China Bersiap Pimpin BRICS 2027, Xi Jinping Ajukan 4 Usulan
China siap mengambil alih keketuaan BRICS pada 2027. Xi Jinping mengajukan empat usulan untuk memperkuat kerja sama Selatan Global.
Ilustrasi Kebaya Indonesia - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Hari Kartini selalu mengingatkan kita dengan baju kebaya seperti yang dikenakan RA Kartini. Kini kebaya menjadi ciri khas perempuan Indonesia yang diakui oleh mata dunia.
Kebaya berasal bahasa Arab yang berarti Abaya atau pakaian. Kebaya menjadi daya tarik dan salah satu kebudayaan yang tidak pudar pada setiap zaman. Awalnya, pakaian tradisional ini banyak digunakan oleh perempuan di sekitar Jawa.
Dilansir dari Seasia.co, Sabtu (20/4/2024) Kerajaan Majapahit menjadi tempat munculnya kebaya pada abad ke-15 dan ke-16. Bentuk awal mula dari kebaya sama persis dengan pakaian yang digunakan oleh wanita portugis yang tiba di Selat Malaka dari Sumatera Barat laut Indonesia.
Pada masa itu, kebaya banyak digunakan oleh bangsawan. Tidak semua orang dapat mengenakan busana kebaya setiap harinya, melainkan digunakan pada perayaan tertentu saja. Memasuki abad ke-17 dan ke-19, baru semua masyarakat dapat menggunakan kebaya dalam kegiatan sehari-hari.
Abad ke-17 dan 19 dibarengi dengan hubungan diplomatik dan politik yang kian membaik. Hal ini yang menyebabkan penggunaan kebaya merebak hingga wilayah Sulawesi, Bali, Sulu, dan lainnya.
Kebaya juga dipengaruhi oleh unsur budaya China dan Arab. Identik dengan lengan panjang dan bagian kerah yang terbuka, merupakan kombinasi yang khas dari kebaya.
BACA JUGA: Hari Kartini 21 April, Ini Ide Ucapannya untuk Dikirim dan Dipasang di Media Sosial
Hingga saat ini penggunaan kebaya banyak digunakan dari kalangan muda hingga orang dewasa. Kebaya disandingkan dengan kain lilit batik yang melingkar di sekitar tubuh.
Kebaya selalu dikaitkan dengan perkembangan zaman yang kian berkembang. Semakin maju dunia fashion di Indonesia, maka semakin berkembang pula jenis kebaya yang dihasilkan. Kebaya modern menjadi salah satu bukti bahwa penggunaannya tidak luput oleh zaman.
Pelestarian kebaya ini sempat dimeriahkan oleh acara Istana Berkebaya yang menghasilkan busana kebaya asli Indonesia dari bentuk tradisional hingga modern. Acara ini menjadi bukti sekaligus mewujudkan keindahan kebaya khas Indonesia yang dapat disajikan oleh wanita-wanita hebat di Indonesia. (Sumber: Bisnis.com) https://lifestyle.bisnis.com/read/20240420/104/1759003/pahami-sejarah-kebaya-seiring-perkembangan-zaman
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
China siap mengambil alih keketuaan BRICS pada 2027. Xi Jinping mengajukan empat usulan untuk memperkuat kerja sama Selatan Global.
Empat wisatawan terseret ombak Pantai Jungwok Gunungkidul saat hendak berfoto. Seorang wisatawan asal Solo meninggal dunia.
Kemenhub mendirikan posko darurat di Pelabuhan Trisakti untuk menangani insiden Kapal Virgo Transport 8 yang hilang kontak di Masalembo.
DPRD DIY mendorong penanganan kekeringan melibatkan seluruh OPD, tidak hanya BPBD, dengan dukungan koordinasi dan anggaran memadai.
Debit Sungai Tinalah Kulonprogo surut saat kemarau. Kondisi ini membuat wisata keceh diminati, tetapi wisatawan diminta tetap waspada.
Kejagung mengungkap Ferry Boboho mengembalikan Rp5 miliar pada Agustus 2026. Uang itu bagian dari Rp40 miliar Tan Kian.