Polisi Tangkap 2 Pelaku Challenge Hafalan Alquran Dihadiahi Miras
Polisi menangkap dua orang terkait dugaan penistaan agama di The Sounds Project Ancol. Enam saksi telah diperiksa.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JOGJA - Di masa pandemi Covid-19, setiap orang diwajibkan memakai masker terutama saat keluar rumah. Ternyata hal ini berdampak pada pola komunikasi anak-anak, yakni membaca emosi lawan bicaranya.
Membaca emosi bagi anak-anak adalah hal penting di mana bisa menumbuhkan rasa simpati dan empatinya. Sayangnya, sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa anak-anak terutama 5 tahun ke bawah tidak mampu membaca emosi saat lawan komunikasinya mengenakan masker.
Melansir dari Medical Xpress, tim peneliti U-Vip (Unit untuk Tunanetra) yang dipimpin oleh Monica Gori di IIT-Istituto Italiano di Tecnologia (Institut Teknologi Italia) baru-baru ini menerbitkan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak berusia 3 hingga 5 tahun memiliki masalah dalam mengenali emosi orang yang memakai masker bedah.
Kondisi ini menunjukkan adanya efek tambahan dari tindakan pencegahan yang terkait dengan darurat kesehatan Covid-19 ini dapat memengaruhi perkembangan kemampuan interaksi sosial anak-anak. Penelitian ini telah diterbitkan di Frontiers in Psychology.
Dalam penelitisan ini, para ilmuwan dari IIT menyiapkan kuis yang berisi gambar orang dengan dan tanpa masker. Gambar-gambar ini ditampilkan melalui komputer, tablet, atau smartphone kepada 119 individu yang terdiri dari 31 anak berusia antara 3 dan 5 tahun, 49 anak antara 6 dan 8 tahun, dan 39 dewasa antara 18 dan 30 tahun.
Subyek penelitian secara mandiri atau dengan bantuan orang tua dalam kasus peserta termuda, diminta untuk mencoba mengenali ekspresi wajah, dengan dan tanpa masker. Kemudian menyampaikan emosi yang berbeda seperti kebahagiaan, kesedihan, ketakutan, dan kemarahan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak berusia antara 3 hingga 5 tahun hanya 40 persen yang mampu mengenali ekspresi wajah yang menyampaikan kebahagiaan dan kesedihan saat wajah ditutup oleh masker. Sementara pada anak-anak berusia 6 hingga 8 tahun berkisar 55 hingga 65 persen dan orang dewasa 70 hingga 80 persen.
Secara umum, semua kelompok usia menunjukkan tingkat kesulitan dalam menafsirkan emosi yang diekspresikan saat wajah sebagian tertutup oleh masker.
"Eksperimen dilakukan pada fase awal pandemi 2020 dan saat itu masker masih menjadi pengalaman baru bagi semua orang," komentar Monica Gori, pemimpin penelitian.
"Otak anak-anak sangat fleksibel dan saat ini kami sedang melakukan tes untuk memastikan apakah pemahaman emosi anak meningkat atau tidak," tutup Gori.
Studi IIT menyarankan untuk mempertimbangkan penggunaan masker transparan untuk semua orang yang berhubungan dengan anak-anak dalam kelompok usia 3-5 tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Polisi menangkap dua orang terkait dugaan penistaan agama di The Sounds Project Ancol. Enam saksi telah diperiksa.
Prabowo menyebut motor listrik nasional sebagai contoh Indonesia Incorporated melalui kolaborasi swasta, BUMN, dunia usaha, dan akademisi.
Hiromu Tanaka mengaku gugup saat pertama kali bermain di luar Jepang bersama PSS Sleman. Ia kini beradaptasi dengan cuaca Indonesia.
Gunungkidul menyiapkan fasilitas RDF berkapasitas 60 ton sampah per hari. Lelang ditargetkan Oktober 2026 dan beroperasi 2029.
Pemkot Magelang mengingatkan pentingnya menguras tangki septik berkala melalui layanan L2T2 demi sanitasi sehat dan berkelanjutan.
Prabowo menghadiri peluncuran MOLINAS di Cikarang, mencakup manufaktur, baterai, charging, pembiayaan hingga pasar.