Permendag 19 Tahun 2026 Wajibkan Marketplace Utamakan Produk Lokal
Permendag 19/2026 mewajibkan marketplace memprioritaskan produk lokal tanpa mengatur algoritma platform digital.
Dokter Utojo Lubiantoro (kiri) dan dokter Boy Abidin berbicara di Seminar Awam Jantung dan Kateterisasi di Jakarta pada Sabtu (20/7/2019)./Antara-Akbar Evandio
Harianjogja.com, JAKARTA – Saat ini banyak yang masih salah kaprah bahwa sakit jantung berasal dari makanan dan pola hidup.
Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading bersama dengan Kalbe dan Jakarta Heart and Vascular Center mengadakan seminar awam mengangkat tema Jantung dan Kateterisasi yang digelar di Jakarta pada Sabtu (20/7/2019).
Utojo Lubiantoro, dokter yang menjadi salah satu pemberi materi, menjelaskan bahwa saat ini banyak yang masih salah kaprah bahwa sakit jantung berasal dari makanan dan pola hidup. Dia menyatakan bahwa itu bukan penyebab utama.
“Penyakit jantung koroner dan stroke ini sebenarnya masuk kategori penyakit degeneratif, kita tidak tahu penyebabnya, memang ada beberapa faktor risiko yang lebih tinggi tapi tidak selalu. Kuncinya harus melakukan medical check up untuk laki-laki pada umur 30-an, sedangkan perempuan saat setelah usia menopause,” jelasnya.
Spesialis jantung dan pembuluh darah ini menjelaskan sumbatan pada pembuluh darah terjadi mulai dari dinding pembuluh darah. “Jadi, intinya plak itu bagian dari dinding pembuluh darah. Plak ini bukan menempel, tapi tumbuh dan sampai saat ini belum ada obat yang bisa menghancurkan plak.”
Utojo mengatakan bahwa sampai saat ini penyebab menumbuhnya plak pasti masih belum diketahui. Plak bisa tumbuh dimana saja tapi paling banyak tumbuh di pembuluh koroner. Gejala yang khas dalam medis disebut anginatektoris yaitu rasa nyeri atau tidak nyaman di dada akibat otot jantung tidak mendapat cukup darah karena tersumbat di pembuluh koroner.
“Ada tiga sifat, pertama selalu merasa tidak enak di dada merasa nyeri tumpul. Kedua, lokasi nyeri di leher, rahang, bahu, lengan, ulu hati, nyeri tidak hanya di dada. Karakteristik umumnya terjadi ketika aktivitas atau stress. Ketiga, cepat capek, sesak nafas, dan pusing,” paparnya.
Dia mengatakan bahwa yang terpenting ketika menghadapi pasien sakit jantung adalah membuatnya dalam posisi duduk tegak, serta jangan ditidurkan, karena ketika pasien sesak kemudian diposisikan terbaring akan membuat beban jantung bertambah karena aliran darah semakin cepat beredar ke jantung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Permendag 19/2026 mewajibkan marketplace memprioritaskan produk lokal tanpa mengatur algoritma platform digital.
PBB dan IOM menyebut lebih dari 500 orang, mayoritas Rohingya, diduga tewas setelah dua kapal dilaporkan tenggelam di Myanmar.
Dewi Mlayu Deso 2026 digelar di Desa Wisata Pentingsari, Sleman, menghadirkan sport tourism, fun run, fun walk.
Pertamina Patra Niaga mengoperasikan terminal dan SPBU 24 jam serta menambah 30 mobil tangki untuk mempercepat normalisasi distribusi BBM di Sumatera Utara.
Prabowo menyebut investasi PSN LNG Abadi Masela senilai US$20,9 miliar akan memperkuat hilirisasi, industrialisasi, dan ketahanan energi Indonesia.
Polisi mengungkap motif ancaman bom di SDN Srengseng Sawah dipicu persoalan seragam sekolah. Pelaku terancam hukuman hingga penjara seumur hidup.