Advertisement

Detak Jantung Lambat Bisa Berbahaya, Kenali Gejalanya

Newswire
Kamis, 09 April 2026 - 20:07 WIB
Abdul Hamied Razak
Detak Jantung Lambat Bisa Berbahaya, Kenali Gejalanya Foto ilustrasi. - Ist/Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA — Kondisi detak jantung yang secara konsisten berada di bawah ambang normal perlu diwaspadai karena dapat menjadi tanda gangguan kesehatan serius. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai Bradikardia, yakni ketika denyut jantung kurang dari 60 kali per menit.

Menurut Nityanand Tripathi, kondisi ini kerap tidak disadari karena gejalanya cenderung samar dan sering dikaitkan dengan kelelahan atau proses penuaan.

Advertisement

“Bradikardia seringkali tidak terdeteksi karena gejalanya samar, terjadi secara berkala, atau salah dikaitkan dengan stres, kelelahan, atau proses penuaan alami,” ujarnya, dikutip dari Hindustan Times.

Gangguan Sistem Listrik Jantung

Ia menjelaskan, irama jantung diatur oleh nodus sinoatrial (SA), yakni “alat pacu alami” tubuh. Ketika sistem ini mengalami gangguan, jantung tidak mampu memompa darah kaya oksigen secara optimal ke seluruh tubuh.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi fungsi otak, menurunkan stamina, hingga berdampak pada kesehatan secara keseluruhan.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Bradikardia dapat menimbulkan berbagai keluhan, mulai dari ringan hingga serius. Beberapa gejala yang patut diperhatikan antara lain:

  • Kelelahan berkepanjangan
  • Tubuh terasa lemah tanpa sebab jelas
  • Pusing atau sensasi melayang
  • Kebingungan
  • Sesak napas saat aktivitas ringan
  • Nyeri atau tidak nyaman di dada
  • Pingsan atau hampir pingsan
  • Gejala-gejala tersebut menjadi sinyal penting untuk segera melakukan pemeriksaan medis.
  • Risiko Lebih Tinggi pada Lansia

Tripathi menambahkan, risiko bradikardia meningkat pada usia lanjut, terutama di atas 65 tahun. Hal ini berkaitan dengan penurunan fungsi sistem listrik jantung seiring bertambahnya usia.

Selain itu, penyakit kronis seperti Diabetes, Hipertensi, dan Penyakit Arteri Koroner juga dapat memperbesar risiko.

Sayangnya, pada kelompok lansia, gejala sering kali dianggap sebagai bagian dari proses penuaan sehingga diagnosis menjadi terlambat.

Diagnosis dan Penanganan

Untuk memastikan kondisi ini, dokter biasanya merekomendasikan pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG) guna mendeteksi irama jantung abnormal.

Selain itu, pemantauan menggunakan alat Holter selama 24–48 jam dapat membantu menangkap gangguan yang muncul secara berkala.

Penanganan bradikardia bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya, mulai dari penyesuaian obat hingga terapi lanjutan. Pada kasus tertentu, pasien mungkin memerlukan pemasangan alat pacu jantung.

Deteksi dini menjadi kunci penting agar kondisi ini tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Pencairan JHT Gratis, Peserta Diminta Hindari Calo

Pencairan JHT Gratis, Peserta Diminta Hindari Calo

News
| Kamis, 09 April 2026, 21:07 WIB

Advertisement

Greenhouse Melon Ketitang Jadi Daya Tarik Baru Wisata di Klaten

Greenhouse Melon Ketitang Jadi Daya Tarik Baru Wisata di Klaten

Wisata
| Rabu, 08 April 2026, 20:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement