Sering Mengorok pada Orang Obesitas Bisa Jadi Tanda OSA

Newswire
Newswire Senin, 28 September 2026 22:37 WIB
Sering Mengorok pada Orang Obesitas Bisa Jadi Tanda OSA

Ilustrasi. /Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Kebiasaan mengorok pada orang dengan obesitas perlu mendapat perhatian karena dapat berkaitan dengan obstructive sleep apnea (OSA) atau henti napas saat tidur.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia lulusan Universitas Indonesia dr. Rizky Aulia Fanani, Sp.JP, Subsp. Ar.(K), mengatakan kebiasaan mengorok banyak ditemukan pada pasien obesitas yang juga mengalami fibrilasi atrium atau atrial fibrillation (AF).

“Jadi, mengorok ini yang sangat-sangat under-diagnosed, yang sangat jauh dari terapi, bahwa pasien-pasien yang obesitas dan terkait dengan fibrilasi atrial atau AF, itu banyak yang mengorok,” kata Rizky dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

Menurut Rizky, mengorok tidak semata-mata menjadi tanda seseorang sedang tidur. Kondisi tersebut perlu diperhatikan terutama jika disertai OSA, yang ditandai dengan berhentinya napas selama beberapa detik ketika tidur.

OSA juga dapat menjadi salah satu faktor risiko tersembunyi pada pasien dengan fibrilasi atrium. Kondisi berhentinya napas dapat terjadi berulang selama seseorang tidur.

Ketika tubuh kekurangan oksigen, menurut Rizky, dapat terjadi inflamasi atau peradangan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mempercepat terbentuknya aterosklerosis atau peradangan pada dinding pembuluh darah sehingga mempermudah terjadinya fibrilasi atrium.

“Jadi, mengorok ini harus diintervensi. Diintervensi bisa dengan konsultasi dengan dokter,” ujarnya.

Penanganan Sesuai Penyebab

Rizky mengatakan penanganan kebiasaan mengorok dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya. Jika kondisi tersebut berkaitan dengan lemak darah, faktor tersebut perlu ditangani.

Sementara jika mengorok berkaitan dengan alergi, kondisi tersebut dapat dikonsultasikan dengan dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).

Dia juga menjelaskan bahwa gangguan irama jantung atau aritmia dapat muncul pada orang yang pembuluh darah koronernya normal. Karena itu, kualitas dan kecukupan tidur perlu diperhatikan.

“Tidurnya harus berkualitas, harus cukup, dan pastikan selama tidurnya yang cukup tadi, jumlahnya cukup, kualitasnya baik, harus ada screening mengorok,” ujar Rizky.

Pemeriksaan awal terkait kebiasaan mengorok, lanjut dia, dapat dilakukan dengan menanyakan kepada pasangan atau orang yang menjadi teman tidur.

Selain itu, teknologi seperti jam pintar (smartwatch) juga dapat digunakan untuk mendeteksi kualitas tidur serta melihat adanya episode kehilangan atau gangguan selama tidur.

Obesitas dan Aritmia

Terkait obesitas, Rizky mengatakan penurunan obesitas dan pengendalian resistensi insulin dapat membantu mengontrol aritmia. Namun, dia menekankan bahwa aritmia memiliki banyak jenis.

Rizky menyebut orang dengan obesitas, seperti obesitas morbid, memiliki risiko fibrilasi atrium yang lebih tinggi. Penyakit tersebut dapat ditangani dengan tindakan ablasi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online