FIFA Rilis Tim Terbaik Piala Dunia 2026, Messi hingga Mbappe Masuk
FIFA merilis Tim Terbaik Piala Dunia 2026. Spanyol dan Prancis mendominasi, sementara Messi, Mbappe, dan Haaland mengisi lini depan.
Ilustrasi./JIBI
Harianjogja.com, JAKARTA—Orang bertubuh kurus ternyata tetap berisiko mengalami kolesterol tinggi. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, mengungkapkan sedikitnya terdapat empat faktor yang dapat menyebabkan kondisi tersebut, mulai dari faktor genetik hingga penumpukan lemak di rongga perut.
Dalam sesi edukasi media yang digelar di Jakarta pada Kamis (23/7/2026), Susetyo menjelaskan bahwa kolesterol tinggi pada orang bertubuh kurus tidak hanya dipengaruhi pola makan, tetapi juga berkaitan dengan faktor keturunan dan distribusi lemak di dalam tubuh.
"Jadi memang banyak faktor yang menyebabkan orang kurus mengalami kolesterol tinggi. Tidak hanya karena pola makan, tetapi juga dipengaruhi faktor keturunan maupun distribusi lemak di tubuh," kata Susetyo.
Penyebab pertama adalah faktor genetik atau familial hypercholesterolemia (FH), yakni kelainan bawaan yang membuat kadar kolesterol low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat tetap tinggi meski seseorang memiliki berat badan normal.
"Ini penyakit genetik. Jadi meskipun badannya kurus, kadar kolesterol LDL bisa tetap tinggi," ujarnya.
Faktor kedua adalah pola makan yang kurang sehat, terutama kebiasaan mengonsumsi makanan yang digoreng atau mengandung lemak jenuh dan lemak trans dalam jumlah berlebih.
Menurut Susetyo, pola makan tersebut dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL sehingga memperbesar risiko terbentuknya plak di pembuluh darah.
Selain itu, kurangnya aktivitas fisik juga dapat menjadi penyebab kolesterol tinggi pada orang bertubuh kurus. Aktivitas fisik yang rendah dapat mengganggu metabolisme lemak sehingga kadar kolesterol jahat meningkat.
Penyebab lainnya adalah obesitas sentral atau penumpukan lemak viseral di rongga perut. Menurut dia, kondisi tersebut dapat terjadi pada orang dengan indeks massa tubuh normal sehingga tidak selalu terlihat dari bentuk tubuh.
"Jadi jangan hanya melihat angka di timbangan. Bisa saja berat badannya normal, tetapi lemak di rongga perutnya banyak," katanya.
Ia menjelaskan obesitas sentral pada populasi Asia ditandai dengan lingkar pinggang lebih dari 90 sentimeter pada pria dan lebih dari 80 sentimeter pada perempuan.
Karena itu, Susetyo mengimbau masyarakat tidak hanya memperhatikan berat badan, tetapi juga menjaga pola makan, rutin berolahraga, serta melakukan pemeriksaan kadar kolesterol secara berkala, terutama bila memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
FIFA merilis Tim Terbaik Piala Dunia 2026. Spanyol dan Prancis mendominasi, sementara Messi, Mbappe, dan Haaland mengisi lini depan.
Gibran meminta AJBI memperkuat ekosistem beasiswa bagi Indonesia timur untuk menyiapkan SDM unggul melalui penjaringan talenta sejak SMA.
Seorang konsultan pajak resmi mendaftar sebagai bakal calon lurah Srimartani dan membawa visi pengembangan potensi pariwisata serta ekonomi kalurahan.
Bulog dan TNI menggelar Gerakan Pangan Murah di Banyumas dan Cilacap untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memudahkan masyarakat memperoleh bahan pangan.
Purbaya memastikan utang Whoosh diselesaikan tanpa membebani APBN. Pemerintah menyiapkan skema khusus di luar anggaran negara untuk KCIC.
Orang bertubuh kurus juga dapat mengalami kolesterol tinggi. Dokter spesialis jantung mengungkap empat penyebabnya, mulai dari faktor genetik, pola makan, kuran