Advertisement

Virus Varicella-Zoster Bisa Aktif Kembali, Ancaman di Usia Dewasa

Angel Rinella
Jum'at, 16 Januari 2026 - 19:07 WIB
Maya Herawati
Virus Varicella-Zoster Bisa Aktif Kembali, Ancaman di Usia Dewasa Ilustrasi cacar. - JIBI

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Banyak orang mengira cacar air selesai saat masa kanak-kanak berakhir. Padahal, virus varicella-zoster (VZV) tidak pernah benar-benar pergi dari tubuh. Ia bisa “tidur” selama puluhan tahun, lalu bangkit kembali di usia dewasa dengan dampak yang lebih berat, terutama ketika daya tahan tubuh menurun.

Pada infeksi pertama, virus masuk melalui saluran pernapasan, kemudian menyebar lewat aliran darah hingga memicu ruam berisi cairan yang terasa gatal di kulit. Seiring membaiknya kondisi pasien, gejala cacar air akan mereda. Meski demikian, virus tetap berada di dalam tubuh dalam kondisi tidak aktif.

Virus varicella-zoster menetap di sel-sel saraf, terutama di area tulang belakang dan saraf wajah. Dalam keadaan dorman ini, VZV dapat bertahan selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan keluhan.

Pada kondisi tertentu—seperti penurunan daya tahan tubuh akibat usia, penyakit kronis, stres, atau penggunaan obat imunosupresif—virus dapat kembali aktif. Reaktivasi ini bahkan bisa terjadi puluhan tahun setelah infeksi awal dan lebih sering dialami lansia serta individu dengan sistem imun lemah.

Penularan varicella-zoster terjadi melalui percikan droplet saat batuk atau bersin, serta kontak langsung dengan cairan dari ruam. Seseorang yang belum pernah terinfeksi atau belum mendapatkan vaksin tetap berisiko tertular cacar air dari penderita herpes zoster.

Pada individu dengan sistem imun baik, penanganan infeksi varicella umumnya bersifat suportif. Vaksin varicella direkomendasikan sejak usia 12 bulan sebagai langkah pencegahan untuk menurunkan risiko infeksi berat dan komplikasi jangka panjang.

Jenis dan Gejala Infeksi Varicella-Zoster

Mengutip My Cleveland Clinic, infeksi virus varicella-zoster dapat menimbulkan berbagai kondisi, bergantung pada bentuk infeksi dan area tubuh yang terdampak. Cacar air (varicella) merupakan infeksi primer yang sangat menular dan umumnya terjadi pada masa kanak-kanak, ditandai demam serta ruam berisi cairan yang terasa gatal.

Herpes zoster atau shingles muncul akibat reaktivasi virus, dengan gejala nyeri saraf disertai ruam yang biasanya hanya muncul di satu sisi tubuh. Pada kondisi tertentu, virus dapat menyerang sistem saraf pusat dan memicu meningitis atau ensefalitis yang ditandai sakit kepala berat, demam tinggi, dan gangguan kesadaran.

Reaktivasi virus di area mata dan dahi dikenal sebagai herpes zoster oftalmikus, yang berisiko menyebabkan mata merah, sensitif terhadap cahaya, hingga gangguan penglihatan. Sementara itu, Sindrom Ramsay-Hunt terjadi ketika virus menginfeksi saraf wajah dan dapat memicu kelumpuhan wajah, nyeri telinga, serta gangguan pendengaran.

Gejala infeksi varicella-zoster juga bervariasi, mulai dari demam dan rasa lelah sebagai respons awal tubuh, ruam berisi cairan yang terasa gatal atau nyeri, sensasi terbakar pada kulit sebelum ruam muncul, sakit kepala, mata merah yang sensitif terhadap cahaya, hingga nyeri telinga dan kelumpuhan wajah pada kasus tertentu.

Memahami karakter virus varicella-zoster menjadi kunci kewaspadaan jangka panjang. Vaksinasi, penguatan daya tahan tubuh, dan deteksi dini gejala herpes zoster merupakan langkah penting untuk menekan risiko komplikasi, terutama di usia dewasa dan lanjut usia.

Advertisement

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Bisnis.com

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

KPK Dalami Asal Logam Mulia dalam Kasus Suap Pajak

KPK Dalami Asal Logam Mulia dalam Kasus Suap Pajak

News
| Jum'at, 16 Januari 2026, 21:07 WIB

Advertisement

Tradisi Labuhan Sarangan Magetan Raih Pengakuan WBTb

Tradisi Labuhan Sarangan Magetan Raih Pengakuan WBTb

Wisata
| Jum'at, 16 Januari 2026, 21:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement