Tribun GOR Satria Purwokerto Ambruk, 75 Penonton Jadi Korban
Tribun VIP GOR Satria Purwokerto ambruk saat Drift Speed Fest. Sebanyak 75 penonton luka-luka dan dirawat di sejumlah rumah sakit.
Anak flu - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Tingginya mobilitas wisatawan saat akhir tahun membuat anak lebih rentan terpapar penyakit, terutama bila menuju negara dengan pola penyebaran infeksi berbeda.
Anggota Satuan Tugas Imunisasi IDAI Dr. dr. Martira Maddeppungeng, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K) menyampaikan pentingnya pelaku perjalanan memperhatikan persebaran penyakit di negara atau wilayah tujuan sebelum berlibur ke mancanegara.
"Kita harus benar-benar mengetahui epidemiologi negara tujuan. Tanggung jawab kita adalah mencegah penyebaran penyakit, baik ke negara yang dikunjungi maupun saat kembali pulang," katanya dalam acara yang diikuti via daring dari Jakarta pada Selasa (25/11/2025).
Ia menyampaikan bahwa setiap negara memiliki pola penyebaran penyakit yang berbeda dan memberlakukan persyaratan vaksinasi yang berbeda bagi pendatang guna meminimalkan risiko penularan penyakit.
Kondisi lingkungan termasuk iklim, musim, suhu, dan kelembapan serta akses ke fasilitas pelayanan kesehatan berpengaruh pada risiko penularan penyakit di negara tujuan perjalanan.
Risiko kesehatan selama perjalanan juga dipengaruhi faktor seperti polusi udara, akses ke layanan dan produk perawatan kesehatan, paparan penyakit menular, akses ke makanan dan air yang aman, standar sanitasi dan kebersihan, serta adat istiadat setempat.
Organisasi Kesehatan Dunia menyarankan orang-orang yang melakukan perjalanan memperhatikan risiko penularan penyakit akibat infeksi virus dengue dan virus zika, penyakit chikungunya, penyakit malaria, dan penyakit demam kuning.
Menurut dokter Martira, penularan penyakit seperti influenza, campak, hepatitis, kolera, dan tifoid juga perlu diwaspadai selama berlibur ke luar negeri.
Sebagai gambaran, dia menyampaikan risiko akibat peningkatan angka kasus penyakit campak global dalam dua tahun terakhir.
"Bayangkan kalau satu saja tidak taat vaksinasi, itu dapat menjadi sumber wabah di negara lain. Karena itu diperlukan disiplin dan kepatuhan terhadap jadwal vaksinasi sebelum melakukan perjalanan," ia menjelaskan.
"Remaja harus sudah lengkap status imunisasinya, karena itu sering menjadi syarat administrasi perjalanan, misalnya ketika mengurus visa."
Dia menyarankan para orang tua memeriksa status imunisasi anak dan berkonsultasi dengan dokter mengenai kebutuhan vaksinasi anak sebelum bepergian ke negara lain bersama keluarga.
Selain itu, perlu pula mengecek syarat vaksinasi bagi pendatang yang diberlakukan di negara tujuan. "Persiapan tidak bisa mendadak. Antibodi membutuhkan waktu untuk terbentuk, jadi idealnya vaksin diberikan empat hingga enam minggu sebelum berangkat," kata dokter Martira.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tribun VIP GOR Satria Purwokerto ambruk saat Drift Speed Fest. Sebanyak 75 penonton luka-luka dan dirawat di sejumlah rumah sakit.
Nissan Leaf Nismo resmi meluncur di Jepang dengan fokus pada handling dan desain sporty, bukan peningkatan tenaga. Cek spesifikasi lengkapnya!
Kimi Antonelli finis podium ketiga pada F1 GP Hungaria 2026 meski start dari posisi ketujuh. Hasil ini memperlebar keunggulannya di puncak klasemen Formula 1.
Maroko menamai jalan raya sepanjang 1.055 kilometer dengan nama Donald Trump. Langkah ini dinilai menjadi simbol kuat hubungan diplomatik AS dan Maroko terkait
Peretas curi 30 TB data militer dari IMCO, pemasok tank Merkava Israel. Dokumen sensitif dan cetak biru senjata diduga bocor dalam serangan siber ini.
Setir mobil terasa berat? Kenali 8 penyebab utama, mulai dari pompa power steering hingga tekanan ban, serta 5 cara mengatasinya untuk keselamatan Anda.