Wamendiktisaintek Minta Kampus Siapkan Lulusan Hadapi AI
Stella Christie meminta perguruan tinggi memahami perkembangan AI, mengevaluasi peran pendidikan, dan memetakan kompetensi lulusan.
Ilustrasi junk food/Magnific
Harianjogja.com, JAKARTA—Konsumsi makanan ultra-proses atau ultra-processed food (UPF) dalam jumlah tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko cedera pembuluh darah otak. Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Network Open, sebagaimana dilaporkan Medical News Today, menemukan tanda-tanda kerusakan tersebut bahkan pada orang dewasa yang tampak relatif sehat.
Perubahan pada otak terdeteksi melalui pemindaian sebelum seseorang menunjukkan gangguan daya ingat maupun kemampuan kognitif. Temuan ini menambah perhatian terhadap dampak pola makan tinggi makanan ultra-proses terhadap kesehatan otak dan pembuluh darah.
Penelitian yang melibatkan 8.783 orang dewasa berusia 35–69 tahun di Kanada itu menunjukkan peserta dengan konsumsi UPF tertinggi memiliki kemungkinan 40% lebih besar mengalami tanda cedera vaskular di otak dibandingkan kelompok dengan konsumsi terendah.
“Salah satu kemungkinannya adalah pola makan yang lebih tinggi makanan UPF berkontribusi pada faktor risiko seperti kelebihan lemak tubuh, lemak viseral, tekanan darah tinggi, diabetes, dan kondisi kardiometabolik lainnya yang dapat memengaruhi pembuluh darah di seluruh tubuh, termasuk yang memasok otak,” jelas Associate Professor Russell de Souza, ScD, RD, dikutip dari Medical News Today.
Dua Penanda Cedera Pembuluh Darah Otak
Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengamati dua penanda, yakni white matter hyperintensities dan silent brain infarcts. Keduanya digunakan untuk melihat perubahan pada otak yang dapat berkaitan dengan gangguan pembuluh darah.
White matter hyperintensities merupakan titik-titik putih terang yang terlihat pada hasil pemeriksaan MRI otak. Jumlahnya kerap dikaitkan dengan peningkatan risiko strok dan penurunan fungsi kognitif.
Sementara itu, silent brain infarcts atau silent stroke merupakan kerusakan jaringan otak akibat terganggunya aliran darah, yang dapat menyebabkan kerusakan atau kematian sel-sel otak. Berbeda dengan strok yang menimbulkan gejala klinis, silent stroke dapat terjadi tanpa gejala yang jelas sehingga penderitanya sering tidak menyadari kondisi tersebut.
Hubungan antara kedua penanda tersebut dan konsumsi UPF terlihat lebih kuat pada perempuan. Peserta perempuan dengan konsumsi makanan ultra-proses tertinggi memiliki kemungkinan hampir dua kali lipat menunjukkan tanda cedera otak dibandingkan kelompok dengan konsumsi terendah.
Temuan ini menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi UPF dan tanda cedera vaskular otak. Namun, hubungan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa makanan ultra-proses secara langsung menyebabkan kerusakan otak.
Konsumsi UPF Juga Dikaitkan dengan Masalah Kesehatan Lain
Makanan ultra-proses merupakan produk yang dibuat melalui pengolahan industri secara ekstensif. Jenisnya beragam, mulai dari minuman kemasan, makanan ringan dalam kemasan, daging olahan hingga berbagai makanan siap saji.
Penelitian yang dilaporkan dalam jurnal The BMJ mengaitkan konsumsi UPF yang tinggi dengan 32 dampak buruk bagi kesehatan. Dampak yang dilaporkan mencakup penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, kanker, serta gangguan kesehatan mental.
Medical News Today juga melaporkan bahwa peserta dengan konsumsi UPF tinggi cenderung memiliki lebih banyak lemak tubuh dan lemak viseral. Lemak viseral merupakan lemak yang menumpuk di sekitar organ-organ dalam.
Kelebihan lemak viseral berkaitan dengan gangguan metabolik dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Tekanan darah tinggi dan diabetes juga dapat memengaruhi pembuluh darah yang memasok oksigen serta nutrisi ke otak.
Selain itu, peserta yang mengonsumsi lebih banyak UPF cenderung makan lebih sedikit buah, sayuran, dan biji-bijian utuh. Karena itu, kualitas pola makan secara keseluruhan juga perlu diperhatikan, bukan hanya jumlah makanan ultra-proses yang dikonsumsi.
Cara Menjaga Kesehatan Pembuluh Darah dan Otak
American Heart Association (AHA), melalui panduan pola makan untuk menjaga kesehatan kardiovaskular, menganjurkan konsumsi makanan yang minim proses, memperbanyak sayur dan buah, memilih biji-bijian utuh, serta membatasi gula tambahan dan natrium.
Langkah tersebut penting karena kesehatan pembuluh darah turut berperan dalam menjaga fungsi otak. Memperbaiki kualitas pola makan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan jantung, pembuluh darah, dan otak dalam jangka panjang.
Temuan penelitian mengenai UPF menjadi pengingat bahwa pola makan sehari-hari perlu diperhatikan. Mengutamakan makanan minim proses dan beragam sumber pangan bergizi dapat membantu mendukung kesehatan secara menyeluruh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Stella Christie meminta perguruan tinggi memahami perkembangan AI, mengevaluasi peran pendidikan, dan memetakan kompetensi lulusan.
Pemkab Kulon Progo menambah alokasi lebih dari 700 tangki air bersih melalui APBD Perubahan 2026 untuk membantu warga terdampak kekeringan.
Labu menjadi simbol Halloween berkat tradisi Irlandia, legenda Stingy Jack, dan kebiasaan mengukir sayuran yang berkembang di Amerika Serikat.
Indomaret menyerahkan empat unit tenda UMKM kepada Pemkab Banyumas untuk mendukung kegiatan promosi produk lokal dan pengembangan usaha kecil.
Sembilan kambing milik warga Bohol, Rongkop, Gunungkidul, ditemukan mati dengan luka gigitan. Kerugian ditaksir mencapai Rp4 juta.
Juventus menghadapi Genoa pada pekan kesembilan Serie A. Simak jadwal pertandingan, kondisi tim, prediksi susunan pemain, dan statistik kedua klub.