Trump Sebut Iran Bisa Tingkatkan Aksi Jelang Pemilu AS
Donald Trump memperkirakan Iran dapat meningkatkan aksinya menjelang pemilu paruh waktu AS di tengah konflik dan ketegangan di Selat Hormuz.
Buah Naga. /Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Kebiasaan memberikan makanan dan minuman yang manis dapat meningkatkan peluang anak mengalami penyakit. Untuk itu ahli gizi menyarankan untuk memberikan buah sebagai pengganti makanan dan minuman manis.
"Manis itu sebaiknya kita arahkan dengan buah. Karena buah itu rasa manisnya berbeda dengan rasa manis artifisial atau rasa manis yang berasal dari makanan-makanan dengan imbuhan gula pasir misalnya," ujar ahli gizi masyarakat Tan Shot Yen dalam siaran berjudul Yang Manis Anaknya, Bukan Makanan dan Minumannya yang ditayangkan di akun Instagram resmi Kementerian Kesehatan di Jakarta, Rabu (7/2/2024).
Menurut dokter tersebut, orang Indonesia senang makanan manis, karena merangsang otak untuk memproduksi hormon dopamin dan serotonin. Hormon tersebut, ujarnya, membuat seseorang kecanduan, sehingga mereka selalu ingin makan yang manis-manis. Dia menjelaskan, bagi sebagian orang, rasa manis tersebut menjadi semacam reward bagi diri mereka.
"Kalau misalnya ada orang lagi jengkel carinya cokelat, carinya permen, carinya es krim. Enggak ada yang cari karedok ya," katanya.
Baca Juga
Kebiasaan Konsumsi Makanan Manis Anak dan Remaja Masih Tinggi
Masalah Gizi Karena Keburu Mengenal Rasa Manis
Kebiasaan Minum Susu Kental Manis Pada Anak, Apa Konsekuensinya?
Menurutnya, apabila anak-anak tersebut mengonsumsi gula secara berlebihan, akan ada beberapa efek, yang dia sebut sebagai 5K. "K yang pertama tentu adalah kegemukan. Kegemukan dari gulanya dan kegemukan dari makanan yang terlalu banyak dikonsumsi," katanya.
K yang kedua, ujarnya, adalah kolestrol. Dia mengatakan efek ini terlihat terutama pada orang dewasa. Dan k yang ketiga, tambahnya, adalah kanker.
"Kita sudah tahu bahwa orang-orang yang gemuk, orang-orang yang obese itu cenderung mempunyai risiko kanker menjadi lebih besar," ujarnya.
K yang keempat, katanya, adalah keropos tulang, seperti yang sering dilihat pada ibu-ibu yang mengeluhkan dengkulnya sakit, kemudian mengetahui mereka terkena osteopeni atau osteoporosis.
Menurut Tan, K yang terakhir adalah ketagihan. "Jadi satu sendok teh gak cukup, satu sendok makan. Satu sendok makan enggak cukup, dua sendok makan. Dan akhirnya setiap kali makan mesti manis. Bahkan kalau minum air putih rasanya gak ada rasanya. Ini kan serem banget gitu lho," katanya.
Dia menjelaskan apabila orang tua ingin memberikan penghargaan bagi anak, ada sejumlah alternatif lain. Dia mencontohkan penghargaan bisa berbentuk pujian atau pelukan. Atau, jika misalnya anak tersebut sudah dapat memegang sesuatu, dapat diberikan mainan-mainan seperti blok-blok untuk merangsang kemampuan motoriknya. "Yang perlu disimulasi adalah motorik sensoriknya, bukan yang disimulasi adalah rasa ingin makan gula lebih banyak," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Donald Trump memperkirakan Iran dapat meningkatkan aksinya menjelang pemilu paruh waktu AS di tengah konflik dan ketegangan di Selat Hormuz.
Manunggal Fair Kulonprogo 2026 dikunjungi lebih dari 104.000 orang dengan perputaran transaksi Rp7,4 miliar. Alun-Alun Wates dibersihkan usai acara.
Harga minyak Indonesia mencapai US$91,9 per barel. Suahasil Nazara mengantisipasi kenaikan subsidi dan kompensasi energi yang menekan APBN.
Ditjenpas Jawa Barat memindahkan 120 warga binaan Rutan Depok ke Nusakambangan setelah kasus dugaan pesta sabu mencuat di media sosial.
KBRI Riyadh menyatakan belum ada laporan WNI menjadi korban serangan Bandara King Khalid. Sebanyak 12 orang meninggal dan 309 terluka.
Prabowo dan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi membahas kerja sama perdagangan, investasi, industri pertahanan, serta dukungan untuk Palestina.