Kemnaker Targetkan 70 Persen Lulusan Pelatihan Vokasi Bekerja
Kemnaker menargetkan 70% lulusan pelatihan vokasi bekerja melalui transformasi BPVP, pelatihan sesuai kebutuhan industri, dan pelacakan alumni.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Kebiasaan mengorok pada orang dengan obesitas perlu mendapat perhatian karena dapat berkaitan dengan obstructive sleep apnea (OSA) atau henti napas saat tidur.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia lulusan Universitas Indonesia dr. Rizky Aulia Fanani, Sp.JP, Subsp. Ar.(K), mengatakan kebiasaan mengorok banyak ditemukan pada pasien obesitas yang juga mengalami fibrilasi atrium atau atrial fibrillation (AF).
“Jadi, mengorok ini yang sangat-sangat under-diagnosed, yang sangat jauh dari terapi, bahwa pasien-pasien yang obesitas dan terkait dengan fibrilasi atrial atau AF, itu banyak yang mengorok,” kata Rizky dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.
Menurut Rizky, mengorok tidak semata-mata menjadi tanda seseorang sedang tidur. Kondisi tersebut perlu diperhatikan terutama jika disertai OSA, yang ditandai dengan berhentinya napas selama beberapa detik ketika tidur.
OSA juga dapat menjadi salah satu faktor risiko tersembunyi pada pasien dengan fibrilasi atrium. Kondisi berhentinya napas dapat terjadi berulang selama seseorang tidur.
Ketika tubuh kekurangan oksigen, menurut Rizky, dapat terjadi inflamasi atau peradangan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mempercepat terbentuknya aterosklerosis atau peradangan pada dinding pembuluh darah sehingga mempermudah terjadinya fibrilasi atrium.
“Jadi, mengorok ini harus diintervensi. Diintervensi bisa dengan konsultasi dengan dokter,” ujarnya.
Penanganan Sesuai Penyebab
Rizky mengatakan penanganan kebiasaan mengorok dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya. Jika kondisi tersebut berkaitan dengan lemak darah, faktor tersebut perlu ditangani.
Sementara jika mengorok berkaitan dengan alergi, kondisi tersebut dapat dikonsultasikan dengan dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).
Dia juga menjelaskan bahwa gangguan irama jantung atau aritmia dapat muncul pada orang yang pembuluh darah koronernya normal. Karena itu, kualitas dan kecukupan tidur perlu diperhatikan.
“Tidurnya harus berkualitas, harus cukup, dan pastikan selama tidurnya yang cukup tadi, jumlahnya cukup, kualitasnya baik, harus ada screening mengorok,” ujar Rizky.
Pemeriksaan awal terkait kebiasaan mengorok, lanjut dia, dapat dilakukan dengan menanyakan kepada pasangan atau orang yang menjadi teman tidur.
Selain itu, teknologi seperti jam pintar (smartwatch) juga dapat digunakan untuk mendeteksi kualitas tidur serta melihat adanya episode kehilangan atau gangguan selama tidur.
Obesitas dan Aritmia
Terkait obesitas, Rizky mengatakan penurunan obesitas dan pengendalian resistensi insulin dapat membantu mengontrol aritmia. Namun, dia menekankan bahwa aritmia memiliki banyak jenis.
Rizky menyebut orang dengan obesitas, seperti obesitas morbid, memiliki risiko fibrilasi atrium yang lebih tinggi. Penyakit tersebut dapat ditangani dengan tindakan ablasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Kemnaker menargetkan 70% lulusan pelatihan vokasi bekerja melalui transformasi BPVP, pelatihan sesuai kebutuhan industri, dan pelacakan alumni.
Harga cabai merah di Jateng mencapai Rp90.000 per kg. Pemprov Jateng menggelar pangan murah dan memberi bantuan untuk menekan inflasi.
Kota Jogja mencatat 77 kejadian kebakaran hingga September 2026. Umbulharjo terbanyak, sementara Damkarmat belum merancang program baru pada 2027.
Bareskrim Polri memburu bandar dan penyuplai narkoba lewat operasi nasional. Sebanyak 60 orang diamankan di Jakarta dan Sumatra Utara.
Kelok 23 ditargetkan rampung pada 2027. Simak kendala pembangunan, rambu keselamatan, drainase, hingga rencana penataan lalu lintas.
Pasar Sentul menghadapi persaingan pedagang yang berjualan di rumah warga. Kemudahan akses dan kebiasaan pembeli menjadi tantangan revitalisasi.