Advertisement

Ancaman Resesi 2023, Ini Tips Merencanakan Keuangan

Sirojul Khafid
Selasa, 20 Desember 2022 - 10:47 WIB
Bhekti Suryani
Ancaman Resesi 2023, Ini Tips Merencanakan Keuangan Foto ilustrasi. - Ist/Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA— Terlepas dari benar tidaknya proyeksi apabila tahun 2023 akan terjadi resesi, mempersiapkan kemungkinan terburuk tentu tidak ada salahnya. Salah satunya dengan mempersiapkan perencanaan keuangan.  

Perencana keuangan, Prita Hapsari Ghozie, membagikan kiat-kiat sederhana bagi masyarakat agar bisa menjaga kondisi finansial pribadi maupun keluarga, tetap stabil dalam menghadapi ancaman resesi 2023.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

"Pertama harus selalu miliki dana darurat yang cukup, tempatinnya di mana? Tempatkan di tempat yang likuid seperti tabungan biasa, reksadana pasar uang, atau bisa di deposito tanpa penalti," kata Prita, dikutip dari Antara.

Dengan memiliki dana yang likuid, apabila terjadi sesuatu yang di luar perencanaan keuangan di masa ketidakpastian, maka pemilik dana bisa mengambilnya tanpa perlu kesulitan akses.

Kiat kedua yang disarankan Prita untuk menghadapi ancaman resesi global 2023 ialah merendahkan angsuran dan cicilan. Pemilik dana sebaiknya mengambil keputusan untuk mengangsur atau mencicil dengan lebih bijak mengingat adanya kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga.

BACA JUGA: Harga Beras Naik, Mentan: Sekali-kali lah Enggak Apa-apa

"Tahun 2023 itu ditakuti orang-orang karena potensi naiknya suku bunga. Apalagi untuk suku bunga yang floating itu bisa mengubah kondisi keuangan kita. Bisa jadi yang tadinya keuangannya sehat malah menjadi tidak baik," katanya.

Selanjutnya untuk kiat ketiga, Prita menyarankan agar masyarakat bisa lebih aktif menabung jika memiliki dana berlebih. Sesuaikan profil risiko dengan instrumen untuk menabung.

Misalnya anda termasuk orang yang takut berinvestasi di saham karena kenaikan atau turunnya harga saham, maka anda bisa memilih investasi deposito atau reksadana pasar uang.

Di tengah masa ketidakpastian, masih tetap ada peluang ekonomi yang bisa tercipta dan justru dapat menjadi momen seseorang untuk menata keuangannya menjadi lebih optimal. Meski begitu, Prita mengingatkan masyarakat agar bisa berinvestasi di pihak resmi atau telah diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Perlu diingat hindari tawaran-tawaran investasi yang terkesan memberi keuntungan dalam waktu instan. Ketika untungnya besar dan terasa tidak masuk akal itu harus ditolak jauh-jauh," tutupnya.

Tanda Kondisi Uangmu Sehat

Kondisi keuangan yang sehat menjadi salah satu dambaan seseorang, terutama saat sedang merencanaan keuangan. Prita Hapsari Ghozie menyebutkan untuk mengetahui kondisi keuangan yang sehat, setidaknya ada tiga indikator penting yang bisa diperhatikan.

"Untuk mengetahui kondisi keuangan yang sehat, hal yang paling penting untuk dilakukan adalah melakukan evaluasi keuangan," kata Prita.

Saat melakukan evaluasi keuangan, anda bisa mulai dengan menakar beberapa aspek seperti komitmen keuangan yang terdiri dari cicilan atau tagihan rutin.

Ada juga aspek status keuangan yang menandakan status seseorang dalam hal penggunaan uang. Apakah penggunaan uang itu sebagai tulang punggung keluarga atau tidak memiliki tanggungan. Setelah itu, bisa berlanjut dengan menghitung arus kas bulanan untuk kemudian mendapatkan konklusi dari evaluasi keuangan.

Keuangan yang sehat akan terlihat jika arus kas bernilai positif. Sebaliknya, keuangan yang tidak sehat ditandai dengan nilai negatif. Indikator kedua untuk memastikan kondisi keuangan sehat ialah angsuran tidak boleh di atas 30 persen dari pemasukan.

Prita membagikan rumus sederhana agar seseorang bisa mengetahui kadar angsuran yang ideal. Jumlah angsuran tiap bulan dibagi dengan jumlah pemasukan tiap bulan lalu dikali dengan 100 persen.

Jika ternyata angsuran anda melebihi batas ideal, maka ada baiknya tidak mengambil cicilan tambahan dan segera melunasi cicilan tersebut agar bisa menyehatkan kembali kondisi finasialnya.

Terakhir, indikator keuangan sehat ditandai dengan seseorang mampu menabung dari penghasilannya. "Ciri orang yang mampu menabung itu setiap bulan dia bisa menambah asetnya hingga 10 persen dari total penghasilannya," kata Prita.

Ia mencontohkan untuk orang yang tengah fokus menyiapkan dana pendidikan, maka setiap bulannya jumlah dana tersebut bertambah sebesar 10 persen hingga targetnya tercapai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Ingin Temui Megawati, Surya Paloh: Kita Kasih Kode-Kode Dulu

News
| Rabu, 01 Februari 2023, 16:17 WIB

Advertisement

alt

Seru! Ini Detail Paket Wisata Pre-Tour & Post Tour yang Ditawarkan untuk Delegasi ATF 2023

Wisata
| Rabu, 01 Februari 2023, 14:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement