat tukar emosi, yang tadinya sedih agar bisa jadi senang lagi,” kata Disya dalam diskusi temu media di Jakarta, Selasa (2/12/2025).
Disya menilai perilaku seperti belanja berlebih, mengambil pinjaman, atau menghamburkan uang dijadikan sebagai cara tidak langsung mengurangi stres, kesepian, atau rasa tidak berdaya, di mana ketika seseorang merasa tidak aman (insecure) atau ada bagian dari dirinya yang dirasa tidak puas sehingga mengeluarkan uang seolah memiliki kontrol atau kekuatan.
“Banyak orang juga yang mengeluarkan uang tidak pada tujuan yang tepat, sehingga bisa jadi ini ada latar belakang kondisi emosi yang bisa dibilang kurang sehat. Tanpa disadari, ini menciptakan pola yang namanya emotional spending atau emotional debt,” tutur dia.
Disya menjelaskan bahwa ketika emosi seseorang menjadi sulit untuk berpikir logis atau berpikir dengan cara yang cukup bijak lantaran area di bagian otak, yakni amigdala, yang berfungsi mengontrol emosi, terpicu menjadi lebih aktif.
Di sisi lain bagian otak, yakni prefrontal cortex, yang berfungsi untuk mengambil keputusan, pemecahan masalah, dan berpikir strategis, justru bekerja menjadi lebih lambat. Respons amigdala dinilainya seperti “sistem alarm” di otak yang membuat hormon kortisol meningkat sebagai tanda adanya ancaman.
“Otak logis kita itu jadi seolah redup, jadi kita enggak bisa melakukan perencanaan atau pengambilan keputusan yang bijak. Inilah yang membuat seseorang lebih cenderung impulsif, menghindar kalau ada masalah, atau mengambil keputusan jangka pendek,” ujar psikolog yang juga berpraktik di Mayapada Medical Center Kuningan Jakarta itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Menkomdigi Meutya Hafid menerbitkan SE Nomor 4/2026. Operator seluler wajib melindungi sisa kuota dan memberi pilihan layanan kepada pelanggan
Hotspot karhutla Indonesia mencapai 18.065 titik pada 28 Agustus 2026. Kemenhut fokus mengendalikan kebakaran di enam provinsi prioritas.
Simak daftar lengkap jalur Trans Jogja aktif beserta tarif terbaru dan sistem pembayaran nontunai di Yogyakarta.
Ledakan diduga akibat kebocoran gas di Bekasi melukai enam orang satu keluarga. Ayah dan anak meninggal setelah mengalami luka bakar parah.
Simak jadwal lengkap KA Bandara YIA. Kereta beroperasi sejak dini hari hingga malam untuk mendukung mobilitas penumpang.
Dengan cakupan rute yang menjangkau wilayah Sleman hingga kawasan barat Kota Jogja, operasional Bus DAMRI Jogja–YIA diharapkan dapat mendukung mobilitas penumpa