Rumah Duka Guruh Soekarnoputra Dipadati Pelayat dan Karangan Bunga
Rumah duka Guruh Soekarnoputra di Jakarta dipadati pelayat dan karangan bunga setelah maestro seni itu wafat pada usia 73 tahun.
Ilustrasi saraf kejepit./Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Kaum rebahan atau orang yang jarang bergerak disinyalir lebih rentan mengalami saraf kejepit atau pinched nerve, yakni kondisi dimana saraf terjepit, tertekan, atau mengalami tekanan berlebihan di sepanjang jalur normalnya.
Hampir semua bagian tubuh dapat mengalami saraf terjepit antara lain termasuk tulang belakang, leher, bahu, lengan, pinggul, atau kaki.
Hubungan antara kaum rebahan dengan risiko terjadi saraf terjepit ini dijelaskan oleh I Made Buddy seorang spesialis Ortopedi & Traumatologi. Dimana minimnya gerakan atau kegiatan fisik mengakibatkan otot-otot menjadi lemah dan kaku sehingga meningkatkan risiko saraf terjepit.
“Jarang gerak ini berarti memiliki arti yang sama dengan jarang olahraga. Semua gerakan yang ada di tubuh kita baik itu sendi perlu itu perlu exercise demi mencegah penuaan diri,” ujar sang spesialis tulang belakang melansir dari Bisnis-jaringan Harianjogja.com.
Buddy melanjutkan, jarang gerak atau kurangnya aktivitas fisik yang cukup dapat menyebabkan penuaan dini pada tulang serta meningkatkan risiko osteoporosis, suatu kondisi tulang menjadi rapuh, tipis, dan rentan terhadap patah tulang.
Baca juga: Long Weekend di Jogja, Ada Kotabaru Selain Malioboro Lho
Berbagai perubahan pada tubuh dapat terjadi akibat penuaan dini, salah satunya bantalan tulang belakang disebut juga sebagai diskus intervertebralis, berfungsi memberikan fleksibilitas dan penyerapan kejutan saat bergerak.
Diskus intervertebralis akan mengalami degenerasi dan kehilangan elastisitasnya seiring bertambah usia, hingga akhirnya diskus menjadi lebih rapuh serta rentan terhadap kerusakan atau herniasi.
Herniasi diskus kondisi saat inti jaringan dalam diskus menonjol keluar lewat retakan atau robekan pada lapisan luar diskus. Herniasi yang terjadi di dekat saraf tulang belakang, akan menambah tekanan pada saraf lalu menyebabkan saraf terjepit.
Akibat penuaan lain pada orang yang lebih dewasa dapat pula menyebabkan perubahan pada jaringan tulang belakang, seperti pengapuran sendi (osteoartritis) atau peningkatan kekakuan pada tulang belakang yang ikut andil meningkatkan risiko saraf terjepit.
Namun, perlu diperhatikan bahwa kondisi seperti herniasi diskus atau saraf terjepit tidak hanya berkaitan dengan penuaan dini, tetapi juga berpotensi dialami berbagai kelompok usia.
Buddy menambahkan terdapat banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi risiko terjadinya saraf kejepit seperti faktor genetik, gaya hidup, dan cedera sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Rumah duka Guruh Soekarnoputra di Jakarta dipadati pelayat dan karangan bunga setelah maestro seni itu wafat pada usia 73 tahun.
Pemkab Pekalongan meminta mitra MBG patuh SOP, menjaga keamanan pangan, dan memperbesar penyerapan produk lokal dari petani hingga nelayan.
Ekonomi Vietnam tumbuh 9,95% pada kuartal III/2026. Investasi asing dan produksi pabrik menjadi pendorong utama pertumbuhan.
Harga kakao dunia kembali naik pada 2026. Petani masih terkendala produktivitas, sementara industri Indonesia bergantung pada impor biji kakao.
Pengamat UGM Fahmy Radhi menilai Bahlil rangkap Menko Hilirisasi dan Menteri ESDM berpotensi menimbulkan pemborosan anggaran.
Program Gentengisasi Prabowo dimulai dengan penyaluran 500.000 genteng UMKM Plered untuk meningkatkan kualitas hunian MBR.