Sembuh atau Berdamai? Cara Baru Memahami Penyakit Kronik
Makna sehat kini bergeser. Tak selalu sembuh total, penyakit kronik menuntut adaptasi dan cara hidup baru.
Sandyakala Ratu Malang/Harian Jogja-Hengki Irawan
167
Ombak bercanda dengan batu karang, kadang seolah membelai mesra, tapi di kesempatan lain menghantam dengan suara menggelegar lalu air muncrat ke atas mencipta warna pelangi. Di sepanjang tepian pulau, air laut membuih putih. Dinding batu karang yang tersebar itu bentuknya aneh-aneh, berlubang-lubang seperti perkampungan para iblis penjaga pulau. Darsi bergidik.
Setelah dekat dengan daratan yang berbatu tajam, Darsi mempercepat luncuran papan itu dengan mengayuh sekuatnya. Mendadak matanya memandang air laut dengan muka pucat. Bibir Darsi bergetar,
“Ular..” Banyak sekali ular berenang di dekatnya. Beda dengan laticauda, varian belcher (hydrophis belcheri) yang bermuasal dari famili Elapidae merupakan ular laut paling mematikan di dunia, bahkan (konon) setetes bisa dari ular belcher dapat membunuh manusia hitungan menit.
Ular-ular itu marah karena ada makhluk asing mengusik habitatnya. Ada empat ekor ular sebesar jari telunjuk melompat ke papan kayu. Darsi tidak mampu menghindar. Seekor ular yang paling besar menggigit leher Darsi, dua ekor lainnya mengerkah tangan dan seekor lagi menokak kakinya.
“Aduh!” Digigit empat ekor ular belcher, Darsi serasa disengat halilintar. Muka pucatnya berubah merah padam. Ia seperti gila. Mulutnya tertawa, menangis, lalu dengan beringas tangan kanan Darsi merenggut ular yang menempel di lehernya, kemudian didekatkan mulut, dan ular nahas itu digigit lalu dimakan dengan lahap. Matanya merem melek. Darsi tertawa lalu menangis sambil memegangi bangkai ular. Bibirnya berlepotan darah. Tiga ekor ular masih bergantungan di tangan dan kakinya.
Darsi kini benar-benar gila. Ia berlari ke sana sini, terhuyung-huyung sambil makan ular. Tiga ekor ular yang tadi mengerat tangan dan kakinya bernasib buruk. Semua disantap sepotong sepotong. Sekarang bibir dan muka Darsi penuh darah hingga dagu serta kedua tangannya.
“Panas. Panas sekali. Modar aku.”
Darsi sempoyongan tanpa arah. Pemandangan saat itu sangat menggiriskan bahkan iblis pun mungkin ketakutan melihatnya. Darsi tersaruk-saruk tanpa sengaja menuju tengah pulau ular yang menyerupai bukit. Ia tidak sadar apa yang dilakukannya.
Paras Darsi berubah-ubah. Sesaat mukanya pucat pasi seperti orang mati; tapi beberapa waktu kemudian berubah merah magenta. Matanya melotot liar. Napasnya kadang megap-megap namun tangannya dengan kuat menggenggam bangkai ular. Ia terus mengunyah sambil tertawa.
Darsi sampai di depan mulut gua yang menjadi sarang ular helcher. Belum habis daging ular keempat masuk tenggorokannya, Darsi terguling. Pingsan.
Kita takjub mengikuti perjalanan Darsi yang penuh variasi. Ia penyintas jantung koroner, bahkan diperberat dengan raja singa. Ia hanyut dipermainkan gelombang ganas samudra. Digigit ular super berbisa macam helcher. Lalu makan mentah-mentah empat ekor daging ular. Peristiwa demi peristiwa tidak membuatnya meregang nyawa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Makna sehat kini bergeser. Tak selalu sembuh total, penyakit kronik menuntut adaptasi dan cara hidup baru.
Kemenkes mengintegrasikan skrining kanker usus dalam Program Cek Kesehatan Gratis. Sebanyak 11.000 hasil positif ditemukan dari peserta skrining.
Harga iPhone di iBox pada Mei 2026 mayoritas naik. iPhone 15 dan iPhone 17 mencatat kenaikan terbesar, sementara iPhone 14 justru turun.
Stellantis menarik 419.035 unit Jeep Grand Cherokee di AS akibat gangguan software yang berpotensi menghambat pengembangan airbag samping saat kecelakaan.
Seekor ular kobra sepanjang 1,2 meter dievakuasi dari rumah warga di Prambanan, Klaten. Polisi mengimbau warga tidak menangkap ular sendiri.
Grand Hotel De Djokja memperkenalkan wajah baru hotel yang menggabungkan kemewahan modern dengan nilai-nilai sejarah yang telah melekat sejak berdiri pada tahun