Bahlil Siapkan Skema Dana Bioetanol, E10 Dimulai pada 2027
Pemerintah menyiapkan skema pendanaan bioetanol untuk mendukung penerapan E10 pada 2027 tanpa membebani konsumen dan tetap menguntungkan petani.
Aneka bentuk wajah/Istimewa
Harianjogja.com, JAKARTA – Percaya atau tidak, ternyata cara kita bernapas dapat memengaruhi bentuk wajah.
Umumnya, manusia bernapas melalui hidung tetapi ada pula orang-orang yang bernapas melalui mulut mereka.
Kebiasaan ini, menurut dokter spesialis kulit dan kelamin Arthur S, bisa muncul karena mungkin mereka pernah mengalami gangguan pernapasan yang berkepanjangan sehingga perlu dikompensasi melalui pernapasan mulut.
Selain udara jadi tidak tersaring dengan bulu-bulu hidung, bernapas melalui mulut ternyata juga dapat menyebabkan perubahan pada bentuk wajah. Akibatnya, wajah lebih panjang, cenderung turun dan garis rahang menjadi lebih bulat.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
“Kebiasaan bernapas melalui mulut menyebabkan berbagai macam efek yang saling berhubungan,” kata Arthur melalui akun Instagramnya, Kamis (25/11/2021).
Ketika kita bernapas melalui mulut, otot pipi harus bekerja lebih keras.
Saat otot pipi bekerja lebih keras, tekanan pada rahang atas dan bawah juga ikut bertambah.
Tekanan pada rahang inilah yang akan membuat wajah menjadi lebih panjang dan mengubah bentuk susunan gigi.
“Rahang dan posisi gigi yang berubah menjadi lebih sempit, membuat ruang untuk lidah juga menjadi sempit dan membuat lidah harus bersandar ke dasar mulut, padahal biasanya di langit-langit mulut,” jelasnya.
Terutama jika keadaan ini sudah terjadi saat masih usia anak-anak , pertumbuhan wajahnya pun akan jadi menyesuaikan dengan semua perubahan ini.
Berdasarkan sebuah studi di tahun 2016, pernapasan mulut telah dikaitkan dengan kondisi mulut seperti mulut dan bibir kering, karies gigi, penyakit periodontal, halitosis sekunder, deformitas kraniofasial dan maloklusi, serta menelan yang abnormal. Ini juga terkait dengan kondisi medis seperti perubahan postur kepala, leher dan tubuh, apnea tidur obstruktif, kinerja fisik dan pembelajaran yang buruk, dan asma.
Di antara mekanisme fisiopatologis, yang dapat menjelaskan hubungan tersebut adalah hipoksemia kronis dengan hiperkapnia, peningkatan kehilangan air dan energi, penurunan pelepasan hormon pertumbuhan, pelepasan mediator inflamasi dan oksidatif, beban besar pada otot punggung dan leher bagian atas, deformitas pada saluran napas dan deformitas kraniofasial, menurut studi tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Pemerintah menyiapkan skema pendanaan bioetanol untuk mendukung penerapan E10 pada 2027 tanpa membebani konsumen dan tetap menguntungkan petani.
Lonjakan operasi plastik di kalangan anak muda Jepang memicu kekhawatiran. Bahkan anak lulusan SD mulai menjalani operasi kelopak mata dengan persetujuan orang
Federasi Sepak Bola Laos melaporkan dugaan match fixing yang menyeret Timnas Laos di Piala AFF 2026. Polisi diminta menyelidiki indikasi manipulasi pertandingan
Xiaomi resmi meluncurkan HyperOS 4 di China. Sistem operasi terbaru ini membawa desain transparan ala kaca, AI Assistant 2.0, performa lebih cepat, dan fitur li
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY terus menggaungkan semangat literasi melalui bedah buku Homepower
Pendapatan transfer Kulonprogo turun Rp114,66 miliar pada APBD Perubahan 2026. DPRD meminta Pemkab mengubah strategi fiskal.