Kiandra Ramadhipa Start Kelima di Moto3 Junior Aragon
Kiandra Ramadhipa akan start dari posisi kelima pada dua balapan Moto3 Junior FIM 2026 di Aragon, Minggu (27/9).
Foto ilustrasi makanan cepat saji. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Konsumsi berlebih lemak jenuh dan gula terbukti dapat menurunkan kemampuan otak menavigasi lingkungan, menurut riset yang dipublikasikan di International Journal of Obesity.
Dilansir dari Medical Daily pada Sabtu (4/10/2025), peneliti dari Universitas Sydney menemukan bahwa pola makan yang tinggi lemak jenuh dan gula tidak hanya meningkatkan risiko obesitas dan gangguan kesehatan kronis, tetapi juga dapat menurunkan kemampuan spasial otak, seperti mengenali lokasi, mengingat rute, dan memperkirakan jarak.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam International Journal of Obesity yang menunjukkan dampak lain dari konsumsi makanan cepat saji terhadap fungsi otak.
Dalam penelitian tersebut, sebanyak 55 partisipan berusia muda diminta menavigasi labirin virtual dengan berbagai penanda visual untuk menemukan peti harta karun tersembunyi.
Peserta diberi enam kali kesempatan, masing-masing selama empat menit. Jika gagal, lokasi sebenarnya ditunjukkan selama 10 detik. Pada percobaan terakhir, peti dihapus dari permainan, dan peserta diminta menandai posisinya dari ingatannya untuk mengukur seberapa baik mereka mempelajari rute tersebut.
Selain itu, pola makan para peserta dievaluasi melalui kuesioner, sementara kemampuan memori kerja diuji melalui latihan mengingat angka.
Hasilnya, peserta yang sering mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan gula olahan mengalami kesulitan lebih besar dalam mengingat lokasi peti dibanding mereka yang menerapkan pola makan lebih sehat.
Penelitian ini juga mengindikasikan bahwa pola makan tinggi lemak dan gula dapat memengaruhi fungsi hippocampus yakni bagian otak yang berperan penting dalam navigasi spasial dan pembentukan memori.
“Penelitian ini memberikan bukti bahwa pola makan berperan penting bagi kesehatan otak di usia dewasa muda, masa ketika fungsi kognitif biasanya masih optimal,” kata peneliti dari Departemen Psikologi Fakultas Sains Universitas Sydney Dr. Dominic Tran, yang memimpin riset tersebut.
Meski demikian, para peneliti optimistis bahwa dampak negatif terhadap fungsi kognitif ini dapat diperbaiki melalui perubahan pola makan.
“Kabar baiknya, kami percaya kondisi ini dapat dengan mudah dibalik. Perubahan pola makan dapat meningkatkan kesehatan hippocampus, dan dengan demikian memperbaiki kemampuan kita dalam menavigasi lingkungan seperti saat menjelajahi kota baru atau mempelajari rute pulang,” ujar Dominic.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Kiandra Ramadhipa akan start dari posisi kelima pada dua balapan Moto3 Junior FIM 2026 di Aragon, Minggu (27/9).
KPK menduga sejumlah Kantah di Jatim menyetor uang ke oknum Kanwil BPN Jatim setelah penyidik menemukan uang ratusan juta rupiah.
Blue fire muncul di Kawah Gunung Papandayan. Badan Geologi turun ke lapangan dan mengimbau warga tak beraktivitas dalam radius 500 meter.
Warga Sentolo, Kulonprogo, meninggal setelah masuk gorong-gorong untuk membersihkan sampah yang diduga menyumbat aliran air.
Kaspersky menemukan situs palsu yang menawarkan iPhone 18 dengan harga fiktif. Pengguna diminta waspada sebelum memasukkan data pribadi.
Ratusan peserta membersihkan Pantai Baru Bantul. Gerindra mendorong kebersihan menjadi budaya untuk mendukung pariwisata dan ekonomi hijau.