Lima Calon Ketum PBNU Disetujui Rais Aam, Siapa Saja?
Muktamar Ke-35 NU memasuki tahap penentuan Ketum PBNU. Lima calon telah disetujui Rais Aam terpilih K.H. Miftachul Akhyar.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Kurang tidur dan depresi bisa memicu nyeri haid makin parah. Seperti dikutip dari Medical Daily, Rabu (4/12/2024), Dismenore, atau nyeri haid parah, dialami sekitar 15 persen wanita dan biasanya terjadi menjelang menstruasi, lalu mereda dalam beberapa hari.
Jika nyeri haid terjadi tanpa kondisi mendasar lainnya, itu disebut dismenore primer. Nyeri jenis ini sering disebabkan oleh tingginya kadar prostaglandin, zat mirip hormon yang meningkatkan kontraksi rahim. Sementara itu, dismenore sekunder disebabkan oleh kondisi medis seperti endometriosis atau fibroid rahim.
Dalam studi terbaru yang diterbitkan di Briefings in Bioinformatics, para peneliti menemukan bahwa depresi memiliki dampak signifikan terhadap dismenore primer setelah menganalisis sekitar 600.000 kasus dari populasi Eropa dan 8.000 dari populasi Asia Timur.
Penelitian ini menunjukkan hubungan kuat antara keduanya pada kedua kelompok. Para peneliti juga melakukan studi asosiasi genom luas dan mengidentifikasi gen serta protein kunci yang terlibat dalam interaksi ini.
"Temuan kami memberikan bukti awal bahwa depresi mungkin menjadi penyebab, bukan akibat, dari dismenore, karena kami tidak menemukan bukti bahwa nyeri haid meningkatkan risiko depresi," kata penulis utama Shuhe Liu dari Xi'an Jiaotong-Liverpool University, Tiongkok.
Pengamatan menarik lainnya adalah bahwa gangguan tidur, yang sering dialami oleh penderita depresi, berperan penting dalam menghubungkan depresi dan dismenore.
BACA JUGA: Dispar Catat 2,1 Juta Wisatawan Mengunjungi Destinasi Wisata di Bantul
"Kami menemukan bahwa gangguan tidur yang meningkat dapat memperburuk nyeri haid. Oleh karena itu, mengatasi masalah tidur mungkin menjadi kunci dalam menangani kedua kondisi ini," tambah Liu.
Namun, penelitian lebih besar dan eksperimen biologis diperlukan untuk memahami sepenuhnya hubungan kausal antara nyeri haid dan depresi.
Berdasarkan temuan saat ini, para peneliti menyerukan peningkatan skrining kesehatan mental bagi individu yang menderita dismenore.
Liu menjelaskan bahwa ini dapat menghasilkan opsi perawatan yang lebih personal, mengurangi stigma, dan meningkatkan layanan kesehatan bagi mereka yang terdampak.
"Depresi dan nyeri haid memiliki dampak signifikan pada kehidupan wanita di seluruh dunia, tetapi hubungan antara keduanya masih kurang dipahami. Tujuan kami adalah menyelidiki masalah ini secara mendalam, mengungkap hubungan kompleks tersebut, dan menemukan cara yang lebih baik untuk mengatasinya," kata Dr. John Moraros, salah satu peneliti utama dari Xi'an Jiaotong-Liverpool University, kepada CNN.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Muktamar Ke-35 NU memasuki tahap penentuan Ketum PBNU. Lima calon telah disetujui Rais Aam terpilih K.H. Miftachul Akhyar.
Wisata Labuan Bajo berangsur pulih pascagempa Flores. Sejumlah destinasi kembali menerima wisatawan dengan memperhatikan faktor keselamatan.
Kinerja keselamatan penerbangan Indonesia mencapai 78,85% berdasarkan audit ICAO, melampaui rata-rata global yang berada di angka 70,6%.
Budi Gunadi Sadikin mengungkap alasan maju sebagai calon Dirjen WHO. Ia menyebut pencalonan tersebut merupakan amanah Presiden Prabowo.
Investor di kawasan JJLS Gunungkidul diminta mematuhi perizinan dan menjaga lingkungan setelah Kelok 23 selesai dibangun.
Posko GRIB Jaya di Kebon Jeruk terbakar pada Senin dini hari. Polisi menyebut api diduga berasal dari korsleting listrik.