Nakhodai Kesbangpol DIY, Lilik Gencar Koordinasi Internal dan Eksternal
Lilik Andi Aryanto, S.IP., M.M, secara resmi menahkodai Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY. Lilik dilantik oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X pad
Ilustrasi emosi./Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA-Seseorang yang merasakan emosi merupakan hal yang wajar. Dianggap tidak wajar saat emosinya berlebihan. Untuk itu perlu dikelola agar tidak menimbulkan kerugian untuk diri sendiri dan lingkungan sekitar.
Psikolog UGM, Sutarimah Ampuni, S.Psi., M.Si., MPsych., menyampaikan pentingnya bagi setiap orang untuk belajar mengelola atau meregulasi emosi agar bisa terekspresikan secara wajar dan sehat. Mengekspresikan emosi dengan pas sehingga tidak menimbulkan efek buruk bagi diri sendiri dan orang lain.
"Emosi perlu dikelola, mengekspresikannya dengan sehat dan pas. Tidak menahan-nahan namun juga tidak meledak-ledak,"terangnya.
Lebih lanjut ada sejumlah strategi dalam mengekspresikan emosi, yakni:
- Menahan/menekan emosi.
Misal saat berduka menahan rasa duka karena tidak ingin terlihat lemah dan berduka dihadapan orang lain. Sebenarnya strategi ini kurang bagus karena kalau terlalu menahan akan berbahaya. Ibarat botol yang diisi air soda dan ditutup rapat suatu saat akan meledak, begitu juga dengan emosi.
Baca juga: Cara Cepat Hilangkan Marah
- Merenung
Cara mengelola emosi salah satunya dengan merenung. Kita butuh waktu untuk diam dan menyendiri.
- Agresif
Berikutnya, mengekspresikan emosi secara berlebihan atau agresif. Misalnya, marah-marah dan berperilaku kasar serta merugikan orang lain.
Cara Kelola Emosi
Ampuni mengatakan tidak semua emosi harus diekspresikan atau dilepaskan. Namun harus selektif dalam melepas dan menahan emosi.
"Harus pilih-pilih, kadang harus melepas dalam ukuran yang pas, tetapi kadangkala harus menahan," urainya.
Terdapat beberapa cara dalam mengelola emosi:
Memilih akan merasakan emosi atau tidak. Misalnya, setiap melihat dialog politik di TV kita mudah tersulut amarahnya. Maka sebaiknya hal tersebut dihindari. Sebelum melakukan pemilihan situasi, kita harus punya self awareness mengenai emosi kita sendiri. Aware apa yang membuat kita marah, kecewa dan lainnya.
Sebagai contoh, saat kita merasa galau dan sendu bisa menata ulang kamar agar lebih bersemangat.
Mengubah dalam diri sendiri salah satunya dengan mengubah pemikiran terhadap suatu persoalan. Misalnya, saat diputuskan pacar pasti merasa sedih. Untuk mengurangi kesedihan bisa berpikir mungkin itu bukan jodoh saya, mungkin nantinya saya bisa mendapat yang lebih baik lagi. Coba memberikan pengaruh dan ubah pikiran negatif menjadi positif/lebih optimistis.
Misal dengan melihat tayangan komedi, jalan-jalan atau melakulan hobi untuk mengalihkan emosi.
Mengambil jarak dari emosi yang dirasakan. Contohnya, ketika marah tidak langsung diekspresikan dengan berdiam diri dulu dan lainnya. Mengambil jarak ini juga bisa dengan mensugesti diri, seperti hari ini aku sudah banyak emosi negatif sekarang akan memberi kesempatan tubuh dan pikiran untuk istirahat serta tidak memberi kesempatan bagi emosi negatif menguasai waktu yang ada,"paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lilik Andi Aryanto, S.IP., M.M, secara resmi menahkodai Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY. Lilik dilantik oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X pad
KPK menangkap 17 orang dalam OTT di lingkungan Imigrasi. Eks Plt Dirjen Imigrasi dan Kakanwil Jabar turut diamankan.
Kejagung menggeledah kantor BGN dan rumah para tersangka kasus MBG serta menyita dokumen, ponsel, dan laptop sebagai barang bukti.
Dinkes Sleman merespons laporan dugaan malapraktik RSUD Prambanan ke Polda DIY terkait meninggalnya balita usai menjalani tindakan medis.
Prabowo menegaskan Program Makan Bergizi Gratis harus berhasil dan meminta seluruh pelaksana MBG mengutamakan kepentingan rakyat.
Menlu Sugiono memastikan belasan duta besar asing akan menyerahkan kredensial kepada Presiden Prabowo dalam waktu dekat.