Ratusan Orang di Rusia Terkena Gangguan Saraf, Salad Diduga Penyebabnya

Muhammad Sulthon Sulung Kandiyas
Muhammad Sulthon Sulung Kandiyas Kamis, 20 Juni 2024 15:47 WIB
Ratusan Orang di Rusia Terkena Gangguan Saraf, Salad Diduga Penyebabnya

Gangguan saraf - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Sebanyak 12 orang orang di Moskow, Rusia terkena gangguan saraf langka. Penyebabnya diduga berasal dari salad cepat saji. Salad tersebut terkontaminasi bakteri Clostridium botulinum.

Penyakit ini menyebabkan 121 orang dilarikan ke rumah sakit dan 30 diantaranya membutuhkan perawatan intensif. Kasus ini termasuk langka terjadi dan sangat berbahaya bagi kesehatan.

“Secara total, 121 orang mencari bantuan medis,” kata Wakil Wali Kota Moskow Anastasia Rakova, dilansir The Moscow Times pada Rabu (19/6/2024)

Pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor menduga kontaminasi bakteri tersebut berasal dari kedai makan cepat saji yang menjual menu salad bernama Kukhnya Na Rayone di Moskow, Kazan, dan beberapa kota lainnya.

Pihak Rospotrebnadzor melayangkan surat pemberhentian sementara penjualan salad untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Selain itu, pihak restoran juga berhenti memproduksi salad yang mengandung kacang kalengan dan memeriksa menu lainnya agar terhindar dari kasus serupa.

Anastasia menerangkan sampai saat ini belum mendapatkan laporan korban jiwa akibat penyakit tersebut. Meski begitu, pihaknya akan terus melakukan pendalaman kasus. Hal ini juga didukung dari terbitnya surat perintah dari kantor kejaksaan Moskow untuk melakukan penyelidikan kirminal atas pelanggaran standar keselamatan konsumen

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bakteri tersebut memproduksi racun botulin, penyebab munculnya botulisme. Salah satu dampak dari keracunana ini adalah terganggunya fungsi saraf dan merupakan masalah kesehatan yang jarang terjadi.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, botulisme bawaan makanan bisa berakibat fatal jika tidak segera diobati dengan antitoksin. Botulisme, yang tidak menular pada manusia, adalah kondisi yang sangat langka, biasanya disebabkan oleh makanan yang diproses secara tidak benar.

BACA JUGA: BPS Catat Impor Beras Naik 165 Persen hingga Mei 2024

Seperti dikutip dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), botulisme bisa disebabkan dari luka terbuka yang terpapar spora penghasil racun. Begitu pun bagi individu yang mempunyai kecenderungan menggunakan obat-obat terlarang melalui proses penyuntikan.

Selain itu, suntikan saat menjalankan treatment kecantikan juga berpotensi membuat individu terserang botulisme lantaran kandungan cairan yang disuntikan memungkinkan mengandung banyak toksin.

Botulisme umumnya menyerang anak bayi berusia 2 dan 8 bulan yang tumbuh di saluran usus bayi. Penyebab utamanya adalah makanan yang telah terkontaminasi clostridium botulinum.

Pada tahun 2021, terdapat 82 kasus botulisme di Wilayah Ekonomi Eropa. Adapun gejala botulisme, yaitu:

- Mulut kering

- Sulit menelan atau berbicara

- Sulit bernapas

- Mual, muntah, dan kran perut

- Terganggunya otot wajah sebagian

- Gangguan penglihatan

- Mudah lelah

- Sembelit

- Kelopak mata terkulai

- Kelumpuhan

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online