Advertisement

Lima Kelompok Rentan yang Perlu Diet Rendah Garam

Newswire
Sabtu, 14 Februari 2026 - 17:07 WIB
Maya Herawati
Lima Kelompok Rentan yang Perlu Diet Rendah Garam Ilustrasi. - Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Tidak semua orang wajib menghindari garam, tetapi ada lima penyakit yang harus membatasi konsumsi natrium secara ketat. Dokter spesialis jantung dan transplantasi jantung Dr. Dmitry Yaranov menegaskan, garam bisa menjadi “bahan bakar penyakit” pada kondisi medis tertentu.

Pernyataan tersebut dikutip dari laman Hindustan Times. Menurut Dr. Yaranov, meski garam sering dianggap musuh dalam diet dan tren kesehatan, kenyataannya natrium tetap penting bagi tubuh. Namun, pada kelompok pasien tertentu, konsumsi berlebihan justru memperburuk kondisi medis yang sudah ada.

Advertisement

“Pada tubuh tertentu, garam bukanlah bumbu. Garam adalah bahan bakar bagi penyakit,” katanya.

Kelompok pertama yang harus membatasi asupan garam adalah pasien gagal jantung. Kelebihan natrium dapat memicu retensi cairan, memperparah penumpukan cairan dalam tubuh, meningkatkan frekuensi rawat inap, dan dalam jangka panjang dikaitkan dengan penurunan harapan hidup.

Kedua, pasien hipertensi resisten—yang membutuhkan tiga hingga empat obat untuk menjaga tekanan darah tetap terkontrol—juga sangat rentan terhadap dampak garam.

“Jika tekanan darah Anda membutuhkan tiga hingga empat obat, garam bukanlah 'netral'. Ini adalah sabotase,” ujarnya.

Ketiga, pasien penyakit ginjal kronis umumnya disarankan mengurangi konsumsi natrium. Garam dapat mempercepat penurunan fungsi ginjal dan menyulitkan pengendalian volume cairan dalam tubuh.

Keempat, penderita hipertensi portal akibat sirosis hati perlu waspada. Tekanan darah tinggi pada sistem vena portal dapat semakin memburuk jika terjadi retensi cairan, yang pada akhirnya memperparah asites atau penumpukan cairan di rongga perut.

Kelima, lansia dengan kekakuan pembuluh darah juga berisiko lebih tinggi. Seiring bertambahnya usia, arteri kehilangan kemampuan menangani natrium secara efisien, sehingga konsumsi garam berlebih dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Meski demikian, Dr. Yaranov menekankan bahwa natrium tetap berperan penting dalam fungsi tubuh, termasuk sinyal saraf, kontraksi otot, keseimbangan cairan, serta pengaturan tekanan darah.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menyederhanakan anjuran kesehatan secara berlebihan. Menurutnya, yang terpenting adalah memahami kondisi fisiologis masing-masing individu sebelum membatasi atau mengonsumsi garam secara ekstrem.

“Garam bukanlah musuh bagi semua orang. Garam tidak menghancurkan umat manusia. Saran kesehatan yang terlalu disederhanakanlah yang melakukannya. Natrium itu penting. Saraf. Otot. Pengaturan tekanan darah. Kehidupan,” katanya.

Dengan memahami siapa yang perlu membatasi konsumsi garam—seperti pasien gagal jantung, hipertensi resisten, penyakit ginjal kronis, hipertensi portal, dan lansia dengan kekakuan pembuluh darah—masyarakat dapat mengatur pola makan secara lebih bijak tanpa mengabaikan kebutuhan dasar tubuh terhadap natrium.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Kepulangan Warga Gaza di Rafah Diwarnai Intimidasi dan Pelecehan

Kepulangan Warga Gaza di Rafah Diwarnai Intimidasi dan Pelecehan

News
| Sabtu, 14 Februari 2026, 18:57 WIB

Advertisement

Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan

Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan

Wisata
| Rabu, 11 Februari 2026, 21:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement