Program Listrik Desa Digenjot Rp9,7 Triliun Fokus 2027 hingga 2029
ESDM anggarkan Rp9,7 triliun untuk listrik desa 2027, target ribuan lokasi belum berlistrik hingga wilayah terpencil.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Anak yang mudah merasa lapar dan haus bisa menjadi indikator anak terkena diabetes. Hal tersebut disampaikan Guru Besar Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran Bidang Ilmu Kesehatan Anak, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, FAAP, FRCPI.
“Masih banyak orang tua belum sadar bahwa diabetes juga dapat menyerang anak-anak, mereka pikir ini hanya penyakit keturunan, padahal diabetes bisa menyerang siapapun,” kata Aman, pada konferensi pers “Cegah Diabetes Prematur pada Anak dan Remaja” di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (28/3/2023), dikutip dari Antara Rabu (29/3/2023).
Ada beberapa ciri yang dapat mengindikasikan anak terkena diabetes, Aman, yang juga merupakan Dokter Spesialis Anak itu menyebut ketika anak banyak makan dan minum bisa menjadi indikator.
Anak dengan diabetes akan merasa lapar dan haus terus-menerus meski baru selesai makan dan minum. Rasa lapar ini didorong oleh jumlah insulin yang tidak memadai sehingga gula tidak dapat diolah menjadi energi.
Baca juga: Hasil Penelitian Ungkap Pekerjaan dengan Sedikit Interaksi Bikin Hidup Tak Bahagia
Rasa haus yang dialami bukan sekadar sensasi, melainkan disebabkan ketidakmampuan tubuh memproduksi hormon insulin sehingga tubuh dehidrasi.
“Tanda diabetes itu banyak makan, banyak minum, banyak buang air kecil, berat badan turun, dan lemas atau loyo,” kata dia.
Rasa haus terus-menerus menyebabkan anak selalu minum, namun tidak diimbangi dengan kemampuan tubuh untuk menyerap cairan dengan baik.
Aman mengatakan, anak dengan diabetes akan lebih sering buang air kecil dari pada frekuensi normal, terutama di malam hari.
“Bila sebelumnya anak sudah tidak ‘ngompol’ kemudian ‘ngompol’ lagi, hal yang pertama bisa kita pikirkan ini adalah diabetes, usia anak berapapun bisa 'ngompol' karena ini,” tambahnya.
Sementara penurunan berat badan yang drastis dalam 2-6 minggu juga bisa jadi indikasi anak dengan diabetes.
Meski sering makan, tubuh anak tidak bertambah gemuk, melainkan cenderung kehilangan berat badan dalam jumlah yang cukup signifikan.
Hal ini diakibatkan oleh ketidakmampuan tubuh dalam menyerap gula darah dalam tubuh sehingga menyebabkan jaringan otot dan lemak menyusut.
“Selain itu, sejumlah lokasi pada tubuh anak diabetes akan mengalami akantosis nigrikans, atau terlihat menghitam, seperti pada leher, ketiak, hingga jari-jari,” ujar Aman.
Diketahui prevalensi kasus diabetes melitus tipe-1 pada anak meningkat sebanyak 70 kali lipat sejak tahun 2010 hingga 2023.
Pada tahun 2010 prevalensi kasus diabetes melitus terhadap anak di Indonesia hanya 0,028 per 100 ribu jiwa. Kemudian, pada tahun 2023 prevalensi kasus diabetes melitus menjadi 2 per 100 ribu jiwa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
ESDM anggarkan Rp9,7 triliun untuk listrik desa 2027, target ribuan lokasi belum berlistrik hingga wilayah terpencil.
Nothing Ear (Open) Blue resmi hadir di Indonesia dengan harga Rp1,699 juta. Earphone open-ear ini menawarkan baterai hingga 30 jam dan fitur fast charging.
Prediksi Argentina vs Aljazair di Piala Dunia 2026. Juara bertahan waspadai kejutan wakil Afrika yang datang dengan modal impresif.
Musim kemarau di Kabupaten Gunungkidul berdampak terhadap meningkatkanya permintaan air di masyarakat sehingga pengiriman dilakukan hingga tengah malam.
Pemkab Temanggung mencatat tren peralihan penggunaan BBM dari Pertamax ke Pertalite. Stok BBM subsidi dipastikan masih aman.
Pembangunan Sekolah Rakyat di Batang dimulai Juli 2026. Sekolah berasrama ini ditargetkan menampung sekitar 300 siswa dari keluarga miskin.