Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 079

Joko Santosa
Joko Santosa Kamis, 03 September 2020 23:47 WIB
Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 079

Sandyakala Ratu Malang/Harian Jogja-Hengki Irawan

079

BAGAIKAN seekor burung, tubuh Dinar berkelebatan di atas genteng pada hari Respati Mulailah ia dengan perjalanan malamnya untuk melakukan penyelidikan. Begitu kedua kakinya menginjak atap rumah penduduk Tembayat; begitu angin malam menyembunyikan dinginnya; timbul “passion” petualangan seperti masa muda dulu, dan nalurinya sebagai pendekar membuat ia waspada setiap gerakan tidak wajar sekecil apapun.

Ketajaman pendengarannya bertambah; pandang matanya yang selama sekian tahun ini karam dalam lautan asmara yang tidak kunjung padam bersama Latri kini kembali permana; juga instink yang ada pada setiap jawara kini lantip; semua itu sebagai bekal melakukan investigasi.

Demang Dinar berkelebatan cepat sekali, kadang melompat genteng, kadang berlarian di sela pepohonan. Malam itu nyenyat. Tidak seorang pun kawula Tembayat keluar rumah. Bahkan orang yang mabuk tuak, kepayang asmara, mania judi ceki, malam itu absen. Mereka tidak ingin memertaruhkan nyawa dan memilih berdiam diri di sanggar pamujan.

Beberapa kali Dinar berhenti di bawah pohon besar, matanya terpejam memusatkan gerak yang terasa janggal di sekitarnya. Kemudian diamati dengan teliti ke gedung para perwira, lurah dan saudagar kaya. Tidak ada yang patut dicurigai. Hidungnya membaui aroma kemenyan yang memenuhi udara Tembayat bersama dersik angin. Sesekali terdengar cuitan burung hantu.

Pada suasana ngelangut itulah rasa percaya diri Dinar sebagai pendekar timbul kembali. Di dalam dekapan dan belaian Latri ia merasa tidak berdaya, seakan tidak berdaulat atas raganya sendiri, karena tubuh dan hatinya sudah menjadi milik istrinya. Ia bahagia melihat Latri bahagia Ia puas melihat Latri puas. Tapi malam ini ia merasa menjadi upih-upih yang bebas terbang ke mana pun, tidak terkungkung di dalam sangkar emas. Ia akan menghadapi mala atau pun mara, dengan dada tengadah. Ia kembali menjadi dirinya sendiri seutuhnya.

Tiba-tiba Dinar meloncat tangkas ke atas atap gedung Ki Lurah Branjangan, salah satu prajurit andalannya, yang jujur, anti rasuah, tegas menjalankan tugas, tidak menjilat ke atas juga tidak menekan bawahan. Terdengar jerit menyayat. Dinar melesat ke jendela kamar ki lurah.

Terlambat!

“Hmmm,” Dinar menggeram. Ki Lurah Branjangan terbujur di lantai, ditangisi anak dan istrinya. Darah mengalir di kedua lengannya, dan terutama banyak sekali genangan di dada serta kepalanya. Tidak ada gunanya ia masuk. Ia toh tidak mampu berbuat sesuatu. Semua begitu tiba-tiba, tanpa kuasa ia mencegah.

“Biadab!” Geraham Dinar berkerot. Ia merasa menjadi pecundang.

Dinar meloncat ke dahan pohon randu. Telinganya mendengar sesuatu. Dan tampak dua benda hitam terbang berputar di atas gedung. Burungkah? Gagak atau gaok? Bukan. Barangkali burung hantu? Juga bukan. Sayapnya sama sekali tidak mengeluarkan bunyi. Bentuknya berbeda dengan burung, agak pendek, dan mencicit.

“Kalong!” Dinar menderam.“Ini yang aku cari. Ayo hendak lari ke mana?” Dinar tertawa gembira. Jantungnya berdenyar tegang. Jiwa petualangannya muncul.

“Mampus engkau bedebah keji. Kelelawar peliharaanmu itu yang akan mengantarkan aku ke sarangmu,” Dinar memandang dua ekor lawa dengan mata mencorong.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online