Pajak Kendaraan Jateng Nunggak Rp2,4 Triliun, Ini Datanya
Kepatuhan PKB di Jateng baru 54%. Dari 17 juta kendaraan, tunggakan pajak mencapai Rp2,4 triliun dan opsen Rp900 miliar.
Ilustrasi saraf kejepit./Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Kaum rebahan atau orang yang jarang bergerak disinyalir lebih rentan mengalami saraf kejepit atau pinched nerve, yakni kondisi dimana saraf terjepit, tertekan, atau mengalami tekanan berlebihan di sepanjang jalur normalnya.
Hampir semua bagian tubuh dapat mengalami saraf terjepit antara lain termasuk tulang belakang, leher, bahu, lengan, pinggul, atau kaki.
Hubungan antara kaum rebahan dengan risiko terjadi saraf terjepit ini dijelaskan oleh I Made Buddy seorang spesialis Ortopedi & Traumatologi. Dimana minimnya gerakan atau kegiatan fisik mengakibatkan otot-otot menjadi lemah dan kaku sehingga meningkatkan risiko saraf terjepit.
“Jarang gerak ini berarti memiliki arti yang sama dengan jarang olahraga. Semua gerakan yang ada di tubuh kita baik itu sendi perlu itu perlu exercise demi mencegah penuaan diri,” ujar sang spesialis tulang belakang melansir dari Bisnis-jaringan Harianjogja.com.
Buddy melanjutkan, jarang gerak atau kurangnya aktivitas fisik yang cukup dapat menyebabkan penuaan dini pada tulang serta meningkatkan risiko osteoporosis, suatu kondisi tulang menjadi rapuh, tipis, dan rentan terhadap patah tulang.
Baca juga: Long Weekend di Jogja, Ada Kotabaru Selain Malioboro Lho
Berbagai perubahan pada tubuh dapat terjadi akibat penuaan dini, salah satunya bantalan tulang belakang disebut juga sebagai diskus intervertebralis, berfungsi memberikan fleksibilitas dan penyerapan kejutan saat bergerak.
Diskus intervertebralis akan mengalami degenerasi dan kehilangan elastisitasnya seiring bertambah usia, hingga akhirnya diskus menjadi lebih rapuh serta rentan terhadap kerusakan atau herniasi.
Herniasi diskus kondisi saat inti jaringan dalam diskus menonjol keluar lewat retakan atau robekan pada lapisan luar diskus. Herniasi yang terjadi di dekat saraf tulang belakang, akan menambah tekanan pada saraf lalu menyebabkan saraf terjepit.
Akibat penuaan lain pada orang yang lebih dewasa dapat pula menyebabkan perubahan pada jaringan tulang belakang, seperti pengapuran sendi (osteoartritis) atau peningkatan kekakuan pada tulang belakang yang ikut andil meningkatkan risiko saraf terjepit.
Namun, perlu diperhatikan bahwa kondisi seperti herniasi diskus atau saraf terjepit tidak hanya berkaitan dengan penuaan dini, tetapi juga berpotensi dialami berbagai kelompok usia.
Buddy menambahkan terdapat banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi risiko terjadinya saraf kejepit seperti faktor genetik, gaya hidup, dan cedera sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Kepatuhan PKB di Jateng baru 54%. Dari 17 juta kendaraan, tunggakan pajak mencapai Rp2,4 triliun dan opsen Rp900 miliar.
Kebakaran rumah di Sragen diduga akibat korsleting listrik. Uang Rp50 juta dan dua sepeda gunung hangus, dua anggota keluarga jadi korban.
MBG di SMKN 2 Jogja dihentikan sementara setelah 413 warga sekolah diduga keracunan. Sampel makanan dan air masih diperiksa di laboratorium.
Kemenhaj mempertimbangkan maskapai alternatif untuk menekan biaya haji 2027. Biaya penerbangan mencapai 40% dari total BPIH.
Direktur BYAN Alastair McLeod menjual 185.200 saham senilai Rp2,47 miliar menjelang rencana masuknya Jhonlin Group sebagai pemegang 30% BYAN.
BMKG memprakirakan hujan ringan hingga lebat di sejumlah daerah Rabu. Gelombang hingga 4 meter juga berpotensi terjadi di sejumlah perairan.