Hanya Desil 1-4 yang Bisa Terima Bansos Agustus 2026, Cek Datanya
Bansos Agustus 2026 mengacu DTSEN. Cek status penerima, desil, serta cara memperbarui dan menyanggah data melalui kanal resmi.
Ilustrasi kesehatan mental (Freepik)
Harianjogja.com, JAKARTA—Memiliki kesibukan dan rutinitas sehari-hari membantu mengurangi tingkat keparahan attention deficit and hiperactivity disorder (ADHD), gangguan mental yang menyebabkan pengidapnya menjadi hiperaktif dan sulit berkonstrasi.
Ditulis laman Channel News Asia, Minggu, studi terbaru menunjukkan bahwa memiliki rutinitas dan kesibukan memberikan manfaat bagi pengidap ADHD. Bahkan ketika gejala sudah lebih ringan, dia mampu menangani lebih banyak tuntutan.
"Sering kali, orang dengan ADHD tampaknya paling berhasil saat ada tenggat waktu yang mendesak atau saat taruhannya tinggi," kata profesor psikiatri dan ilmu perilaku di Fakultas Kedokteran Universitas Washington di Seattle, Amerika Serikat, Margaret Sibley, yang memimpin penelitian tersebut.
Studi tersebut, yang dipublikasikan secara daring pada bulan Oktober di Journal of Clinical Psychiatry, melacak 483 pasien di Amerika Serikat dan Kanada yang masing-masing memiliki kombinasi gejala ADHD yang tidak perhatian dan hiperaktif-impulsif. Para peneliti mengikuti para peserta selama 16 tahun, dimulai pada usia rata-rata delapan tahun.
Mereka menemukan bahwa sekitar tiga perempat pasien mengalami fluktuasi gejala, umumnya dimulai sekitar usia 12 tahun, yang mencakup remisi gejala secara penuh atau sebagian.
BACA JUGA: Dinkes Kulonprogo Intensifkan Skrining Kesehatan Mental pada Anak Sekolah
Sibley mengatakan periode remisi tersebut lebih mungkin terjadi selama masa-masa sulit dalam hidup, misalnya, mereka yang bekerja atau bersekolah penuh waktu, membesarkan anak-anak, hidup mandiri, atau memiliki kewajiban finansial kepada orang lain selain diri mereka sendiri memiliki peluang lebih besar untuk memperbaiki gejala mereka.
Tidak semua pengidap ADHD bisa terbantu oleh kesibukan, menurut Dr. Craig Surman, direktur program klinis dan penelitian ADHD dewasa di Rumah Sakit Umum Massachusetts, yang tidak terlibat dalam penelitian ini. Respons gejala mereka bergantung pada apakah kemampuan dan kekuatan seseorang sesuai dengan apa yang diharapkan dari mereka sebagai pelajar, karyawan, atau pengasuh.
Keterbatasan studi yang diadakan Sibley adalah para peneliti mencatat "tuntutan lingkungan" setiap orang dalam interval dua tahun, alih-alih memeriksanya lebih sering.
Psikolog klinis anak dan remaja Douglas Tynan mencatat bahwa mereka yang menderita ADHD dapat mengalami kesulitan dengan tugas-tugas yang membosankan, seperti pekerjaan rumah tangga. Bagi orang-orang seperti itu, menggunakan strategi terorganisasi seperti membuat daftar tugas, juga diperlukan, tidak hanya saat beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lain, tapi, juga saat kembali ke aktivitas yang sedang berlangsung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Bansos Agustus 2026 mengacu DTSEN. Cek status penerima, desil, serta cara memperbarui dan menyanggah data melalui kanal resmi.
Media Vietnam The Thao 247 sebut Timnas Indonesia bakal turun dengan skuad terbaik di FIFA ASEAN Cup 2026. Maarten Paes hingga Jay Idzes siap bergabung.
Simak alasan teknis mengapa interval ganti oli mobil Eropa bisa mencapai 24.000 km, mulai dari presisi mesin hingga standar oli low-SAPS.
iOS 27 beta 5 mengungkap enam iPhone baru yang belum diumumkan Apple, termasuk iPhone Ultra yang disebut sebagai ponsel lipat pertama.
Anggota DPRD DIY, Rahayu Widi Nuryani, mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperkuat branding agar produk tidak hanya viral
Harga emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian kompak turun pada Kamis 13 Agustus 2026. Simak daftar harga jual dan buyback terbaru dari 0,5 gram hingga 1.00